Friday, May 6, 2011

Kisah Hee Ah Lee : Pianis dengan 4 Jari, Mengajarkan Bahwa Love is Everyting




Hee Ah Lee, Si Pianis dengan Empat Jari

Kalau ada kisah memilukan yang memberikan banyak inspirasi bagaimana cinta ibu bisa membalikkan keterbatasan menjadi tenaga yang luar biasa besar dalam mencapai kesuksesan, kisah Hee Ah Lee lah salah satunya. Hee Ah Lee adalah anak muda Korea yang lahir dalam keadaan cacat. Ia menderita penyakit Lobster Claw Syndrome. Akibatnya, kedua jari tangannya hanya terdapat dua jari yang menyerupai capit kepiting. Lebih menyedihkan lagi, kakinyapun hanya sebatas lutut.

Ibu mana yang tidak pilu menyaksikan anaknya lahir dengan cacat begitu rupa. Seorang anak yang dilahirkannya dan digadang-gadang bisa menjadi permata hati lahir dalam keadaan cacat. Di sinilah peran dan cinta ibu menjadi sangat menentukan. Sang ibu, Woo Kao Sun, tidak putus asa, dengan tabah dan sabar, dididiknya Hee Ah Lee dengan penuh cinta dan kesungguhan. Ia harus membanting tulang menghidupi Hee Ah Lee seorang diri, karena ayah Hee, seorang pensiunan tentara, telah tiada saat Hee masih kecil.

Kepiluan itu bertambah-tambah, saat sang ibu mengetahui, bahwa tidak hanya kaki dan tangannya yang cacat, Hee Ah Lee juga mengalami keterbelakangan mental. Iapun tidak bisa bersekolah di sekolah umum, dan harus bersekolah di sekolah luar biasa. Bersama kawan-kawannya senasib yang mengalami keterbelakangan mental, Hee Ah Lee tetap bersemangat menjalani kehidupannya.

Sang ibu, juga mendidiknya seperti anak-anak yang lain. Ia tidak menganggap anaknya berbeda sehingga mengharuskannya memanjakan pendidikan Hee Ah Lee. Hee Ah Lee dididik untuk bisa menjadi putri yang mandiri dan percaya diri. Diajarkannya berbagai keterampilan hidup sehari-hari, untuk mandi, makan, ganti baju, bebelanja, dan melakukan berbagai hal sendiri, tanpa harus menunggu bantuan orang lain.

Begitulah, walaupun dengan segala keterbatasan yang ada, Hee Ah Lee tumbuh menjadi gadis kecil yang mandiri. Gadis kecil dalam arti sesungguhnya, karena tinggi dan berat tubuhnya yang seharusnya seperti remaja, tetapi hanya tumbuh sebagaimana anak-anak kecil. Tetapi sungguh, kasih sayang dan didikan ibunya tetap membuat Hee Ah Lee tegar menghadapi hidup.

“Terlahir cacat bagiku merupakan anugerah spesial dari Tuhan, ” ujar Hee seperti dikutip dalam buku “The Four Fingered Pianist”. Lambat laun, cacat dan kekurangan hidup tidak lagi menjadikan Hee Ah Lee rendah diri, tetapi hal itu diterima sebagai sebuah anugerah Tuhan. Ya, anugerah karena dari situlah ternyata memunculkan satu potensi yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Ibunya Woo Kap Sun sangat menyayangi buah hatinya. Apapun dilakukannya agar Hee Ah Lee tumbuh menjadi gadis yang mandiri, sama seperti teman sebayanya. Dari situlah, potensi bermain piano ternyata tumbuh dari gadis cacat yang terbelakang mental ini. Ya, sebuah anugerah yang tidak terduga.

Pada awalnya, bermain piano hanyalah saran dari seorang terapisnya agar motorik tangan dan kaki Hee Ah Lee bisa terus bergerak seperti kebanyakan teman-teman lainnya. Bermain musik juga diharapkan menumbuhkan kecerdasan musikal yang bisa jadi merupakan keunggulannya karena di beberapa kecerdasan lain Hee Ah Lee tidaklah menonjol.

Dan masalah itupun dimulai. Belajar memainkan piano untuk anak dengan empat jari bukanlah hal mudah. Tidak ada satupun piano di dunia ini dengan nada yang diperuntukkan bagi orang yang berjari empat. Semuanya diperuntukkan bagi orang yang berjari 10. Karena itulah, pada tahun-tahun pertama, belajar bermain piano menjadi siksaan yang sangat berat buat Hee Ah Lee.

Seperti anak-anak yang lain, gadis kelahiran 9 Juli 1985 itupun sering merajuk dan bahkan hampir berputus asa saat belajar bermain piano. Pada tahun pertama, Hee Ah Lee dengan perjuangan yang sangat keras, hanya bisa menghafalkan satu buah lagu selama satu tahun. Itupun diselingi dengan ngambek, berhenti latihan, berguling-guling, menangis, dan berbagai keputusasaan karena memang pianonya tidak didesain untuk orang dengan empat jari.

Di sinilah, peran sang Ibu, Woo Kap Sun sangat penting. “Bagiku, Hee adalah segalanya, ” demikian ucap Woo Kap Sun. Dengan sabar, ditemaninya Hee Ah Lee berlatih piano, menarikan jari-jarinya di atas tuts piano, dan menaikkan pedal piano agar sesuai dengan kaki Hee Ah Lee yang memang pendek. Semua hal ia lakukan demi masa depan buah hatinya tersayang.

Ia tidak pernah berputus asa, karena ia tahu, masa depan anaknya sangat tergantung atas apa yang dilakukannya hari ini. Jika ia menyerah kepada keadaan, maka akan habislah masa depan anaknya. Karena itulah, rintangan apapun yang ia dapatkan, ia tidak mempedulikannya, semuanya demi satu hal: masa depan anaknya.

Selesai menghapalkan satu lagu, Hee Ah Lee yang belajar piano di National College of Rehabilitation & Welfare mulai mampu mengatasi segala keterbatasannya. Jarinya yang hanya dua di setiap tangan ternyata mampu menekan tuts berurutan secara cepat dan tepat. Dari hari ke hari, permainannya semakin baik. Sehingga lambat laun, ia mulai berani untuk memainkan berbagai lagu dengan komposisi yang mulai rumit.

Untuk menambah percaya diri putrinya, sang Ibu mengajaknya untuk mulai tampil di depan umum. Ibunya juga mengajarkan untuk belajar berpidato di depan umum, sehingga seiring waktu, Hee Ah Lee mulai berani tampil dan berbicara di depan publik. Seiring dengan permainan pianonya yang semakin memikat, Hee Ah Lee mulai tampil dalam berbagai konser yang lebih besar.

Semangat kerja keras dan pantang menyerah yang diwariskan sang ibu, ternyata menular pada Hee Ah Lee. Setiap hari, ia berlatih keras selama 10 jam untuk bisa memainkan komposisi berbagai komponis dunia yang rumit. Dengan latihan bertahun-tahun, akhirnya Hee Ah Lee bisa menguasai dan memainkan dengan sangat baik berbagai karya mereka. Dan dari situ, dimulailah konser The Four Finger Pianist ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, Hee Ah Lee menggelar tour konser di gedung Balai Kartini, Jakarta, 31 Maret 2007 dengan tema: Sharing the Strength of Love. Ya, Hee Ah Lee datang dengan kekuatan cinta, karena dia yakin, sesulit apapun kondisinya, cinta bisa menemukan jalan keluarnya. Hee Ah Lee datang untuk konser kedua kalinya di Indonesia, 8 Agustus 2009, dengan mengambil tema: Dream the Impossible Dream. Ah, sebuah judul konser yang sangat membangkitkan.

Konser yang kedua ini memang ditujukan bagi kawan-kawan Hee Ah Lee yang senasib, sama-sama cacat ataupun terbelakang mentalnya. Semuanya ia gerakkan untuk tidak takut bermimpi, walaupun mimpi itu terasa tidak mungkin. Tetapi dengan keyakinan dan kerja keras, ia meyakinkan kawan-kawan senasibnya, bahwa tidak ada mimpi yang tidak bisa dicapai.

Dan itu semua, terwujud karena CINTA. Cinta ibu kepada anaknya, yang menginginkan anaknya walaupun lahir dengan keterbatasan, walaupun lahir dengan ketidaksempurnaan, walaupun lahir dengan cacat, tetap tumbuh menjadi orang yang berguna, dan bisa mengembangkan potensinya. Cinta itu yang membuatnya sabar mengantar anaknya belajar di sekolah luar biasa, menemani anaknya bertahun-tahun belajar bermain piano, walaupun ia tahu, hal itu tidaklah mudah.

Dan di tengah-tengah konser anaknya, di tempat-tempat yang begitu megah, di tengah-tengah tepuk tangan meriah dari para hadirin karena terpukau dengan permainan piano Hee Ah Lee, ia sering menitikkan air mata. Segala buah kesabaran yang selama ini ia lakukan telah ia petik. Ia tahu, ia begitu sayang dengan puterinya………


Buah hasil dari Cinta, Kasih dan sayang.... yang sangat tak terhingga....membuktikan anugerah yang didapat adalah kebahagiaan yang sempurna....


Cintai & sayangilah orang-orang terdekat anda sekarang juga....sebelum terlambatt...


Semoga Bermanfaatt.....!!!!





Review : edukasi.kompasiana
Tags : kisah hee ah lee, kisah pianis dengan empat jari, kisah penuh inspirasi, kisah-kisa inspirasi, kisah-kisah cinta, kisah cinta mengalahkan segalanya, kisah seorang pianis dengan empat jari dari korea yang bernama hee ah lee

No comments:

Post a Comment