Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Monday, June 20, 2011

Anti-Islam dan Xenophobia di Eropa

Pada pekan terakhir tahun 2006, untuk pertama kalinya sebuah lembaga Eropa merilis laporan tentang ketidakadilan dan diskriminasi terhadap kaum muslim di Eropa. European Monitoring Centre on Racism and Xenophobia (EUMC), dalam laporan setebal 115 halamannya, menyebutkan berbagai aksi racisme dan diskriminasi terhadap warga muslim Eropa. Laporan itu menyebutkan secara terperinci seluruh perilaku buruk yang menimpa warga muslim Eropa.

Perlu disinggung kembali bahwa muslimin merupakan kelompok minoritas terbesar di Eropa.

Diperkirakan jumlah warga muslim di 27 negara anggota Uni Eropa mencapai 15 juta orang. Namun mereka harus menghadapi berbagai diskriminasi, keterbatasan, pemarginalan, dan masih banyak lagi. Fenomena rasisme memang telah mengakar dalam masyarakat Eropa. Fenomena tersebut masih sangat kental pasca berakhirnya era kolonialisme. Rasisme tumbuh subur di negara-negara Barat yang mengklaim sebagai penegak panji kebebasan, kemanusiaan, dan keadilan.

Para imigran dari berbagai belahan dunia khususnya dari negara-negara eks-koloni, berbondong-bondong menuju Barat dengan harapan dapat menikmati kehidupan yang lebih baik. Sebagian besar mereka berasal dari negara-negara Islam. Namun, yang mereka rasakan justru sebaliknya. Disana mereka tidak merasakan kebebasan, ketentraman, cinta kemanusiaan, seperti yang dijanjikan, melainkan diskriminasi, rasisme, dan lain-lain. Itu semua terjadi hanya karena mereka berpegang teguh pada keyakinan mereka.

Pasca 11 September, anti-Islam berubah menjadi kebijakan permanen negara dan media massa Barat. Sebelumnya pun, gerakan tersebut sudah terjadi. Namun, pasca 11 September, fenomena tersebut semakin menguat, meluas, dan bahkan dilakukan secara terang-terangan. Anti-Islam dan xenophobia atau phobia terhadap orang-orang asing di Barat sedemikian parah sehingga orang-orang muslim dicap sebagai pihak yang selalu bersalah. Sementara pada saat yang sama, mereka juga dituntut untuk selalu membuktikan ketidakbersalahan mereka. Di samping itu, media-media Barat berupaya menampilkan Islam sebagai agama ekstrim dan penebar kekerasan. Dalam mempropagandakannya pun media massa Barat menggunakan cara-cara yang irasional. Misalnya ketika ada penayangan tentang Islam atau ibadah kaum muslimin, mereka selalu menyelipkan tayangan teror serta kekerasan. Sebelum serangan 11 September, warga muslim Eropa menjadi korban diskriminasi dan rasisme karena mereka bukan asli orang Eropa atau karena mereka keturunan imigran. Namun pasca 11 September, alasannya berubah karena mereka beragama Islam.

Negara-negara Eropa memberlakukan berbagai pembatasan terhadap warga muslim dengan alasan memerangi ekstrimisme dan dalam rangka menjustifikasi sekulerisme dalam sistem pemerintahan mereka. Perancis mengklaim sebagai kampiun demokrasi dan kebebasan di dunia dan dalam sektor ini Paris berada di tingkat teratas. Namun, Perancis juga merupakan negara Eropa pertama yang meratifikasi undang-undang larangan jilbab bagi para pelajar putri muslim. Padahal, warga muslim di Perancis adalah yang terbanyak dibandingkan negara Eropa lainnya. Ratifikasi undang-undang tersebut mencuatkan reaksi negatif dari negara-negara Islam. UU tersebut dinilai bertentangan dengan asas Hak Asasi Manusia dan hak sipil.

Perancis menjustifikasi penetapan UU itu dengan alasan untuk memberantas ekstrimisme. Kebijakan Perancis itu kemudian diikuti oleh sebagian negara Eropa lainnya. Kini, Belgia dan Jerman tengah membahas penerapan UU larangan jilbab. UU larangan jilbab bagi muslimah hanya satu contoh dari diskriminasi terhadap kaum muslim Eropa. Aksi diskriminasi tersebut kini meluas hingga upaya-upaya anti-pengultusan agama dan nilai-nilainya serta pemisahan muslimin dari budaya Islam. Negara-negara Eropa menyebut politik ini sebagai perluasan Islam-Eropa moderat.

Sebab itu, propaganda pelecehan terhadap Islam pun dimulai secara meluas. Gerakan anti-Islam di Eropa, dimulai dua dekade lalu oleh Salman Rushdie. Ia adalah seorang penulis Inggris keturunan India yang merilis buku penghinaan terhadap Rasulullah dan hukum-hukum Islam. Pasca 11 September, Barat mengerahkan seluruh fasilitasnya untuk membangkitkan gerakan anti-Islam. Propaganda itu didukung oleh media audio-visual dan cetak. Pemublikasian karikatur biadab terhadap Rasulullah oleh sebuah koran Denmark merupakan salah satu contohnya. Barat mendukung aksi pelecehan tersebut dengan alasan kebebasan berpendapat. Kebijakan seperti ini kian meningkatkan prasangka buruk terhadap warga muslim Eropa.

Pokok laporan European Monitoring Centre on Racism and Xenophobia (EUMC) berkaitan dengan pemarginalan warga muslim. Laporan itu terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama terkait jumlah dan dokumen kasus-kasus diskriminasi, aksi pemukulan, dan tindak kekerasan terhadap warga muslim Eropa. Bagian kedua menyangkut kondisi warga muslim Eropa hasil wawancara dengan berbagai lembaga Islam di 25 negara Eropa. Laporan ini menunjukkan bahwa akibat diskriminasi dan ketidakadilan, kondisi perekonomian dan pendapatan warga muslim Eropa sangat minim. Kesuksesan pendidikan mereka juga dibawah garis menengah, dan jumlah pengangguran muslim Eropa sangat tinggi.

Tidak hanya itu, warga muslim Eropa bahkan harus berjuang menghadapi berbagai kesulitan harian mereka. Misalnya menunaikan shalat di tempat-tempat publik. Pihak kepolisian Eropa sangat mencurigai pengiriman uang warga muslim Eropa ke luar negeri, dan bantuan mereka terhadap lembaga-lembaga kemanusiaan. Sejumlah keluarga muslim terpaksa memberikan nama-nama non-Islam kepada putra-putri mereka agar tak diganggu.

Saat ini, kondisi di negara-negara sangat sulit bagi orang-orang muslim. Padahal negara-negara itu pula yang mengklaim menggalakkan dialog antar budaya dan madzhab, penghormatan terhadap keyakinan, dan interaksi antara umat Islam dan Kristen. Dalam hal ini Barat menggulirkan kebijakan ganda. Di satu sisi, mereka ingin tampil sebagai pihak yang cenderung mengutamakan dialog, namun di sisi lain, mereka terus merepresi, melecehkan, dan mendiskriminasi warga muslim. Tujuannya adalah memperluas budaya Barat. Sayang sekali, Pemimpin Tertinggi Katolik Dunia, Paus Benedictus XVI, juga ikut terjun dalam propaganda ini. Bulan September tahun 2006 lalu, Benedictus menilai Islam sebagai agama ekstrim dan penebar kekerasan. Pernyataan Benedictus itu langsung direaksi negara-negara Islam dengan menarik duta besarnya dari Vatikan.

sumber:http://gusmendem.blogspot.com/2011/06/anti-islam-dan-xenophobia-di-eropa.html

Dampak Positif Islam di Eropa

Kekaisaran Ottoman mulai menaklukkan Eropa pada abad ke-14 dan abad ke-15 telah sebagian besar Eropa Timur di bawah kerajaan nya. Meskipun jejak Islam telah ditemukan lama sebelum Kekaisaran Ottoman tapi Islam berkembang tepat saat Kekaisaran Ottoman memerintah Eropa. Sejarawan dari sudut pandang bahwa Islam meletakkan dasar dari Eropa modern dan itu fakta kenyataan. Sejarah telah melihat Eropa mendominasi dunia dalam abad yang lalu melalui pengetahuan dan kekuasaan tapi jika kita mempelajari penemuan awal matematika, fisika dan astronomi, tidak mengherankan, semua penghargaan pergi ke Ilmu Pengetahuan Dunia Muslim . Matematikawan Muslim bekerja di setiap bidang matematika seperti Al-Jabir didirikan aljabar. Galileo dan Newton, para ilmuwan besar waktu mereka, tidak akan pernah mampu merumuskan teori-teori modern matematika dan fisika tanpa alat dasar dan instrumen penting ditemukan oleh para ilmuwan Muslim.

Plato dan Aristoteles meletakkan lembaga penulisan klasik dan teks di Eropa kuno tetapi patung ini hilang dalam sejarah dan hampir hancur selama Dark Age. Lagi-lagi Muslim yang bertindak sebagai pengasuh dari tulisan-tulisan penting dan diawetkan oleh mereka. Bahkan beberapa kerja yang hadir hanya dalam bahasa Arab. Ibne-Rushd, seorang Muslim, yang dikenal sebagai Averroes di Eropa, memiliki nama besar dalam hal ini.

Penjelajah Eropa terkenal untuk perjalanan mereka dan eksplorasi tapi itu hanya dimungkinkan oleh peta yang akurat yang dihasilkan oleh pembuat peta Muslim. Peta ini membuka jalan bagi penjelajah Eropa untuk menemukan dunia baru dalam rentang waktu minimum.

Ini hanya jumlah kecil sumbangan yang dilakukan oleh Islam ke Eropa langsung maupun tidak langsung. Menurut berita global, ada sekitar 53 juta Muslim di Eropa. Islam telah menjadi agama paling cepat berkembang di Eropa dan di seluruh dunia, telah ada pendirian mesjid baru di seluruh Eropa dan bahkan non-muslim mengunjungi masjid tersebut. Hanya beberapa tahun terakhir ini Umat Muslim disana tersisih terutama setelah 9/11 serangan ketika umat Islam dituduh sebagai pelaku utamanya. Ini adalah saat ketika non-Muslim terutama Kristen lebih tertarik untuk mencari tahu tentang Islam, Qur'an dan ajaran Nabi (saw). Meskipun Islam dimanipulasi untuk menjadi agama ekstremisme dan terorisme tetapi Islam ketika orang-orang ini belajar, pandangan mereka berubah dan mereka menemukan Islam menjadi kode hidup yang lengkap dan agama terbaik di dunia. Jadi mereka menerima Agama Islam setelah mereka melakukan penelitian luas. Para imigran Muslim dari dunia Muslim ke Eropa tinggal di sana selama puluhan tahun adalah simbol yang jelas tentang cinta damai budaya Muslim.

Media Saat ini, di Eropa khususnya, banyak berbicara tentang rasa tidak hormat yang diberikan kepada perempuan dalam Islam, namun pada kenyataannya, hal ini tidak benar. Islam adalah satu-satunya agama yang telah mengangkat martabat perempuan dari salah satu makhluk buruk dipermalukan, dalam budaya Barat, dengan seorang menghormati yang memiliki hak yang sama untuk manusia. Dengan konsep ideologis salah pada perkawinan anak-anak oleh non-Muslim, umat Islam telah dikritik oleh media Barat, tetapi pada kenyataannya tidak ada konsep perkawinan anak-anak dalam Islam dan insiden tersebut murni terbatas hanya pada beberapa suku dan adat kebuadayaan.

sumber:http://as-shufi.blogspot.com/2010/10/dampak-positif-islam-di-eropa.html

Kemajuan Islam Dibenua Eropa

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh....
Bismillahirrahmaanirrahiim....

Surat kabar Inggris melaporkan bahwa seorang kardinal Vatikan "murka" terhadap umat Kristen di Eropa, sambil menuduh mereka lebih mementingkan diri sendiri dan jauh dari ajaran agama kristen serta menjadi pengecut dalam urusan pembelaan terhadap warisan spiritual Eropa yaitu agama Kristen, sehingga menyebabkan umat Islam bisa melakukan "Islamisasi" di benua Eropa.

Kardinal vatikan yang berasal dari republik Ceko bernama Miloslav Vic (77 tahun) dalam sebuah wawancaranya yang diterbitkan di situs surat kabar The Guardian Inggris - memperingatkan bahwa Eropa bisa "jatuh" ke dalam Islam, jika masyarakat Eropa tidak mau kembali ke akar kekristenan mereka.

Ia juga menyalahkan banyaknya imigrasi dari negara-negara Islam ke wilayah Eropa dan tingginya tingkat kelahiran umat Islam di Eropa yang mengisi kekosongan rendahnya kelahiran di kalangan umat kristen di Eropa.

Surat kabar Inggris "The Guardian" mengutip pernyataan Kardinal Miloslav Vic: "Akar dari Eropa adalah Kristen, hal tersebut tidak dapat disangkal, Eropa punya hak untuk mengusir umat Islam dari ancaman mereka yang ingin menginvasi benua Eropa secara bertahap, dan jika Eropa tidak segera kembali ke akar Kristen mereka, tunggulah suatu saat Eropa akan menjadi benua Islam."

Kardinal Vic menyatakan juga: "Pada akhir Abad Pertengahan dan awal zaman modern, Islam gagal di Eropa ketika dikalahkan oleh Kristen namun hari ini adalah peperangan agama dengan kekurangan senjata di Eropa dan umat Islam bersenjata dengan persenjataan yang lengkap dan mengancam kejatuhan Eropa."

"Pandangan Eropa saat ini adalah Muslim bukan kristen dan umat Islam punya banyak alasan yang memaksa mereka untuk berimigrasi ke Eropa, mereka ingin mentransfer nilai-nilai Iman mereka kepada masyarakat Eropa yang jauh dari nilai-nilai agama dan kehidupan yang sangat tercela di mata Tuhan," tambah kardinal Vic.

Di sisi lain, hasil penelitian di Inggris yang diterbitkan pada hari Minggu kemarin (10/1) menunjukkan bahwa orang-orang Inggris khawatir tentang kebangkitan Islam di Inggris Raya dan adanya rasa takut dari pembagian negara atas agama.

Surat kabar "The Sunday Telegraph" telah menerbitkan sebuah hasil studi yang menunjukkan bahwa lebih dari setengah penduduk Briton sangat menentang pembangunan masjid di lingkungan mereka, dan sebagian besar dari mereka percaya bahwa usaha multikulturalisme telah gagal.

Sementara 52% dari yang diikut sertakan dalam studi membagi Inggris pada alasan keagamaan, 45% mengatakan keragaman agama memiliki dampak negatif.

Namun, seperempat dari mereka yang disurvei, memiliki perasaan positif Muslim, sepertiganya bersikap netral terhadap umat Islam.(fq/imo)

Tambahan:

Eropa punya hak untuk mengusir umat Islam?
Mana HAM dan kebebasan beragama?

Apa di Indonesia kita juga boleh mengatakan bahwa Indonesia punya hak untuk mengusir umat Kristen?

Sepertinya toleransi beragama di Eropa yang mayoritas Non Muslim hampir tidak ada. Ummat Islam dilarang mendirikan menara masjid di Swis. Nabi Muhammad di hina-hina di Denmark dan Swedia serta Belanda, dsb.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. " [Ali 'Imran 118]

sumber:http://abinyaazka.blogspot.com/2011/03/kemajuan-islam-dibenua-eropa.html

Hukum Islam Berkembang di AS

Hukum Islam Berkembang di AS

WASHINGTON--Seiring berkembangnya jumlah pemeluk Islam di Amerika Serikat (AS), pengaruh dan penerapan hukum Islam atau syariat dalam kehidupan di negeri Paman Sam juga meningkat.

"Hukum syariat adalah kewajiban seluruh umat Muslim,'' ungkap Abdullahi an-Na'im, seorang guru besar hukum pada Emory University di Atlanta, seperti diberitakan Fox News, Senin (30/3). Menurut dia, syariat yang dipegang teguh umat Islam juga dimiliki umat agama lain. Pemeluk Yahudi memiliki Hukum Talmudic dan Katholik memiliki Canon Law.

Menurut an-Na'im, hukum Islam merupakan aturan berperilaku dan bertindak bagi seluruh kaum Muslim. An-Na'im menuturkan, penerapan hukum Islam yang dilakukan setiap umat Muslim di AS dalam kehidupan sehari-hari bukanlah ancaman bagi Amerika. Kekhawatiran itu sempat dilontarkan Frank Gaffney, pendiri dan presiden Center for Security Policy--sebuah tangki pemikir di Washington.

Gaffney sempat memprediksi AS akan menghadapi masalah yang seperti dihadapi negara-negara Eropa. Kata dia, di Eropa nilai-nilai agama yang dianut Muslim imigran kerapkali berbenturan dengan budaya asli yang sekuler. Namun, kekhawatiran itu ditepis Prof an-Na'im. Menurut an-Na'im, hal seperti itu tak akan terjadi di negeri adidaya.

"Sekulerisme masyarakat Amerika yang beragama terbukti lebih menerima peran publik untuk beragama. Selain itu, terbukti pula Amerika lebih kondusif bagi Muslim. Sebagai warga negara, umat Muslim merasa nyaman hidup dengan nilai-nilai agama dan kewarganegaraannya dibandingkan negara-negara Eropa,'' papar an-Na'im.

Sebagai Muslim, kata dia, setiap umat Islam di AS perlu memegang teguh syariat dalam kehidupan sehari-hari. ''Namun, sebagai warga negara, saya adalah warga negara Amerika Serikat,'' kata an-Na'im menegaskan. ''Saya berutang kesetiaan kepada Amerika dan konstitusi negara ini.'' Menurut dia, menjalankan nilai-nila agama dalam perilaku diri tak bertentangan dengan konstitusi dan kesetiaan terhadap Amerika.

Perlahan namun pasti, penerapan syariat mulai berkembang di negeri Paman Sam. Pada 2006 lalu, sopir taksi Muslim telah mulai menolak penumpang yang membawa minuman keras. Seperti, diberitakan Fox News, tahun lalu, Tyson Foods, sebuah pabrik in Shelbyville, Tennessee, mengganti hari libur buruh dengan libur Idul Fitri bagi pekerja Muslim yang kebanyakan adalah imigran asal Somalia.

Tahun 2007, University of Michigan membangun tempat wudhu bagi para mahasiswa Muslim.

Sacramento News juga melaporkan, dengan menerapkan hukum syariat, umat Muslim di negara itu terhindar dari resesi ekonomi. Menurut Sacramento News, Muslim AS tak menjadi korban krisis global karena menghindari segala bentuk riba.

"Jika semua orang menerapkan syariat, tak akan ada resesi,'' tutur Farouk Fakira, seorang imigran asal Yaman yang menjadi moderator sebuah diskusi keuangan Islam di Masjid Annur, Sacramento, akhir pekan lalu.

Fakira (57), seperti Muslim lokal lainnya menyewa sebuah rumah. Ia berupaya untuk menghindari 'bunga' yang hukumnya haram. Menurut Imam Muhammed Abdul Azeez, pemimpin Sacramento Area League of Associated Muslims (SALAM), syariat telah diperkenalkan sejak 1.400 tahun lalu oleh Rasulullah SAW.

Sekitar 20 persen dari 50 ribu Muslim di Sacramento telah menerapkan ekonomi syariah yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

sumber:http://koran.republika.co.id/berita/41141/Hukum_Islam_Berkembang_di_AS

Islam di Amerika: Sebuah Keajaiban Bernama 9/11

“Idza ja-a nashrullahi wal fathu,
wara aytannas sayad khuluna fi dinillahi afwaja..”
(An-Nashr: 1-2)

(Ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan,
dan kamu akan melihat manusia masuk ke dalam agama Allah
dengan berbondong-bondong…”.

Sejumlah data yang dikomposisikan oleh Demented Vision (2007), dari sebuah observasi di Amerika Serikat tentang perkembangan jumlah pemeluk agama-agama dunia menarik untuk dicermati. Dari data observasi itu, terdapat angka-angka yang menunjukkan perbandingan pertumbuhan penganut Islam dan Kristen di dunia. Lembaga itu mencatat, pada tahun 1900, jumlah pemeluk Kristen adalah 26,9% dari total penduduk dunia, sementara pemeluk Islam hanya 12,4%. 80 tahun kemudian (1980), angka itu berubah. Penganut Kristen bertambah 3,1% menjadi 30%, dan Muslim bertambah 4,1% menjadi 16,5% dari seluruh penduduk bumi. Pada pergantian milenium kedua, yaitu 20 tahun kemudian (2000), jumlah itu berubah lagi tapi terjadi perbedaan yang menarik. Kristen menurun 0,1% menjadi 29,9% dan Muslim naik lagi menjadi 19,2%. Pada tahun 2025, angka itu diproyeksikan akan berubah menjadi: penduduk Kristen 25% (turun 4,9%) dan Muslim akan menjadi 30% (naik pesat 10,8%) mengejar jumlah penganut Kristen. Bila diambil rata-rata, Islam bertambah pemeluknya 2,9% pertahun. Pertumbuhan ini lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah penduduk bumi sendiri yang hanya 2,3% pertahun. 17 tahun lagi dari sekarang, bila pertumbuhan Islam itu konstan, dari angka kelahiran dan yang masuk Islam di berbagai negara, berarti prediksi itu benar, Islam akan menjadi agama nomor satu terbanyak pemeluknya di dunia, menggeser Kristen menjadi kedua. World Almanac and Book of Fact, #1 New York Times Bestseller, mencatat jumlah total umat Islam sedunia tahun 2004 adalah 1,2 milyar lebih (1.226.403.000), tahun 2007 sudah mencapai 1,5 milyar lebih (1.522.813.123 jiwa). Ini berarti, dalam 3 tahun, kaum Muslim mengalami penambahan jumlah sekitar 300 juta orang (sama dengan jumlah umat Islam yang ada di kawasan Asia Tenggara).

Fenomena di Amerika sendiri sangat menarik. Sangat tidak masuk di akal pemerintah George Bush dan tokoh-tokoh Amerika, masyarakat Amerika berbondong-bondong masuk Islam justru setelah peristiwa pemboman World Trade Center pada 11 September 2001 yang dikenal dengan 9/11 yang sangat memburukkan citra Islam itu. Pasca 9/11 adalah era pertumbuhan Islam paling cepat yang tidak pernah ada presedennya dalam sejarah Amerika. 8 juta orang Muslim yang kini ada di Amerika dan 20.000 orang Amerika masuk Islam setiap tahun setelah pemboman itu. Pernyataan syahadat masuk Islam terus terjadi di kota-kota Amerika seperti New York, Los Angeles, California, Chicago, Dallas, Texas dan yang lainnya.

Atas fakta inilah, ditambah gelombang masuk Islam di luar Amerika, seperti di Eropa dan beberapa negara lain, beberapa tokoh Amerika menyatakan kesimpulannya. The Population Reference Bureau USA Today sendiri menyimpulkan: “Moslems are the world fastest growing group.” Hillary Rodham Cinton, istri mantan Presiden Clinton seperti dikutip oleh Los Angeles Times mengatakan, “Islam is the fastest growing religion in America.” Kemudian, Geraldine Baum mengungkapkan: “Islam is the fastest growing religion in the country” (Newsday Religion Writer, Newsday). “Islam is the fastest growing religion in the United States,” kata Ari L. Goldman seperti dikutip New York Times. Atas daya magnit Islam inilah, pada 19 April 2007, digelar sebuah konferensi di Middlebury College, Middlebury Vt. untuk mengantisipasi masa depan Islam di Amerika dengan tajuk “Is Islam a Trully American religion?” (Apakah Islam adalah Agama Amerika yang sebenarnya?) menampilkan Prof. Jane Smith yang banyak menulis buku-buku tentang Islam di Amerika. Konferensi itu sendiri merupakan seri kuliah tentang Immigrant and Religion in America. Dari konferensi itu, jelas tergambar bagaimana keterbukaan masyarakat Amerika menerima sebuah gelombang baru yang tak terelakkan yaitu Islam yang akan menjadi identitas dominan di negara super power itu.

Anomali 9/11
Peristiwa 9/11 menyimpan misteri yang tidak terduga. Pemboman itu dikutuk dunia, terlebih Amerika, sebagai biadab dan barbar buah tangan para “teroris Islam.” Setelah peristiwa itu, kaum Muslimin di Amerika terutama imigran asal Timur Tengah merasakan getahnya mengalami kondisi psiokologis yang sangat berat: dicurigai, diteror, diserang, dilecehkan dan diasosiasikan dengan teroris. Hal yang sama dialami oleh kaum Muslim di Inggris, Perancis, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya. Pemerintah George Walker Bush segera mengetatkan aturan imigrasi dan mengawasi kaum imigran Muslim secara berlebihan. Siaran televisi Fox News Channel, dalam acara mingguan “In Focus” menggelar diskusi dengan mengundang enam orang nara sumber, bertemakan ”Stop All Muslim Immigration to Protect America and Economy.” Acara ini menggambarkan kekhawatiran Amerika tidak hanya dalam masalah terorisme tetapi juga ekonomi dimana pengaruh para pengusaha Arab dan Timur Tengah mulai dominan dan mengendalikan ekonomi Amerika.

Tapi, rupanya Islam berkembang dengan caranya sendiri. Islam mematahkan “logika akal sehat” manusia modern. Bagaimana mungkin sekelompok orang nekat berbuat biadab membunuh banyak orang tidak berdosa dengan mengatasnamakan agama, tetapi tidak lama setelah peristiwa itu, justru ribuan orang berbondong-bondong menyatakan diri masuk agama tersebut dan menemukan kedamaian didalamnya? 9/11 telah berfungsi menjadi ikon yang memproduksi arus sejarah yang tidak logis dan mengherankan. Selain 20.000 orang Amerika masuk Islam setiap tahun setelah peristiwa itu, ribuan yang lain dari negara-negara non Amerika (Eropa, Cina, Korea, Jepang dst) juga mengambil keputusan yang sama masuk Islam. Bagaimana arus ini bisa dijelaskan? Sejauh saya ketahui, jawabannya “tidak ada” dalam teori-teori gerakan sosial karena fenomena ini sebuah anomali. Maka, gejala ini hanya bisa dijelaskan oleh “teori tangan Tuhan.”

Tangan Tuhan dalam bentuk blessing in disguise adalah nyata dibalik peristiwa 9/11 dan ini diakui oleh masyarakat Islam Amerika. Karena peristiwa 9/11 yang sangat mengerikan itu dituduhkan kepada Islam, berbagai lapisan masyarakat Amerika justru kemudian terundang kuriositasnya untuk mengetahui Islam lebih jauh. Sebagian karena murni semata-mata ingin mengetahui saja, sebagian lagi mempelajari dengan sebuah pertanyaan dibenaknya: “bagaimana mungkin dalam zaman modern dan beradab ini agama “mengajarkan” teror, kekerasan dan suicide bombing dengan ratusan korban tidak berdosa?” Tapi keduanya berbasis pada hal yang sama: ignorance of Islam (ketidaktahuan sama sekali tentang Islam). Sebelumnya, sumber pengetahuan masyarakat Barat (Amerika dan Eropa) tentang Islam hanya satu yaitu media yang menggambarkan Islam tidak lain kecuali stereotip-stereotip buruk seperti teroris, uncivilized, kejam terhadap perempuan dan sejenisnya. Seperti disaksikan Eric, seorang Muslim pemain cricket warga Texas, setelah peristiwa 9/11, masyarakat Amerika menjadi ingin tahu Islam, mereka kemudian ramai-ramai membeli dan membaca Al-Qur’an setiap hari, membaca biografi Muhammad dan buku-buku Islam untuk mengetahui isinya. Hasilnya, dari membaca sumbernya langsung, mereka menjadi tahu ajaran Islam yang sesungguhnya. Ketimbang bertambahnya kebencian, yang terjadi malah sebaliknya. Menemukan keagungan serta keindahan ajaran agama yang satu ini. Keagungan ajaran Islam ini bertemu pada saatnya yang tepat dengan kegersangan, kegelisahan dan kekeringan spritual masyarakat Amerika yang sekuler selama ini. Karena itu, Islam justru menjadi jawaban bagi proses pencarian spiritual mereka selama ini. Islam menjadi melting point atas kebekuan spiritual yang selama ini dialami masyarakat Amerika. Inilah pemicu terjadinya Islamisasi Amerika yang mengherankan para pengamat sosial dan politik. Inilah tangan Tuhan dibalik peristiwa /9/11.

Motivasi Menjadi Muslim

Dari banyak wawancara yang dilakukan televisi Amerika, Eropa maupun Timur Tengah terhadap mereka yang masuk Islam atau video-video blog yang banyak menjelaskan motivasi para new converters ini masuk Islam, menggambarkan konfigurasi latar belakang yang beragam.

Pertama, karena kehidupan mereka yang sebelumnya sekuler, tidak terarah, tidak punya tujuan, hidup hanya money, music and fun. Pola hidup itu menciptakan kegersangan dan kegelisahan jiwa. Mereka merasakan kekacauan hidup, tidak seperti pada orang-orang Muslim yang mereka kenal. Dalam hingar bingar dunia modern dan fasilitas materi yang melimpah banyak dari mereka yang merasakan kehampaan dan ketidakbahagiaan. Ketika menemukan Islam dari membaca Al-Qur’an, dari buku atau kehidupan teman Muslimnya yang sehari-harinya taat beragama, dengan mudah saja mereka masuk Islam.

Kedua, merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang tidak pernah dirasakannya dalam agama sebelumnya yaitu Kristen. Dalam Islam mereka merasakan hubungan dengan Tuhan itu langsung dan dekat. Beberapa orang Kristen taat bahkan mereka sebagai church priest mengaku seperti itu ketika diwawancarai televisi. Allison dari North Caroline dan Barbara Cartabuka, seorang diantara 6,5 juta orang Amerika yang masuk Islam pasca 9/11, seperti diberitakan oleh Veronica De La Cruz dalam CNN Headline News, Allison mengaku “Islam is much more about peace.” Sedangkan Barbara tidak pernah merasakan kedamaian selama menganut Katolik Roma seperti kini dirasakannya setelah menjadi Muslim. Demikian juga yang dirasakan oleh Mr. Idris Taufik, mantan pendeta Katolik di London, ketika diwawancara televisi Al-Jazira. Mantan pendeta ini melihat dan merasakan ketenangan batin dalam Islam yang tidak pernah dirasakan sebelumnya ketika ia menjadi mendeta di London. Ia masuk Islam setelah melancong ke Mesir. Ia kaget melihat orang-orang Islam tidak seperti yang diberitakan di televisi-televisi Barat. Ia mengaku, sebelumnya hanya mengetahui Islam dari media. Ia sering meneteskan air mata ketika menyaksikan kaum Muslim shalat dan kini ia merasakan kebahagiaan setelah menjadi Muslim di London.

Ketiga, menemukan kebenaran yang dicarinya. Beberapa konverter mengakui konsep-konsep ajaran Islam lebih rasional atau lebih masuk akal seperti tentang keesaan Tuhan, kemurnian kitab suci, kebangkitan (resurrection) dan penghapusan dosa (salvation) ketimbang dalam Kristen. Banyak dari masyarakat Amerika memandang Kristen sebagai agama yang konservatif dalam doktrin-doktrinnya. Eric seorang pemain Cricket di Texas, kota kelahiran George Bush, berkesimpulan seperti itu dan memilih Islam. Sebagai pemain cricket Muslim, ia sering shalat di pinggir lapang. Di Kristen, katanya, sembahyang harus selalu ke Gereja. Seorang konverter lain memberikan kesaksiannya yang bangga menjadi Muslim. Ia menjelaskan telah berpuluh tahun menganut Katolik Roma dan Kristen Evangelik. Dia mengaku menemukan kelemahan-kelemahan doktrin Kristen setelah menyaksikan debat terbuka tentang “Is Jesus God?” (Apakah Yesus itu Tuhan?) antara Ahmad Deedat, seorang tokoh Islam dari Afrika Selatan dan seorang teolog Kristen. Argumen-argumen Dedaat dalam diskusi menurutnya jauh lebih jelas, kuat dan memuaskan ketimbang teolog Kristen itu. Menariknya, misi awalnya ia menonton debat agama itu justru untuk mengetahui Islam karena ia bertekad akan menyebarkan gospel ke masyarakat-masyarakat Muslim. Yang terjadi sebaliknya, ia malah menemukan keunggulan doktrin Islam dalam berbagai aspeknya dibandingkan Kristen. Angela Collin, seorang artis California yang terkenal karena filmnya Leguna Beach dan kini menjadi Director of Islamic School, ketika diwawancarai oleh televisi NBC News megapa ia masuk Islam, ia mengungkapkan: “I was seeking the truth and I’ve found it in Islam. Now I have this belief and I love this belief,” katanya bangga.

Keempat, banyak kaum perempuan Amerika Muslim berkesimpulan ternyata Islam sangat melindungi dan menghargai perempuan. Dengan kata lain, perempuan dalam Islam dimuliakan dan posisinya sangat dihormati. Walaupun mereka tidak setuju dengan poligami, mereka melihat posisi perempuan sangat dihormati dalam Islam daripada dalam peradaban Barat modern. Seorang convert perempuan Amerika bernama Tania, merasa hidupnya kacau dan tidak terarah jutsru dalam kebebasannya di Amerika. Ia bisa melakukan apa saja yang dia mau untuk kesenangan, tapi ia rasakan malah merugikan dan merendahkan perempuan. Setelah mempelajari Islam, awalnya merasa minder. Setelah tahu bagaimana Islam memperlakukan perempuan, ia malah berkata “women in Islam is so honored. This is a nice religion not for people like me!” katanya. Dia masuk Islam setelah mempelajarinya beberapa bulan dari teman Muslimnya.

Perkembangan Islam di dunia Barat sesungguhnya lebih prospektif karena mereka terbiasa berfikir terbuka. Dalam keluarga Amerika, pemilihan agama dilakukan secara bebas dan independen. Banyak orang tua mendukung anaknya menjadi Muslim selama itu adalah pilihan bebasnya dan independen. Mereka mudah saja masuk Islam ketika menemukan kebenaran disitu. Angela Collin menjadi Muslim dengan dukungan kedua orang tua. Ketika diwawancarai televisi NBC, orang tuanya justru merasa bangga karena Angela adalah seorang “independent person.” Nancy seorang remaja 15 tahun, masuk Islam setelah bergaul dekat temannya keluarga Pakistan dan keluarganya tidak mempermasalahkan walaupun telah lama hidup dalam tradisi Kristen.

Dampak Hubungan Islam – Barat

Perkembangan ini tentu akan berpengaruh signifikan terhadap hubungan Islam-Barat (Kristen) yang sudah mengalami ketegangan historis berabad-abad. Dengan pesatnya perkembangan umat Muslim di Amerika, Eropa dan negara-negara maju lainnya, akan berpengaruh signifikan terhadap beberapa hal. Pertama, masyarakat Barat akan lebih dekat dan lebih kenal dengan Islam melalui umat Islam yang ada di Barat sendiri. Mereka akan menjembatani kesalahafahaman yang selalu terjadi terhadap Islam dan kaum Muslimin. Ketidaksukaan masyarakat Barat terhadap Islam lebih karena the ignorance of Islam dan ini akan semakin berkurang. Umat Islam di Barat akan menjadi komunikator yang efektif dan duta-duta yang handal untuk menjelaskan dan memperlihatkan wajah Islam yang sesungguhnya di sana. Melalui mereka, nasib umat Islam diluar Barat akan disuarakan dan penderitaan demi penderitaan negara-negara Muslim akibat dominasi Barat yang kebijakannya sering yang tidak adil akan berkurang. Kedua, akibat dari ajaran Islam yang semakin tersosialisasi di Barat dan suara politik kaum Muslimin semakin kuat, jembatan untuk terciptanya saling pemahaman dan pengertian akan semakin kondusif dan menguat. Islam dan Barat mudah-mudahan akan masuk ke dalam sebuah equilibrium sejarah baru yang lebih adil, lebih fair dan lebih demokratis: “Ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu akan melihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong!”. Wallahu a’alam!!

Penulis, Dosen UIN SGD Bandung, alumni Southeast Asian Studies, ANU Canberra.

sumber:http://moeflich.wordpress.com/2008/03/18/islam-di-amerika-keajaiban-bernama-911/

Penyebaran Agama Islam di Dunia yang Pesat

200 Ribu Orang Amerika Masuk Islam Setiap Tahunnya. Islam lambat laun akan segera mendominasi Dunia. Rasulullah Saw sejak awal kedatangan Islam telah mengabarkan hal tersebut.

Baru-baru ini beberapa media di Amerika Serikat mengabarkan meningkatnya orang Amerika yang memeluk Islam. Sebelumnya beberapa media juga telah mengabarkan orang Barat di Eropa yang masuk Islam meningkat. Surat kabar Amerika “An-Niqab” mengungkapkan bahwa Islam menyebar dengan sangat cepat di antara berbagai status sosial dan kelompok etnis masyarakat Amerika, khususnya Puerto Ricans, Dominika, Meksiko, Kuba, dan Spanyol, dimana sekitar 35% dari mereka adalah pelopor Islamic Center Hudson Utara di negara bagian New Jersey.

Sementara surat kabar Amerika “New York Times” menyebutkan: “Sebagian besar dari mereka yang masuk Islam di Amerika Serikat adalah dari komunitas Hispanik (keturunan Spanyol).

Bahkan dari hasil beberapa penelitian diperkirakan bahwa ada sekitar 200 ribu orang Hispanik yang masuk Islam di Amerika setiap tahunnya. Dan di antara mereka ini adalah Musa Franco, keturunan Kolombia yang masuk Islam ketika berusia 13 tahun.”


Surat kabar itu menambahkan: “Ada juga Miriam Celeste yang setelah masuk Islam pada tahun 2002, ia segera mulai berusaha untuk merancang pakaian dengan mengikuti trend modern, namun tetap dengan standar Islam.”

Surat kabar itu juga mengatakan bahwa seorang Muslimah bernama Rodriguez, yang setelah masuk Islam pada tahun 2009 memutuskan untuk memakai cadar (niqab), dan menjadi seorang Muslimah yang taat.

Di Amerika Serikat sekarang ini terdapat sekitar 2 juta kaum Muslim dari jumlah total penduduk Amerika, yaitu 310 juta jiwa. Perkembangan Islam tersebut akan terus tumbuh, seiring gencarnya dakwah Islam hingga suatu saat Islam benar-benar meliputi seluruh bagian muka bumi ini di bawah naungan Khilafah. Insya Allah, tidak akan lama lagi.

sumber:http://infosersanucok.blogspot.com/2011/04/islam-akan-mendominasi-dunia.html

Sejarah Islam di Amerika

SEJARAH peradaban dunia mencatat Columbus sebagai penemu benua Amerika. Hampir puluhan tahun kebenaran sejarah tersebut tidak dipertanyakan atau bahkan dibantah oleh para ahli sejarah mana pun. Belakangan banyak ahli sejarah yang membantah bahwa Columbus sebagai penemu Benua Amerika.
Dari deretan nama peneliti asing, muncul Fareed H Numan dalam American Muslim History A Cronological Observation, Youssef Mroueh dalam Muslim In The Americas Before Columbus, dan Ivan Van Sertima lewat They Came before Columbus dan African Presence in Early America. Penulis-penulis tersebut membantah Columbus sebagai penemu benua Amerika, karena faktanya muslim Afrika telah menjejak kaki jauh sebelum Columbus datang.
Berbagai fakta inilah yang ingin disampaikan Wisnu Arya Wardhana dalam buku ini ini. Fakta sejarah Columbus yang menemukan benua Amerika layak disanggah, pasalnya kedatangan Columbus ke benua tersebut bukan yang kali pertama sebelum kelompok lain. Columbus bahkan datang belakangan dan sempat meminta berbagai informasi mengenai benua tersebut pada muslim Afrika yang pernah ke sana.
Kelompok muslim Afrika disebut sebagai kelompok yang lebih dulu memasuki daratan Amerika. Sebagian besar muslim Afrika yang disinyalir dari daratan Mesir, Afrika, serta muslim dari Asia Arab dan Turki. Fakta dapat dijelaskan dari beberapa prasasti yang ditemukan di negara bagian California oleh Arkeolog Amerika Dr Barry Fell.
Berry Fell dalam Saga America mengemukakan bahwa terdapat prasasti bertuliskan Yesus Bin Maria. Menurut Fell frasa dalam prasasti tersebut bertuliskan bahasa Arab. Sementara Prasasti tersebut berusia jauh dari usia Amerika sendiri. Fell juga menemukan beberapa prasasti di California berupa pelajaran Matematika, Geografi, Sejarah, Astronomi, dan Navigasi laut dalam bahasa Arab. Sementara bahasa Arab yang dipakai adalah bahasa Arab Kufi sebagaimana banyak dipakai oleh muslim Afrika Utara. Prasasti tersebut bertarikhkan 800 Masehi atau tujuh abad sebelum kedatangan Columbus (halaman 206-207).
Amerigo Vespuci
Columbus sendiri melakukan perjalanan ke benua Amerika pada 1492 M. Ia beserta rombongan utusan Kerajaan Spanyol meninggalkan Spanyol pada 3 Agustus 1492 dan baru singgah di Amerika tiga bulan kemudian, yakni 12 Oktober 1492. Perjalanan Columbus ini dicatat oleh seorang juru tulis kerajaan Spanyol yang bernama Amerigo Vespuci.
Keberhasilan Columbus ini diagung-agungkan oleh Spanyol yang mengklaim bahwa merekalah yang menemukan benua biru yang kemudian dikenal dengan Amerika. Hingga akhirnya Raja Ferdinand II, yang memerintah Kerajaan Spanyol ketika itu, memberi kepercayaan pada Columbus untuk terus melakukan ekspansi wilayah-wilayah baru untuk dijadikan koloni.
Columbus merupakan pahlawan Spanyol serta mendapatkan penghargaan berupa ”king cross”. Keberhasilannya juga memberi inspirasi pada negara-negara di Eropa untuk melakukan hal serupa, yakni kolonialisasi ke negara-negara Amerika utara, Amerika Selatan, termasuk ke Asia. Hal ini dapat dipahami karena negara-negara di Eropa pada saat itu telah memiliki peradaban yang tinggi.
Columbus mendapat mandat kepercayaan kerajaan untuk terus melakukan pelayaran pada daerah baru. Tercatat empat kali perjalanan Columbus ke Amerika termasuk ke negara-negara Amerika Selatan (latin). Perjalanan kedua terjadi pada tahun 1493-1496 Columbus mencapai beberapa daerah di antaranya; Dominika, Marie Galante, Los Santo dan Guadalupe. Perjalanan ketiga terjadi pada 1498-1500, Columbus menginjakkan kaki di Trinidad. Dan perjalanan terakhir tahun 1502-1504, Columbus mencapai Jamaika.
Banyak catatan perjalanan Columbus yang tidak dilaporkan pada kerajaan Spanyol. Di antaranya adalah berbagai daerah yang dikunjungi, ditemukan dan ditaklukkan tidak dilaporkan keberadaannya pada Raja Ferdinand II. Misalnya penemuan bangunan masjid di Cuba yang memiliki arsitektur seperti di masjid-masjid di Afrika Utara. Keberadaan penduduk yang telah mengenal peradaban ëmoderní juga tidak dilaporkan pada kerajaan Spanyol.
Tidak dilaporkannya beberapa temuan dan keadaan daerah kolomi Spanyol dimungkinkan beberapa hal. Pertama, Columbus tidak ingin apa yang telah dicapainya dianggap sia-sia karena daerah-daerah yang telah ”ditemukan” sebenarnya bukan daerah baru. Hal ini terkait dengan dana besar yang telah dikeluarkan Kerajaan Spanyol untuk membiayai pelayaran Columbus.
Kepentingan Pribadi
Kedua, jika diketahui bahwa daerah yang ditemukannya pernah dikunjungi kelompok lain Columbus khawatir tidak mendapatkan gelar kehormatan dari kerajaan. Padahal gelar tersebut sangat diperebutkan oleh petinggi kerajaan; Baron, Senor, dan Senorita. Secara tidak langsung Columbus juga memanfaatkan hal ini untuk kepentingan pribadinya. Dijadikannya Columbus menjadi gubernur senior yang mengawasi beberapa daerah koloni merupakan bukti (halaman 161-163).
Columbus memang menjadi pahlawan bagi Spanyol dan negara-negara Eropa, karena telah memberi jalan dan inspirasi kolonialisasi di berbagai negara. Columbus banyak meninggalkan catatan penting bagi peradaban Eropa, namun juga meninggalkan catatan negatif bagi daerah koloni. Columbus juga dituduh telah menggelapkan sejarah dengan tidak menulis fakta yang sejatinya ia lihat.
Apa yang ditulis dalam buku ini tidak hanya melulu bantahan bahwa Columbus bukan orang pertama yang datang atau menemukan Amerika, namun juga berbagai fakta terkait dengan Columbus di daerah koloni. Meskipun dengan keterbatasan catatan sejarah namun buku ini cukup untuk membuka wawasan baru dari sejarah Columbus dan catatan Islam di Amerika.

sumber:http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2009/08/23/1416/Jejak-Islam-di-Amerika

Sejarah Islam di Negeri Tirai Bambu (Cina)


"Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri Cina," begitu kata petuah Arab. Jauh sebelum ajaran Islam diturunkan Allah SWT, bangsa Cina memang telah mencapai peradaban yang amat tinggi. Kala itu, masyarakat Negeri Tirai Bambu sudah menguasai beragam khazanah kekayaan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Tak bisa dipungkiri bahwa umat Islam juga banyak menyerap ilmu pengetahuan serta peradaban dari negeri ini. Beberapa contohnya antara lain, ilmu ketabiban, kertas, serta bubuk mesiu. Kehebatan dan tingginya peradaban masyarakat Cina ternyata sudah terdengar di negeri Arab sebelum tahun 500 M.

Sejak itu, para saudagar dan pelaut dari Arab membina hubungan dagang dengan `Middle Kingdom' - julukan Cina.

Untuk bisa berkongsi dengan para saudagar Cina, para pelaut dan saudagar Arab dengan gagah berani mengarungi ganasnya samudera. Mereka `angkat layar' dari Basra di Teluk Arab dan kota Siraf di Teluk Persia menuju lautan Samudera Hindia.

Sebelum sampai ke daratan Cina, para pelaut dan saudagar Arab melintasi Srilanka dan mengarahkan kapalnya ke Selat Malaka. Setelah itu, mereka berlego jangkar di pelabuhan Guangzhou atau orang Arab menyebutnya Khanfu. Guangzhou merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan tertua di Cina. Sejak itu banyak orang Arab yang menetap di Cina.

Ketika Islam sudah berkembang dan Rasulullah SAW mendirikan pemerintahan di Madinah, di seberang lautan Cina tengah memasuki periode penyatuan dan pertahanan. Menurut catatan sejarah awal Cina, masyarakat Tiongkok pun sudah mengetahui adanya agama Islam di Timur Tengah. Mereka menyebut pemerintahan Rasulullah SAW sebagai Al-Madinah.

Orang Cina mengenal Islam dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti 'agama yang murni'. Masyarakat Tiongkok menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran 'Buddha Ma-hia-wu' (Nabi Muhammad SAW). Terdapat beberapa versi hikayat tentang awal mula Islam bersemi di dataran Cina. Versi pertama menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina dibawa para sahabat Rasul yang hijrah ke al-Habasha Abyssinia (Ethopia). Sahabat Nabi hijrah ke Ethopia untuk menghindari kemarahan dan amuk massa kaum Quraish jahiliyah. Mereka antara lain; Ruqayyah, anak perempuan Nabi; Usman bin Affan, suami Ruqayyah; Sa'ad bin Abi Waqqas, paman Rasulullah SAW; dan sejumlah sahabat lainnya.

Para sahabat yang hijrah ke Etopia itu mendapat perlindungan dari Raja Atsmaha Negus di kota Axum. Banyak sahabat yang memilih menetap dan tak kembali ke tanah Arab. Konon, mereka inilah yang kemudian berlayar dan tiba di daratan Cina pada saat Dinasti Sui berkuasa (581 M - 618 M).

Sumber lainnya menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina ketika Sa'ad Abi Waqqas dan tiga sahabatnya berlayar ke Cina dari Ethopia pada tahun 616 M. Setelah sampai di Cina, Sa'ad kembali ke Arab dan 21 tahun kemudian kembali lagi ke Guangzhou membawa kitab suci Alquran.

Ada pula yang menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina pada 615 M - kurang lebih 20 tahun setelah Rasulullah SAW tutup usia. Adalah Khalifah Utsman bin Affan yang menugaskan Sa'ad bin Abi Waqqas untuk membawa ajaran Illahi ke daratan Cina. Konon, Sa'ad meninggal dunia di Cina pada tahun 635 M. Kuburannya dikenal sebagai Geys' Mazars.

Utusan khalifah itu diterima secara terbuka oleh Kaisar Yung Wei dari Dinasti Tang. Kaisar pun lalu memerintahkan pembangunan Masjid Huaisheng atau masjid Memorial di Canton - masjid pertama yang berdiri di daratan Cina. Ketika Dinasti Tang berkuasa, Cina tengah mencapai masa keemasan dan menjadi kosmopolitan budaya. Sehingga, dengan mudah ajaran Islam tersebar dan dikenal masyarakat Tiongkok.

Pada awalnya, pemeluk agama Islam terbanyak di Cina adalah para saudagar dari Arab dan Persia. Orang Cina yang pertama kali memeluk Islam adalah suku Hui Chi. Sejak saat itu, pemeluk Islam di Cina kian bertambah banyak. Ketika Dinasti Song bertahta, umat Muslim telah menguasai industri ekspor dan impor. Bahkan, pada periode itu jabatan direktur jenderal pelayaran secara konsisten dijabat orang Muslim.

Pada tahun 1070 M, Kaisar Shenzong dari Dinasti Song mengundang 5.300 pria Muslim dari Bukhara untuk tinggal di Cina. Tujuannya untuk membangun zona penyangga antara Cina dengan Kekaisaran Liao di wilayah Timur Laut. Orang Bukhara itu lalu menetap di di antara Kaifeng dan Yenching (Beijing). Mereka dipimpin Pangeran Amir Sayyid alias 'So-Fei Er'. Dia bergelar `bapak' komunitas Muslim di Cina.

Ketika Dinasti Mongol Yuan (1274 M -1368 M) berkuasa, jumlah pemeluk Islam di Cina semakin besar. Mongol, sebagai minoritas di Cina, memberi kesempatan kepada imigran Muslim untuk naik status menjadi Cina Han. Sehingga pengaruh umat Islam di Cina semakin kuat. Ratusan ribu imigran Muslim di wilayah Barat dan Asia Tengah direkrut Dinasti Mongol untuk membantu perluasan wilayah dan pengaruh kekaisaran.

Bangsa Mongol menggunakan jasa orang Persia, Arab dan Uyghur untuk mengurus pajak dan keuangan. Pada waktu itu, banyak Muslim yang memimpin korporasi di awal periode Dinasti Yuan. Para sarjana Muslim mengkaji astronomi dan menyusun kalender. Selain itu, para arsitek Muslim juga membantu mendesain ibu kota Dinasti Yuan, Khanbaliq.

Pada masa kekuasaan Dinasti Ming, Muslim masih memiliki pengaruh yang kuat di lingkaran pemerintahan. Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang adalah jenderal Muslim terkemuka, termasuk Lan Yu Who. Pada 1388, Lan memimpin pasukan Dinasti Ming dan menundukkan Mongolia. Tak lama setelah itu muncul Laksamana Cheng Ho - seorang pelaut Muslim andal.

Saat Dinasti Ming berkuasa, imigran dari negara-negara Muslim mulai dilarang dan dibatasi. Cina pun berubah menjadi negara yang mengisolasi diri. Muslim di Cina pun mulai menggunakan dialek bahasa Cina. Arsitektur Masjid pun mulai mengikuti tradisi Cina. Pada era ini Nanjing menjadi pusat studi Islam yang penting. Setelah itu hubungan penguasa Cina dengan Islam mulai memburuk.

Masa Surut Islam di Daratan Cina

Hubungan antara Muslim dengan penguasa Cina mulai memburuk sejak Dinasti Qing (1644-1911) berkuasa. Tak cuma dengan penguasa, relasi Muslim dengan masyarakat Cina lainnya menjadi makin sulit. Dinasti Qing melarang berbagai kegiatan Keislaman.

Menyembelih hewan qurban pada setiap Idul Adha dilarang. Umat Islam tak boleh lagi membangun masjid. Bahkan, penguasa dari Dinasti Qing juga tak membolehkan umat Islam menunaikan rukun Islam kelima - menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah.

Taktik adu domba pun diterapkan penguasa untuk memecah belah umat Islam yang terdiri dari bangsa Han, Tibet dan Mogol. Akibatnya ketiga suku penganut Islam itu saling bermusuhan. Tindakan represif Dinasti Qing itu memicu pemberontakan Panthay yang terjadi di provinsi Yunan dari 1855 M hingga 1873 M.

Setelah jatuhnya Dinasti Qing, Sun Yat Sen akhirnya mendirikan Republik Cina. Rakyat Han, Hui (Muslim), Meng (Mongol) dan Tsang (Tibet) berada di bawah Republik Cina. Pada 1911, Provinsi Qinhai, Gansu dan Ningxia berada dalam kekuasaan Muslim yakni keluarga Ma.

Kondisi umat Islam di Cina makin memburuk ketika terjadi Revolusi Budaya. Pemerintah mulai mengendorkan kebijakannya kepada Muslim pada 1978. Kini Islam kembali menggeliat di Cina. Hal itu ditandai dengan banyaknya masjid serta aktivitas Muslim antaretnis di Cina.

Tokoh Muslim Terkemuka dari Tiongkok

Dominasi peran Muslim dalam lingkaran kekuasaan dinasti-dinasti Cina pada abad pertengahan telah melahirkan sejumlah tokoh Muslim terkemuka. Mereka adalah:

Pelaut dan Penjelajah
* Cheng Ho atau Zheng He: Laksamana Laut Cina yang menjelajahi dua benua dalam tujuh kali ekspedisi.
* Fei Xin: Penerjemah andalan Cheng Ho.
* Ma Huan: Seorang pengikut Ceng Ho.

Militer
* Jenderal pendiri Dinasti Ming: Chang Yuchun, Hu Dahai, Lan Yu, Mu Ying.
* Pemimpin pemberontakan Panthay: Du Wenxiu, Ma Hualong.
* Kelompok tentara Ma selama era Republik Cina: Ma Bufang, Ma Chung-ying, Ma Fuxiang, Ma Hongkui, Ma Hongbin, Ma Lin, Ma Qi, Ma Hun-shan Bai Chongxi.

Sarjana dan Penulis
* Bai Shouyi, sejarawan.
* Tohti Tunyaz, sejarawan.
* Yusuf Ma Dexin, penerjemah Alquran pertama ke dalam bahasa Cina.
* Muhammad Ma Jian, penulis dan peberjemah Alquran terkemuka.
* Liu Zhi, penulis di era Dinasti Qing.
* Wang Daiyu, ahli astronomi pada era Dinasti Ming.
* Zhang Chengzhi, penulis kontemporer.

Politik
* Hui Liangyu, Wakil Perdana Menteri Urusan Pertanian RRC
* Huseyincan Celil, Imam Uyghur yang dipenjara di Cina
* Xabib Yunic, Menteri Pendidikan Second East Turkistan Republic
* Muhammad Amin Bughra, Wakil Ketua Second East Turkistan Republic

Lainnya
* Noor Deen Mi Guangjiang, ahli kaligrafi.
* Ma Xianda, ahli beladiri.
* Ma Menta, pengurus Federasi Wushu Tongbei Rusia

sumber:http://deardesy.blogspot.com/2010/08/hikayat-islam-di-negeri-tirai-bambu.html