Showing posts with label Agama. Show all posts
Showing posts with label Agama. Show all posts

Friday, July 29, 2011

Ketuhanan Yang Maha Esa

[numberone-1.jpg]
Keyakinan pada Tuhan yang Esa adalah fondasi mendasar bagi bangsa kita. Saking elementalnya, dicantumkanlah prinsip tersebut sebagai sila pertama dari Pancasila. Buah-buah pengamalan yang ditumbuhkan dari sila tersebut antara lain adalah kerukunan umat beragama, tepa salira, toleransi, serta konsep-konsep cantik lainnya. Dalam percakapan sehari-hari kita dapat ‘membauinya’ pada kalimat-kalimat klasik seperti: “jalannya lain-lain tapi toh tujuannya satu” atau “cuma caranya saja yang beda-beda tapi Tuhannya satu”, dst. Namun, sama seringnya pula kita menemukan aneka kontradiksi yang menemani konsep-konsep cantik dan kalimat-kalimat bijak tadi.

Baru-baru ini saya diberi kesempatan untuk menonton pra-rilis satu film indie berjudul “Cin[T]a”. Sebuah film dengan premis dan tema yang menarik; bercerita tentang Tuhan, cinta, dan perbedaan. Di film itu kita menemui dilema yang banyak dialami orang-orang: hubungan cinta beda agama. Dilema yang akhirnya berujung pada pilihan: pilih pacar atau Tuhan?

Entah berapa banyak sudah hati manusia yang nelangsa akibat dilema klise itu; saat benang kusut itu mulai teraduk: mencintai pacar… tidak mau berpisah… tidak mau mengkhianati Tuhan… tapi kenapa harus ada cinta… bukannya cinta juga diciptakan Tuhan… tapi agama bilang tidak boleh menomorduakan Tuhan… tapi kan, katanya cara saja yang beda-beda tapi Tuhannya satu… dan benang itu terus mengusut. Belum lagi Tuhan jarang berdiri sendiri, Ia membawa institusi agama, orang tua, keluarga besar, adat istiadat, bahkan aturan pemerintah Indonesia yang melarang pernikahan beda agama.

Itu baru persoalan asmara. Ketuhanan Yang Maha Esa pun masih harus menempuh berbagai tantangan ketika bersinggungan dengan isu politik, kekuasaan, uang, dan fanatisme. Seringnya, dalam naungan payung konsep mulia tentang keesaan Tuhan, manusia tetap harus memilih untuk mempertahankan perbedaan. Tak jarang sampai berdarah-darah. Kontradiksi yang sempurna digambarkan oleh sebuah dialog dalam film “Cin[T]a”, ketika salah satu tokoh utamanya berkata: “Tuhan memang satu, tapi tetap saja Tuhanku yang paling benar.”

Jika kita benar-benar jujur, hampir semua dari kita sama seperti tokoh film tadi; oke, di mulut kita setuju Tuhan itu satu, tapi nyatanya selalu ada Tuhan yang paling benar. Jadi, sebetulnya, Tuhan mana yang kita bicarakan? Jangan-jangan, selama ini ada dua Tuhan; yang Esa dan Tidak Esa. Jangan-jangan, selama ini kita keseleo lidah, menggunakan terminologi “Tuhan” padahal yang kita maksud adalah “agama”. Atau, jangan-jangan, Tuhan memang tidak Esa. Keesaan hanyalah ilusi yang kita ciptakan sebagai obat penawar dari perbedaan yang terkadang begitu menyakitkan dan merepotkan jika bergesek. Intinya, dari mana kita tahu secara langsung dan absolut bahwa Tuhan itu benar-benar Esa? Kata orang? Kata pemuka agama? Kata kitab? Kata pemerintah?

Tuhan yang malang, pikir saya. Ia begitu terdistorsi dan terasing, meski begitu banyak orang mengaku telah mengenal-Nya, bahkan secara kolektif menggunakan keberadaan-Nya sebagai dasar bernegara. Tidak heran kata “toleransi” begitu populer dalam konsep keagamaan kita, karena dengan kontradiksi yang kita pegang tentang Tuhan, hanya sampai toleransilah kita mampu berjalan. Dan kembali saya ingat perkataan Romo Mangun, bahwa seharusnya kita berlandaskan “apresiasi” beragama, bukan “toleransi”. Toleransi berarti ‘silakan berbeda selama tidak mengganggu saya’. Artinya, toleransi punya batas. Toleransi punya syarat. Dan karena itu jugalah ia cocok dengan lidah kita yang bercabang, yang sepakat dengan keesaan Tuhan tapi siap membacok teman jika berani macam-macam dengan Tuhan-“ku”.

Saya jadi tergelitik untuk bertanya: tidakkah lebih baik—dalam arti: lebih rileks dan realistis—jika kita menerima kenyataan bahwa Tuhan belum tentu Esa? Mengapa kita harus memaksakan diri dengan keesaan Tuhan jika pengalaman spiritual kita pribadi belum membuktikannya? Untuk apa jadi munafik, jika membedakan Tuhan dan agama saja kita masih tersandung-sandung; membedakan isi dan bungkus saja masih tertukar-tukar? Daripada menjadikannya sebagai dalil tak tergoyahkan, teori yang mati, tidakkah lebih baik—dalam arti: lebih adil dan sahih—jika keesaan Tuhan dijadikan sebuah pengalaman yang hidup? Biarlah mereka, yang memang sudah lahir-batin-luar-dalam mengalami keesaan Tuhan, yang kemudian berkata bahwa Tuhan itu ternyata satu adanya. Bagi mereka yang belum mengalami, biarlah Tuhan tidak perlu esa. Biarkan saja Tuhan berbeda-beda. Biarlah masih ada Tuhan-“ku” dan Tuhan-“mu”. Termasuk, biarkan juga mereka yang mengalami tidak adanya Tuhan. Bahkan Tuhan tidak perlu dipaksakan ada, bukan?

Seorang guru spiritual terkenal, Osho, berkata: ada perbedaan besar antara percaya dan tahu. Percaya senantiasa dibarengi oleh asumsi dan pengharapan, sementara tahu senantiasa dibarengi oleh pengalaman. Kita tak perlu percaya bahwa matahari bersinar, kita TAHU bahwa ada matahari di langit yang menyinari Bumi terus-menerus. Kita mengalaminya secara langsung. Jika kita berani kritis: seberapa banyak pengalaman langsung kita tentang Tuhan hingga kita berani mengatakan bahwa Ia cuma SATU? Bahwa Ia sama dan seragam bagi semua orang, layaknya matahari bagi Bumi? Percayakah kita bahwa Tuhan itu esa atau tahukah kita?

Tahun 1999, untuk pertama kalinya saya memberanikan diri untuk mempertanyakan ulang semua yang saya percayai tentang Tuhan, termasuk sejauh mana saya telah menyalahgunakan konsep iman selama ini. Karena, tanpa mengecilkan arti kata “iman” yang didefinisikan sebagai 'percaya sebelum melihat', mudah sekali kita berlindung di balik keimanan untuk mengklaim berbagai hal yang tak kita alami langsung. Hal-hal yang sebenarnya cuma asumsi berkarat dan berkerak tapi kita anggap sebagai kebenaran mutlak. Dan baru saat itulah, saat saya berani melonggarkan cengkeraman saya atas konsep kebenaran, untuk pertama kalinya pula secara tulus saya melihat perbedaan dan keberagaman sebagai sebuah perayaan.

Beranikah kita meninjau iman kita, asumsi kita, kepercayaan kita, keyakinan kita—dan menerimanya sebagai sebuah bentuk keterbatasan dan ‘kemalasan’ kita untuk mengenal-Nya langsung. Sudah berapa lamakah kita berpangku tangan dan membiarkan orang lain atau sebuah institusi merumuskan kebenaran dan Tuhan bagi kita? Mereka yang juga belum tentu mengalaminya langsung, melainkan mewarisi pengetahuan secara turun-temurun?

Pengetahuan adalah sesuatu yang mati, kata Osho lagi. Hanya pengalamanlah yang hidup. Dan saya teringat pertemuan saya dengan seorang bhikku, bernama Bhante Wongsin, di Lembang tahun 2005. Pada akhir pembicaraan kami, beliau berkata: “Jangan percaya semua omongan saya. Anda harus membuktikannya sendiri.” Saya tersentak waktu itu, dan kalimat beliau terus membekas hingga kini. Jangan percaya. Buktikan sendiri.

Beranikah kita untuk mencantumkan tanda tanya di ujung semua yang kita yakini dan percayai? Dan mencantumkan tanda titik hanya jika kita telah mengalaminya langsung, membuktikannya sendiri; saat perjalanan kita dari mempercayai akhirnya tiba di mengetahui.

sumber:http://dee-idea.blogspot.com/2009/05/keyakinan-pada-tuhan-yang-esa-adalah.html

Monday, June 20, 2011

Anti-Islam dan Xenophobia di Eropa

Pada pekan terakhir tahun 2006, untuk pertama kalinya sebuah lembaga Eropa merilis laporan tentang ketidakadilan dan diskriminasi terhadap kaum muslim di Eropa. European Monitoring Centre on Racism and Xenophobia (EUMC), dalam laporan setebal 115 halamannya, menyebutkan berbagai aksi racisme dan diskriminasi terhadap warga muslim Eropa. Laporan itu menyebutkan secara terperinci seluruh perilaku buruk yang menimpa warga muslim Eropa.

Perlu disinggung kembali bahwa muslimin merupakan kelompok minoritas terbesar di Eropa.

Diperkirakan jumlah warga muslim di 27 negara anggota Uni Eropa mencapai 15 juta orang. Namun mereka harus menghadapi berbagai diskriminasi, keterbatasan, pemarginalan, dan masih banyak lagi. Fenomena rasisme memang telah mengakar dalam masyarakat Eropa. Fenomena tersebut masih sangat kental pasca berakhirnya era kolonialisme. Rasisme tumbuh subur di negara-negara Barat yang mengklaim sebagai penegak panji kebebasan, kemanusiaan, dan keadilan.

Para imigran dari berbagai belahan dunia khususnya dari negara-negara eks-koloni, berbondong-bondong menuju Barat dengan harapan dapat menikmati kehidupan yang lebih baik. Sebagian besar mereka berasal dari negara-negara Islam. Namun, yang mereka rasakan justru sebaliknya. Disana mereka tidak merasakan kebebasan, ketentraman, cinta kemanusiaan, seperti yang dijanjikan, melainkan diskriminasi, rasisme, dan lain-lain. Itu semua terjadi hanya karena mereka berpegang teguh pada keyakinan mereka.

Pasca 11 September, anti-Islam berubah menjadi kebijakan permanen negara dan media massa Barat. Sebelumnya pun, gerakan tersebut sudah terjadi. Namun, pasca 11 September, fenomena tersebut semakin menguat, meluas, dan bahkan dilakukan secara terang-terangan. Anti-Islam dan xenophobia atau phobia terhadap orang-orang asing di Barat sedemikian parah sehingga orang-orang muslim dicap sebagai pihak yang selalu bersalah. Sementara pada saat yang sama, mereka juga dituntut untuk selalu membuktikan ketidakbersalahan mereka. Di samping itu, media-media Barat berupaya menampilkan Islam sebagai agama ekstrim dan penebar kekerasan. Dalam mempropagandakannya pun media massa Barat menggunakan cara-cara yang irasional. Misalnya ketika ada penayangan tentang Islam atau ibadah kaum muslimin, mereka selalu menyelipkan tayangan teror serta kekerasan. Sebelum serangan 11 September, warga muslim Eropa menjadi korban diskriminasi dan rasisme karena mereka bukan asli orang Eropa atau karena mereka keturunan imigran. Namun pasca 11 September, alasannya berubah karena mereka beragama Islam.

Negara-negara Eropa memberlakukan berbagai pembatasan terhadap warga muslim dengan alasan memerangi ekstrimisme dan dalam rangka menjustifikasi sekulerisme dalam sistem pemerintahan mereka. Perancis mengklaim sebagai kampiun demokrasi dan kebebasan di dunia dan dalam sektor ini Paris berada di tingkat teratas. Namun, Perancis juga merupakan negara Eropa pertama yang meratifikasi undang-undang larangan jilbab bagi para pelajar putri muslim. Padahal, warga muslim di Perancis adalah yang terbanyak dibandingkan negara Eropa lainnya. Ratifikasi undang-undang tersebut mencuatkan reaksi negatif dari negara-negara Islam. UU tersebut dinilai bertentangan dengan asas Hak Asasi Manusia dan hak sipil.

Perancis menjustifikasi penetapan UU itu dengan alasan untuk memberantas ekstrimisme. Kebijakan Perancis itu kemudian diikuti oleh sebagian negara Eropa lainnya. Kini, Belgia dan Jerman tengah membahas penerapan UU larangan jilbab. UU larangan jilbab bagi muslimah hanya satu contoh dari diskriminasi terhadap kaum muslim Eropa. Aksi diskriminasi tersebut kini meluas hingga upaya-upaya anti-pengultusan agama dan nilai-nilainya serta pemisahan muslimin dari budaya Islam. Negara-negara Eropa menyebut politik ini sebagai perluasan Islam-Eropa moderat.

Sebab itu, propaganda pelecehan terhadap Islam pun dimulai secara meluas. Gerakan anti-Islam di Eropa, dimulai dua dekade lalu oleh Salman Rushdie. Ia adalah seorang penulis Inggris keturunan India yang merilis buku penghinaan terhadap Rasulullah dan hukum-hukum Islam. Pasca 11 September, Barat mengerahkan seluruh fasilitasnya untuk membangkitkan gerakan anti-Islam. Propaganda itu didukung oleh media audio-visual dan cetak. Pemublikasian karikatur biadab terhadap Rasulullah oleh sebuah koran Denmark merupakan salah satu contohnya. Barat mendukung aksi pelecehan tersebut dengan alasan kebebasan berpendapat. Kebijakan seperti ini kian meningkatkan prasangka buruk terhadap warga muslim Eropa.

Pokok laporan European Monitoring Centre on Racism and Xenophobia (EUMC) berkaitan dengan pemarginalan warga muslim. Laporan itu terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama terkait jumlah dan dokumen kasus-kasus diskriminasi, aksi pemukulan, dan tindak kekerasan terhadap warga muslim Eropa. Bagian kedua menyangkut kondisi warga muslim Eropa hasil wawancara dengan berbagai lembaga Islam di 25 negara Eropa. Laporan ini menunjukkan bahwa akibat diskriminasi dan ketidakadilan, kondisi perekonomian dan pendapatan warga muslim Eropa sangat minim. Kesuksesan pendidikan mereka juga dibawah garis menengah, dan jumlah pengangguran muslim Eropa sangat tinggi.

Tidak hanya itu, warga muslim Eropa bahkan harus berjuang menghadapi berbagai kesulitan harian mereka. Misalnya menunaikan shalat di tempat-tempat publik. Pihak kepolisian Eropa sangat mencurigai pengiriman uang warga muslim Eropa ke luar negeri, dan bantuan mereka terhadap lembaga-lembaga kemanusiaan. Sejumlah keluarga muslim terpaksa memberikan nama-nama non-Islam kepada putra-putri mereka agar tak diganggu.

Saat ini, kondisi di negara-negara sangat sulit bagi orang-orang muslim. Padahal negara-negara itu pula yang mengklaim menggalakkan dialog antar budaya dan madzhab, penghormatan terhadap keyakinan, dan interaksi antara umat Islam dan Kristen. Dalam hal ini Barat menggulirkan kebijakan ganda. Di satu sisi, mereka ingin tampil sebagai pihak yang cenderung mengutamakan dialog, namun di sisi lain, mereka terus merepresi, melecehkan, dan mendiskriminasi warga muslim. Tujuannya adalah memperluas budaya Barat. Sayang sekali, Pemimpin Tertinggi Katolik Dunia, Paus Benedictus XVI, juga ikut terjun dalam propaganda ini. Bulan September tahun 2006 lalu, Benedictus menilai Islam sebagai agama ekstrim dan penebar kekerasan. Pernyataan Benedictus itu langsung direaksi negara-negara Islam dengan menarik duta besarnya dari Vatikan.

sumber:http://gusmendem.blogspot.com/2011/06/anti-islam-dan-xenophobia-di-eropa.html

Dampak Positif Islam di Eropa

Kekaisaran Ottoman mulai menaklukkan Eropa pada abad ke-14 dan abad ke-15 telah sebagian besar Eropa Timur di bawah kerajaan nya. Meskipun jejak Islam telah ditemukan lama sebelum Kekaisaran Ottoman tapi Islam berkembang tepat saat Kekaisaran Ottoman memerintah Eropa. Sejarawan dari sudut pandang bahwa Islam meletakkan dasar dari Eropa modern dan itu fakta kenyataan. Sejarah telah melihat Eropa mendominasi dunia dalam abad yang lalu melalui pengetahuan dan kekuasaan tapi jika kita mempelajari penemuan awal matematika, fisika dan astronomi, tidak mengherankan, semua penghargaan pergi ke Ilmu Pengetahuan Dunia Muslim . Matematikawan Muslim bekerja di setiap bidang matematika seperti Al-Jabir didirikan aljabar. Galileo dan Newton, para ilmuwan besar waktu mereka, tidak akan pernah mampu merumuskan teori-teori modern matematika dan fisika tanpa alat dasar dan instrumen penting ditemukan oleh para ilmuwan Muslim.

Plato dan Aristoteles meletakkan lembaga penulisan klasik dan teks di Eropa kuno tetapi patung ini hilang dalam sejarah dan hampir hancur selama Dark Age. Lagi-lagi Muslim yang bertindak sebagai pengasuh dari tulisan-tulisan penting dan diawetkan oleh mereka. Bahkan beberapa kerja yang hadir hanya dalam bahasa Arab. Ibne-Rushd, seorang Muslim, yang dikenal sebagai Averroes di Eropa, memiliki nama besar dalam hal ini.

Penjelajah Eropa terkenal untuk perjalanan mereka dan eksplorasi tapi itu hanya dimungkinkan oleh peta yang akurat yang dihasilkan oleh pembuat peta Muslim. Peta ini membuka jalan bagi penjelajah Eropa untuk menemukan dunia baru dalam rentang waktu minimum.

Ini hanya jumlah kecil sumbangan yang dilakukan oleh Islam ke Eropa langsung maupun tidak langsung. Menurut berita global, ada sekitar 53 juta Muslim di Eropa. Islam telah menjadi agama paling cepat berkembang di Eropa dan di seluruh dunia, telah ada pendirian mesjid baru di seluruh Eropa dan bahkan non-muslim mengunjungi masjid tersebut. Hanya beberapa tahun terakhir ini Umat Muslim disana tersisih terutama setelah 9/11 serangan ketika umat Islam dituduh sebagai pelaku utamanya. Ini adalah saat ketika non-Muslim terutama Kristen lebih tertarik untuk mencari tahu tentang Islam, Qur'an dan ajaran Nabi (saw). Meskipun Islam dimanipulasi untuk menjadi agama ekstremisme dan terorisme tetapi Islam ketika orang-orang ini belajar, pandangan mereka berubah dan mereka menemukan Islam menjadi kode hidup yang lengkap dan agama terbaik di dunia. Jadi mereka menerima Agama Islam setelah mereka melakukan penelitian luas. Para imigran Muslim dari dunia Muslim ke Eropa tinggal di sana selama puluhan tahun adalah simbol yang jelas tentang cinta damai budaya Muslim.

Media Saat ini, di Eropa khususnya, banyak berbicara tentang rasa tidak hormat yang diberikan kepada perempuan dalam Islam, namun pada kenyataannya, hal ini tidak benar. Islam adalah satu-satunya agama yang telah mengangkat martabat perempuan dari salah satu makhluk buruk dipermalukan, dalam budaya Barat, dengan seorang menghormati yang memiliki hak yang sama untuk manusia. Dengan konsep ideologis salah pada perkawinan anak-anak oleh non-Muslim, umat Islam telah dikritik oleh media Barat, tetapi pada kenyataannya tidak ada konsep perkawinan anak-anak dalam Islam dan insiden tersebut murni terbatas hanya pada beberapa suku dan adat kebuadayaan.

sumber:http://as-shufi.blogspot.com/2010/10/dampak-positif-islam-di-eropa.html

Kemajuan Islam Dibenua Eropa

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh....
Bismillahirrahmaanirrahiim....

Surat kabar Inggris melaporkan bahwa seorang kardinal Vatikan "murka" terhadap umat Kristen di Eropa, sambil menuduh mereka lebih mementingkan diri sendiri dan jauh dari ajaran agama kristen serta menjadi pengecut dalam urusan pembelaan terhadap warisan spiritual Eropa yaitu agama Kristen, sehingga menyebabkan umat Islam bisa melakukan "Islamisasi" di benua Eropa.

Kardinal vatikan yang berasal dari republik Ceko bernama Miloslav Vic (77 tahun) dalam sebuah wawancaranya yang diterbitkan di situs surat kabar The Guardian Inggris - memperingatkan bahwa Eropa bisa "jatuh" ke dalam Islam, jika masyarakat Eropa tidak mau kembali ke akar kekristenan mereka.

Ia juga menyalahkan banyaknya imigrasi dari negara-negara Islam ke wilayah Eropa dan tingginya tingkat kelahiran umat Islam di Eropa yang mengisi kekosongan rendahnya kelahiran di kalangan umat kristen di Eropa.

Surat kabar Inggris "The Guardian" mengutip pernyataan Kardinal Miloslav Vic: "Akar dari Eropa adalah Kristen, hal tersebut tidak dapat disangkal, Eropa punya hak untuk mengusir umat Islam dari ancaman mereka yang ingin menginvasi benua Eropa secara bertahap, dan jika Eropa tidak segera kembali ke akar Kristen mereka, tunggulah suatu saat Eropa akan menjadi benua Islam."

Kardinal Vic menyatakan juga: "Pada akhir Abad Pertengahan dan awal zaman modern, Islam gagal di Eropa ketika dikalahkan oleh Kristen namun hari ini adalah peperangan agama dengan kekurangan senjata di Eropa dan umat Islam bersenjata dengan persenjataan yang lengkap dan mengancam kejatuhan Eropa."

"Pandangan Eropa saat ini adalah Muslim bukan kristen dan umat Islam punya banyak alasan yang memaksa mereka untuk berimigrasi ke Eropa, mereka ingin mentransfer nilai-nilai Iman mereka kepada masyarakat Eropa yang jauh dari nilai-nilai agama dan kehidupan yang sangat tercela di mata Tuhan," tambah kardinal Vic.

Di sisi lain, hasil penelitian di Inggris yang diterbitkan pada hari Minggu kemarin (10/1) menunjukkan bahwa orang-orang Inggris khawatir tentang kebangkitan Islam di Inggris Raya dan adanya rasa takut dari pembagian negara atas agama.

Surat kabar "The Sunday Telegraph" telah menerbitkan sebuah hasil studi yang menunjukkan bahwa lebih dari setengah penduduk Briton sangat menentang pembangunan masjid di lingkungan mereka, dan sebagian besar dari mereka percaya bahwa usaha multikulturalisme telah gagal.

Sementara 52% dari yang diikut sertakan dalam studi membagi Inggris pada alasan keagamaan, 45% mengatakan keragaman agama memiliki dampak negatif.

Namun, seperempat dari mereka yang disurvei, memiliki perasaan positif Muslim, sepertiganya bersikap netral terhadap umat Islam.(fq/imo)

Tambahan:

Eropa punya hak untuk mengusir umat Islam?
Mana HAM dan kebebasan beragama?

Apa di Indonesia kita juga boleh mengatakan bahwa Indonesia punya hak untuk mengusir umat Kristen?

Sepertinya toleransi beragama di Eropa yang mayoritas Non Muslim hampir tidak ada. Ummat Islam dilarang mendirikan menara masjid di Swis. Nabi Muhammad di hina-hina di Denmark dan Swedia serta Belanda, dsb.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. " [Ali 'Imran 118]

sumber:http://abinyaazka.blogspot.com/2011/03/kemajuan-islam-dibenua-eropa.html

Hukum Islam Berkembang di AS

Hukum Islam Berkembang di AS

WASHINGTON--Seiring berkembangnya jumlah pemeluk Islam di Amerika Serikat (AS), pengaruh dan penerapan hukum Islam atau syariat dalam kehidupan di negeri Paman Sam juga meningkat.

"Hukum syariat adalah kewajiban seluruh umat Muslim,'' ungkap Abdullahi an-Na'im, seorang guru besar hukum pada Emory University di Atlanta, seperti diberitakan Fox News, Senin (30/3). Menurut dia, syariat yang dipegang teguh umat Islam juga dimiliki umat agama lain. Pemeluk Yahudi memiliki Hukum Talmudic dan Katholik memiliki Canon Law.

Menurut an-Na'im, hukum Islam merupakan aturan berperilaku dan bertindak bagi seluruh kaum Muslim. An-Na'im menuturkan, penerapan hukum Islam yang dilakukan setiap umat Muslim di AS dalam kehidupan sehari-hari bukanlah ancaman bagi Amerika. Kekhawatiran itu sempat dilontarkan Frank Gaffney, pendiri dan presiden Center for Security Policy--sebuah tangki pemikir di Washington.

Gaffney sempat memprediksi AS akan menghadapi masalah yang seperti dihadapi negara-negara Eropa. Kata dia, di Eropa nilai-nilai agama yang dianut Muslim imigran kerapkali berbenturan dengan budaya asli yang sekuler. Namun, kekhawatiran itu ditepis Prof an-Na'im. Menurut an-Na'im, hal seperti itu tak akan terjadi di negeri adidaya.

"Sekulerisme masyarakat Amerika yang beragama terbukti lebih menerima peran publik untuk beragama. Selain itu, terbukti pula Amerika lebih kondusif bagi Muslim. Sebagai warga negara, umat Muslim merasa nyaman hidup dengan nilai-nilai agama dan kewarganegaraannya dibandingkan negara-negara Eropa,'' papar an-Na'im.

Sebagai Muslim, kata dia, setiap umat Islam di AS perlu memegang teguh syariat dalam kehidupan sehari-hari. ''Namun, sebagai warga negara, saya adalah warga negara Amerika Serikat,'' kata an-Na'im menegaskan. ''Saya berutang kesetiaan kepada Amerika dan konstitusi negara ini.'' Menurut dia, menjalankan nilai-nila agama dalam perilaku diri tak bertentangan dengan konstitusi dan kesetiaan terhadap Amerika.

Perlahan namun pasti, penerapan syariat mulai berkembang di negeri Paman Sam. Pada 2006 lalu, sopir taksi Muslim telah mulai menolak penumpang yang membawa minuman keras. Seperti, diberitakan Fox News, tahun lalu, Tyson Foods, sebuah pabrik in Shelbyville, Tennessee, mengganti hari libur buruh dengan libur Idul Fitri bagi pekerja Muslim yang kebanyakan adalah imigran asal Somalia.

Tahun 2007, University of Michigan membangun tempat wudhu bagi para mahasiswa Muslim.

Sacramento News juga melaporkan, dengan menerapkan hukum syariat, umat Muslim di negara itu terhindar dari resesi ekonomi. Menurut Sacramento News, Muslim AS tak menjadi korban krisis global karena menghindari segala bentuk riba.

"Jika semua orang menerapkan syariat, tak akan ada resesi,'' tutur Farouk Fakira, seorang imigran asal Yaman yang menjadi moderator sebuah diskusi keuangan Islam di Masjid Annur, Sacramento, akhir pekan lalu.

Fakira (57), seperti Muslim lokal lainnya menyewa sebuah rumah. Ia berupaya untuk menghindari 'bunga' yang hukumnya haram. Menurut Imam Muhammed Abdul Azeez, pemimpin Sacramento Area League of Associated Muslims (SALAM), syariat telah diperkenalkan sejak 1.400 tahun lalu oleh Rasulullah SAW.

Sekitar 20 persen dari 50 ribu Muslim di Sacramento telah menerapkan ekonomi syariah yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW.

sumber:http://koran.republika.co.id/berita/41141/Hukum_Islam_Berkembang_di_AS

Islam di Amerika: Sebuah Keajaiban Bernama 9/11

“Idza ja-a nashrullahi wal fathu,
wara aytannas sayad khuluna fi dinillahi afwaja..”
(An-Nashr: 1-2)

(Ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan,
dan kamu akan melihat manusia masuk ke dalam agama Allah
dengan berbondong-bondong…”.

Sejumlah data yang dikomposisikan oleh Demented Vision (2007), dari sebuah observasi di Amerika Serikat tentang perkembangan jumlah pemeluk agama-agama dunia menarik untuk dicermati. Dari data observasi itu, terdapat angka-angka yang menunjukkan perbandingan pertumbuhan penganut Islam dan Kristen di dunia. Lembaga itu mencatat, pada tahun 1900, jumlah pemeluk Kristen adalah 26,9% dari total penduduk dunia, sementara pemeluk Islam hanya 12,4%. 80 tahun kemudian (1980), angka itu berubah. Penganut Kristen bertambah 3,1% menjadi 30%, dan Muslim bertambah 4,1% menjadi 16,5% dari seluruh penduduk bumi. Pada pergantian milenium kedua, yaitu 20 tahun kemudian (2000), jumlah itu berubah lagi tapi terjadi perbedaan yang menarik. Kristen menurun 0,1% menjadi 29,9% dan Muslim naik lagi menjadi 19,2%. Pada tahun 2025, angka itu diproyeksikan akan berubah menjadi: penduduk Kristen 25% (turun 4,9%) dan Muslim akan menjadi 30% (naik pesat 10,8%) mengejar jumlah penganut Kristen. Bila diambil rata-rata, Islam bertambah pemeluknya 2,9% pertahun. Pertumbuhan ini lebih cepat dibandingkan dengan pertumbuhan jumlah penduduk bumi sendiri yang hanya 2,3% pertahun. 17 tahun lagi dari sekarang, bila pertumbuhan Islam itu konstan, dari angka kelahiran dan yang masuk Islam di berbagai negara, berarti prediksi itu benar, Islam akan menjadi agama nomor satu terbanyak pemeluknya di dunia, menggeser Kristen menjadi kedua. World Almanac and Book of Fact, #1 New York Times Bestseller, mencatat jumlah total umat Islam sedunia tahun 2004 adalah 1,2 milyar lebih (1.226.403.000), tahun 2007 sudah mencapai 1,5 milyar lebih (1.522.813.123 jiwa). Ini berarti, dalam 3 tahun, kaum Muslim mengalami penambahan jumlah sekitar 300 juta orang (sama dengan jumlah umat Islam yang ada di kawasan Asia Tenggara).

Fenomena di Amerika sendiri sangat menarik. Sangat tidak masuk di akal pemerintah George Bush dan tokoh-tokoh Amerika, masyarakat Amerika berbondong-bondong masuk Islam justru setelah peristiwa pemboman World Trade Center pada 11 September 2001 yang dikenal dengan 9/11 yang sangat memburukkan citra Islam itu. Pasca 9/11 adalah era pertumbuhan Islam paling cepat yang tidak pernah ada presedennya dalam sejarah Amerika. 8 juta orang Muslim yang kini ada di Amerika dan 20.000 orang Amerika masuk Islam setiap tahun setelah pemboman itu. Pernyataan syahadat masuk Islam terus terjadi di kota-kota Amerika seperti New York, Los Angeles, California, Chicago, Dallas, Texas dan yang lainnya.

Atas fakta inilah, ditambah gelombang masuk Islam di luar Amerika, seperti di Eropa dan beberapa negara lain, beberapa tokoh Amerika menyatakan kesimpulannya. The Population Reference Bureau USA Today sendiri menyimpulkan: “Moslems are the world fastest growing group.” Hillary Rodham Cinton, istri mantan Presiden Clinton seperti dikutip oleh Los Angeles Times mengatakan, “Islam is the fastest growing religion in America.” Kemudian, Geraldine Baum mengungkapkan: “Islam is the fastest growing religion in the country” (Newsday Religion Writer, Newsday). “Islam is the fastest growing religion in the United States,” kata Ari L. Goldman seperti dikutip New York Times. Atas daya magnit Islam inilah, pada 19 April 2007, digelar sebuah konferensi di Middlebury College, Middlebury Vt. untuk mengantisipasi masa depan Islam di Amerika dengan tajuk “Is Islam a Trully American religion?” (Apakah Islam adalah Agama Amerika yang sebenarnya?) menampilkan Prof. Jane Smith yang banyak menulis buku-buku tentang Islam di Amerika. Konferensi itu sendiri merupakan seri kuliah tentang Immigrant and Religion in America. Dari konferensi itu, jelas tergambar bagaimana keterbukaan masyarakat Amerika menerima sebuah gelombang baru yang tak terelakkan yaitu Islam yang akan menjadi identitas dominan di negara super power itu.

Anomali 9/11
Peristiwa 9/11 menyimpan misteri yang tidak terduga. Pemboman itu dikutuk dunia, terlebih Amerika, sebagai biadab dan barbar buah tangan para “teroris Islam.” Setelah peristiwa itu, kaum Muslimin di Amerika terutama imigran asal Timur Tengah merasakan getahnya mengalami kondisi psiokologis yang sangat berat: dicurigai, diteror, diserang, dilecehkan dan diasosiasikan dengan teroris. Hal yang sama dialami oleh kaum Muslim di Inggris, Perancis, Jerman dan negara-negara Eropa lainnya. Pemerintah George Walker Bush segera mengetatkan aturan imigrasi dan mengawasi kaum imigran Muslim secara berlebihan. Siaran televisi Fox News Channel, dalam acara mingguan “In Focus” menggelar diskusi dengan mengundang enam orang nara sumber, bertemakan ”Stop All Muslim Immigration to Protect America and Economy.” Acara ini menggambarkan kekhawatiran Amerika tidak hanya dalam masalah terorisme tetapi juga ekonomi dimana pengaruh para pengusaha Arab dan Timur Tengah mulai dominan dan mengendalikan ekonomi Amerika.

Tapi, rupanya Islam berkembang dengan caranya sendiri. Islam mematahkan “logika akal sehat” manusia modern. Bagaimana mungkin sekelompok orang nekat berbuat biadab membunuh banyak orang tidak berdosa dengan mengatasnamakan agama, tetapi tidak lama setelah peristiwa itu, justru ribuan orang berbondong-bondong menyatakan diri masuk agama tersebut dan menemukan kedamaian didalamnya? 9/11 telah berfungsi menjadi ikon yang memproduksi arus sejarah yang tidak logis dan mengherankan. Selain 20.000 orang Amerika masuk Islam setiap tahun setelah peristiwa itu, ribuan yang lain dari negara-negara non Amerika (Eropa, Cina, Korea, Jepang dst) juga mengambil keputusan yang sama masuk Islam. Bagaimana arus ini bisa dijelaskan? Sejauh saya ketahui, jawabannya “tidak ada” dalam teori-teori gerakan sosial karena fenomena ini sebuah anomali. Maka, gejala ini hanya bisa dijelaskan oleh “teori tangan Tuhan.”

Tangan Tuhan dalam bentuk blessing in disguise adalah nyata dibalik peristiwa 9/11 dan ini diakui oleh masyarakat Islam Amerika. Karena peristiwa 9/11 yang sangat mengerikan itu dituduhkan kepada Islam, berbagai lapisan masyarakat Amerika justru kemudian terundang kuriositasnya untuk mengetahui Islam lebih jauh. Sebagian karena murni semata-mata ingin mengetahui saja, sebagian lagi mempelajari dengan sebuah pertanyaan dibenaknya: “bagaimana mungkin dalam zaman modern dan beradab ini agama “mengajarkan” teror, kekerasan dan suicide bombing dengan ratusan korban tidak berdosa?” Tapi keduanya berbasis pada hal yang sama: ignorance of Islam (ketidaktahuan sama sekali tentang Islam). Sebelumnya, sumber pengetahuan masyarakat Barat (Amerika dan Eropa) tentang Islam hanya satu yaitu media yang menggambarkan Islam tidak lain kecuali stereotip-stereotip buruk seperti teroris, uncivilized, kejam terhadap perempuan dan sejenisnya. Seperti disaksikan Eric, seorang Muslim pemain cricket warga Texas, setelah peristiwa 9/11, masyarakat Amerika menjadi ingin tahu Islam, mereka kemudian ramai-ramai membeli dan membaca Al-Qur’an setiap hari, membaca biografi Muhammad dan buku-buku Islam untuk mengetahui isinya. Hasilnya, dari membaca sumbernya langsung, mereka menjadi tahu ajaran Islam yang sesungguhnya. Ketimbang bertambahnya kebencian, yang terjadi malah sebaliknya. Menemukan keagungan serta keindahan ajaran agama yang satu ini. Keagungan ajaran Islam ini bertemu pada saatnya yang tepat dengan kegersangan, kegelisahan dan kekeringan spritual masyarakat Amerika yang sekuler selama ini. Karena itu, Islam justru menjadi jawaban bagi proses pencarian spiritual mereka selama ini. Islam menjadi melting point atas kebekuan spiritual yang selama ini dialami masyarakat Amerika. Inilah pemicu terjadinya Islamisasi Amerika yang mengherankan para pengamat sosial dan politik. Inilah tangan Tuhan dibalik peristiwa /9/11.

Motivasi Menjadi Muslim

Dari banyak wawancara yang dilakukan televisi Amerika, Eropa maupun Timur Tengah terhadap mereka yang masuk Islam atau video-video blog yang banyak menjelaskan motivasi para new converters ini masuk Islam, menggambarkan konfigurasi latar belakang yang beragam.

Pertama, karena kehidupan mereka yang sebelumnya sekuler, tidak terarah, tidak punya tujuan, hidup hanya money, music and fun. Pola hidup itu menciptakan kegersangan dan kegelisahan jiwa. Mereka merasakan kekacauan hidup, tidak seperti pada orang-orang Muslim yang mereka kenal. Dalam hingar bingar dunia modern dan fasilitas materi yang melimpah banyak dari mereka yang merasakan kehampaan dan ketidakbahagiaan. Ketika menemukan Islam dari membaca Al-Qur’an, dari buku atau kehidupan teman Muslimnya yang sehari-harinya taat beragama, dengan mudah saja mereka masuk Islam.

Kedua, merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan yang tidak pernah dirasakannya dalam agama sebelumnya yaitu Kristen. Dalam Islam mereka merasakan hubungan dengan Tuhan itu langsung dan dekat. Beberapa orang Kristen taat bahkan mereka sebagai church priest mengaku seperti itu ketika diwawancarai televisi. Allison dari North Caroline dan Barbara Cartabuka, seorang diantara 6,5 juta orang Amerika yang masuk Islam pasca 9/11, seperti diberitakan oleh Veronica De La Cruz dalam CNN Headline News, Allison mengaku “Islam is much more about peace.” Sedangkan Barbara tidak pernah merasakan kedamaian selama menganut Katolik Roma seperti kini dirasakannya setelah menjadi Muslim. Demikian juga yang dirasakan oleh Mr. Idris Taufik, mantan pendeta Katolik di London, ketika diwawancara televisi Al-Jazira. Mantan pendeta ini melihat dan merasakan ketenangan batin dalam Islam yang tidak pernah dirasakan sebelumnya ketika ia menjadi mendeta di London. Ia masuk Islam setelah melancong ke Mesir. Ia kaget melihat orang-orang Islam tidak seperti yang diberitakan di televisi-televisi Barat. Ia mengaku, sebelumnya hanya mengetahui Islam dari media. Ia sering meneteskan air mata ketika menyaksikan kaum Muslim shalat dan kini ia merasakan kebahagiaan setelah menjadi Muslim di London.

Ketiga, menemukan kebenaran yang dicarinya. Beberapa konverter mengakui konsep-konsep ajaran Islam lebih rasional atau lebih masuk akal seperti tentang keesaan Tuhan, kemurnian kitab suci, kebangkitan (resurrection) dan penghapusan dosa (salvation) ketimbang dalam Kristen. Banyak dari masyarakat Amerika memandang Kristen sebagai agama yang konservatif dalam doktrin-doktrinnya. Eric seorang pemain Cricket di Texas, kota kelahiran George Bush, berkesimpulan seperti itu dan memilih Islam. Sebagai pemain cricket Muslim, ia sering shalat di pinggir lapang. Di Kristen, katanya, sembahyang harus selalu ke Gereja. Seorang konverter lain memberikan kesaksiannya yang bangga menjadi Muslim. Ia menjelaskan telah berpuluh tahun menganut Katolik Roma dan Kristen Evangelik. Dia mengaku menemukan kelemahan-kelemahan doktrin Kristen setelah menyaksikan debat terbuka tentang “Is Jesus God?” (Apakah Yesus itu Tuhan?) antara Ahmad Deedat, seorang tokoh Islam dari Afrika Selatan dan seorang teolog Kristen. Argumen-argumen Dedaat dalam diskusi menurutnya jauh lebih jelas, kuat dan memuaskan ketimbang teolog Kristen itu. Menariknya, misi awalnya ia menonton debat agama itu justru untuk mengetahui Islam karena ia bertekad akan menyebarkan gospel ke masyarakat-masyarakat Muslim. Yang terjadi sebaliknya, ia malah menemukan keunggulan doktrin Islam dalam berbagai aspeknya dibandingkan Kristen. Angela Collin, seorang artis California yang terkenal karena filmnya Leguna Beach dan kini menjadi Director of Islamic School, ketika diwawancarai oleh televisi NBC News megapa ia masuk Islam, ia mengungkapkan: “I was seeking the truth and I’ve found it in Islam. Now I have this belief and I love this belief,” katanya bangga.

Keempat, banyak kaum perempuan Amerika Muslim berkesimpulan ternyata Islam sangat melindungi dan menghargai perempuan. Dengan kata lain, perempuan dalam Islam dimuliakan dan posisinya sangat dihormati. Walaupun mereka tidak setuju dengan poligami, mereka melihat posisi perempuan sangat dihormati dalam Islam daripada dalam peradaban Barat modern. Seorang convert perempuan Amerika bernama Tania, merasa hidupnya kacau dan tidak terarah jutsru dalam kebebasannya di Amerika. Ia bisa melakukan apa saja yang dia mau untuk kesenangan, tapi ia rasakan malah merugikan dan merendahkan perempuan. Setelah mempelajari Islam, awalnya merasa minder. Setelah tahu bagaimana Islam memperlakukan perempuan, ia malah berkata “women in Islam is so honored. This is a nice religion not for people like me!” katanya. Dia masuk Islam setelah mempelajarinya beberapa bulan dari teman Muslimnya.

Perkembangan Islam di dunia Barat sesungguhnya lebih prospektif karena mereka terbiasa berfikir terbuka. Dalam keluarga Amerika, pemilihan agama dilakukan secara bebas dan independen. Banyak orang tua mendukung anaknya menjadi Muslim selama itu adalah pilihan bebasnya dan independen. Mereka mudah saja masuk Islam ketika menemukan kebenaran disitu. Angela Collin menjadi Muslim dengan dukungan kedua orang tua. Ketika diwawancarai televisi NBC, orang tuanya justru merasa bangga karena Angela adalah seorang “independent person.” Nancy seorang remaja 15 tahun, masuk Islam setelah bergaul dekat temannya keluarga Pakistan dan keluarganya tidak mempermasalahkan walaupun telah lama hidup dalam tradisi Kristen.

Dampak Hubungan Islam – Barat

Perkembangan ini tentu akan berpengaruh signifikan terhadap hubungan Islam-Barat (Kristen) yang sudah mengalami ketegangan historis berabad-abad. Dengan pesatnya perkembangan umat Muslim di Amerika, Eropa dan negara-negara maju lainnya, akan berpengaruh signifikan terhadap beberapa hal. Pertama, masyarakat Barat akan lebih dekat dan lebih kenal dengan Islam melalui umat Islam yang ada di Barat sendiri. Mereka akan menjembatani kesalahafahaman yang selalu terjadi terhadap Islam dan kaum Muslimin. Ketidaksukaan masyarakat Barat terhadap Islam lebih karena the ignorance of Islam dan ini akan semakin berkurang. Umat Islam di Barat akan menjadi komunikator yang efektif dan duta-duta yang handal untuk menjelaskan dan memperlihatkan wajah Islam yang sesungguhnya di sana. Melalui mereka, nasib umat Islam diluar Barat akan disuarakan dan penderitaan demi penderitaan negara-negara Muslim akibat dominasi Barat yang kebijakannya sering yang tidak adil akan berkurang. Kedua, akibat dari ajaran Islam yang semakin tersosialisasi di Barat dan suara politik kaum Muslimin semakin kuat, jembatan untuk terciptanya saling pemahaman dan pengertian akan semakin kondusif dan menguat. Islam dan Barat mudah-mudahan akan masuk ke dalam sebuah equilibrium sejarah baru yang lebih adil, lebih fair dan lebih demokratis: “Ketika datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu akan melihat manusia masuk ke dalam agama Allah dengan berbondong-bondong!”. Wallahu a’alam!!

Penulis, Dosen UIN SGD Bandung, alumni Southeast Asian Studies, ANU Canberra.

sumber:http://moeflich.wordpress.com/2008/03/18/islam-di-amerika-keajaiban-bernama-911/

Penyebaran Agama Islam di Dunia yang Pesat

200 Ribu Orang Amerika Masuk Islam Setiap Tahunnya. Islam lambat laun akan segera mendominasi Dunia. Rasulullah Saw sejak awal kedatangan Islam telah mengabarkan hal tersebut.

Baru-baru ini beberapa media di Amerika Serikat mengabarkan meningkatnya orang Amerika yang memeluk Islam. Sebelumnya beberapa media juga telah mengabarkan orang Barat di Eropa yang masuk Islam meningkat. Surat kabar Amerika “An-Niqab” mengungkapkan bahwa Islam menyebar dengan sangat cepat di antara berbagai status sosial dan kelompok etnis masyarakat Amerika, khususnya Puerto Ricans, Dominika, Meksiko, Kuba, dan Spanyol, dimana sekitar 35% dari mereka adalah pelopor Islamic Center Hudson Utara di negara bagian New Jersey.

Sementara surat kabar Amerika “New York Times” menyebutkan: “Sebagian besar dari mereka yang masuk Islam di Amerika Serikat adalah dari komunitas Hispanik (keturunan Spanyol).

Bahkan dari hasil beberapa penelitian diperkirakan bahwa ada sekitar 200 ribu orang Hispanik yang masuk Islam di Amerika setiap tahunnya. Dan di antara mereka ini adalah Musa Franco, keturunan Kolombia yang masuk Islam ketika berusia 13 tahun.”


Surat kabar itu menambahkan: “Ada juga Miriam Celeste yang setelah masuk Islam pada tahun 2002, ia segera mulai berusaha untuk merancang pakaian dengan mengikuti trend modern, namun tetap dengan standar Islam.”

Surat kabar itu juga mengatakan bahwa seorang Muslimah bernama Rodriguez, yang setelah masuk Islam pada tahun 2009 memutuskan untuk memakai cadar (niqab), dan menjadi seorang Muslimah yang taat.

Di Amerika Serikat sekarang ini terdapat sekitar 2 juta kaum Muslim dari jumlah total penduduk Amerika, yaitu 310 juta jiwa. Perkembangan Islam tersebut akan terus tumbuh, seiring gencarnya dakwah Islam hingga suatu saat Islam benar-benar meliputi seluruh bagian muka bumi ini di bawah naungan Khilafah. Insya Allah, tidak akan lama lagi.

sumber:http://infosersanucok.blogspot.com/2011/04/islam-akan-mendominasi-dunia.html

Sejarah Islam di Amerika

SEJARAH peradaban dunia mencatat Columbus sebagai penemu benua Amerika. Hampir puluhan tahun kebenaran sejarah tersebut tidak dipertanyakan atau bahkan dibantah oleh para ahli sejarah mana pun. Belakangan banyak ahli sejarah yang membantah bahwa Columbus sebagai penemu Benua Amerika.
Dari deretan nama peneliti asing, muncul Fareed H Numan dalam American Muslim History A Cronological Observation, Youssef Mroueh dalam Muslim In The Americas Before Columbus, dan Ivan Van Sertima lewat They Came before Columbus dan African Presence in Early America. Penulis-penulis tersebut membantah Columbus sebagai penemu benua Amerika, karena faktanya muslim Afrika telah menjejak kaki jauh sebelum Columbus datang.
Berbagai fakta inilah yang ingin disampaikan Wisnu Arya Wardhana dalam buku ini ini. Fakta sejarah Columbus yang menemukan benua Amerika layak disanggah, pasalnya kedatangan Columbus ke benua tersebut bukan yang kali pertama sebelum kelompok lain. Columbus bahkan datang belakangan dan sempat meminta berbagai informasi mengenai benua tersebut pada muslim Afrika yang pernah ke sana.
Kelompok muslim Afrika disebut sebagai kelompok yang lebih dulu memasuki daratan Amerika. Sebagian besar muslim Afrika yang disinyalir dari daratan Mesir, Afrika, serta muslim dari Asia Arab dan Turki. Fakta dapat dijelaskan dari beberapa prasasti yang ditemukan di negara bagian California oleh Arkeolog Amerika Dr Barry Fell.
Berry Fell dalam Saga America mengemukakan bahwa terdapat prasasti bertuliskan Yesus Bin Maria. Menurut Fell frasa dalam prasasti tersebut bertuliskan bahasa Arab. Sementara Prasasti tersebut berusia jauh dari usia Amerika sendiri. Fell juga menemukan beberapa prasasti di California berupa pelajaran Matematika, Geografi, Sejarah, Astronomi, dan Navigasi laut dalam bahasa Arab. Sementara bahasa Arab yang dipakai adalah bahasa Arab Kufi sebagaimana banyak dipakai oleh muslim Afrika Utara. Prasasti tersebut bertarikhkan 800 Masehi atau tujuh abad sebelum kedatangan Columbus (halaman 206-207).
Amerigo Vespuci
Columbus sendiri melakukan perjalanan ke benua Amerika pada 1492 M. Ia beserta rombongan utusan Kerajaan Spanyol meninggalkan Spanyol pada 3 Agustus 1492 dan baru singgah di Amerika tiga bulan kemudian, yakni 12 Oktober 1492. Perjalanan Columbus ini dicatat oleh seorang juru tulis kerajaan Spanyol yang bernama Amerigo Vespuci.
Keberhasilan Columbus ini diagung-agungkan oleh Spanyol yang mengklaim bahwa merekalah yang menemukan benua biru yang kemudian dikenal dengan Amerika. Hingga akhirnya Raja Ferdinand II, yang memerintah Kerajaan Spanyol ketika itu, memberi kepercayaan pada Columbus untuk terus melakukan ekspansi wilayah-wilayah baru untuk dijadikan koloni.
Columbus merupakan pahlawan Spanyol serta mendapatkan penghargaan berupa ”king cross”. Keberhasilannya juga memberi inspirasi pada negara-negara di Eropa untuk melakukan hal serupa, yakni kolonialisasi ke negara-negara Amerika utara, Amerika Selatan, termasuk ke Asia. Hal ini dapat dipahami karena negara-negara di Eropa pada saat itu telah memiliki peradaban yang tinggi.
Columbus mendapat mandat kepercayaan kerajaan untuk terus melakukan pelayaran pada daerah baru. Tercatat empat kali perjalanan Columbus ke Amerika termasuk ke negara-negara Amerika Selatan (latin). Perjalanan kedua terjadi pada tahun 1493-1496 Columbus mencapai beberapa daerah di antaranya; Dominika, Marie Galante, Los Santo dan Guadalupe. Perjalanan ketiga terjadi pada 1498-1500, Columbus menginjakkan kaki di Trinidad. Dan perjalanan terakhir tahun 1502-1504, Columbus mencapai Jamaika.
Banyak catatan perjalanan Columbus yang tidak dilaporkan pada kerajaan Spanyol. Di antaranya adalah berbagai daerah yang dikunjungi, ditemukan dan ditaklukkan tidak dilaporkan keberadaannya pada Raja Ferdinand II. Misalnya penemuan bangunan masjid di Cuba yang memiliki arsitektur seperti di masjid-masjid di Afrika Utara. Keberadaan penduduk yang telah mengenal peradaban ëmoderní juga tidak dilaporkan pada kerajaan Spanyol.
Tidak dilaporkannya beberapa temuan dan keadaan daerah kolomi Spanyol dimungkinkan beberapa hal. Pertama, Columbus tidak ingin apa yang telah dicapainya dianggap sia-sia karena daerah-daerah yang telah ”ditemukan” sebenarnya bukan daerah baru. Hal ini terkait dengan dana besar yang telah dikeluarkan Kerajaan Spanyol untuk membiayai pelayaran Columbus.
Kepentingan Pribadi
Kedua, jika diketahui bahwa daerah yang ditemukannya pernah dikunjungi kelompok lain Columbus khawatir tidak mendapatkan gelar kehormatan dari kerajaan. Padahal gelar tersebut sangat diperebutkan oleh petinggi kerajaan; Baron, Senor, dan Senorita. Secara tidak langsung Columbus juga memanfaatkan hal ini untuk kepentingan pribadinya. Dijadikannya Columbus menjadi gubernur senior yang mengawasi beberapa daerah koloni merupakan bukti (halaman 161-163).
Columbus memang menjadi pahlawan bagi Spanyol dan negara-negara Eropa, karena telah memberi jalan dan inspirasi kolonialisasi di berbagai negara. Columbus banyak meninggalkan catatan penting bagi peradaban Eropa, namun juga meninggalkan catatan negatif bagi daerah koloni. Columbus juga dituduh telah menggelapkan sejarah dengan tidak menulis fakta yang sejatinya ia lihat.
Apa yang ditulis dalam buku ini tidak hanya melulu bantahan bahwa Columbus bukan orang pertama yang datang atau menemukan Amerika, namun juga berbagai fakta terkait dengan Columbus di daerah koloni. Meskipun dengan keterbatasan catatan sejarah namun buku ini cukup untuk membuka wawasan baru dari sejarah Columbus dan catatan Islam di Amerika.

sumber:http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/entertainmen/2009/08/23/1416/Jejak-Islam-di-Amerika

Sejarah Islam di Negeri Tirai Bambu (Cina)


"Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri Cina," begitu kata petuah Arab. Jauh sebelum ajaran Islam diturunkan Allah SWT, bangsa Cina memang telah mencapai peradaban yang amat tinggi. Kala itu, masyarakat Negeri Tirai Bambu sudah menguasai beragam khazanah kekayaan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Tak bisa dipungkiri bahwa umat Islam juga banyak menyerap ilmu pengetahuan serta peradaban dari negeri ini. Beberapa contohnya antara lain, ilmu ketabiban, kertas, serta bubuk mesiu. Kehebatan dan tingginya peradaban masyarakat Cina ternyata sudah terdengar di negeri Arab sebelum tahun 500 M.

Sejak itu, para saudagar dan pelaut dari Arab membina hubungan dagang dengan `Middle Kingdom' - julukan Cina.

Untuk bisa berkongsi dengan para saudagar Cina, para pelaut dan saudagar Arab dengan gagah berani mengarungi ganasnya samudera. Mereka `angkat layar' dari Basra di Teluk Arab dan kota Siraf di Teluk Persia menuju lautan Samudera Hindia.

Sebelum sampai ke daratan Cina, para pelaut dan saudagar Arab melintasi Srilanka dan mengarahkan kapalnya ke Selat Malaka. Setelah itu, mereka berlego jangkar di pelabuhan Guangzhou atau orang Arab menyebutnya Khanfu. Guangzhou merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan tertua di Cina. Sejak itu banyak orang Arab yang menetap di Cina.

Ketika Islam sudah berkembang dan Rasulullah SAW mendirikan pemerintahan di Madinah, di seberang lautan Cina tengah memasuki periode penyatuan dan pertahanan. Menurut catatan sejarah awal Cina, masyarakat Tiongkok pun sudah mengetahui adanya agama Islam di Timur Tengah. Mereka menyebut pemerintahan Rasulullah SAW sebagai Al-Madinah.

Orang Cina mengenal Islam dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti 'agama yang murni'. Masyarakat Tiongkok menyebut Makkah sebagai tempat kelahiran 'Buddha Ma-hia-wu' (Nabi Muhammad SAW). Terdapat beberapa versi hikayat tentang awal mula Islam bersemi di dataran Cina. Versi pertama menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina dibawa para sahabat Rasul yang hijrah ke al-Habasha Abyssinia (Ethopia). Sahabat Nabi hijrah ke Ethopia untuk menghindari kemarahan dan amuk massa kaum Quraish jahiliyah. Mereka antara lain; Ruqayyah, anak perempuan Nabi; Usman bin Affan, suami Ruqayyah; Sa'ad bin Abi Waqqas, paman Rasulullah SAW; dan sejumlah sahabat lainnya.

Para sahabat yang hijrah ke Etopia itu mendapat perlindungan dari Raja Atsmaha Negus di kota Axum. Banyak sahabat yang memilih menetap dan tak kembali ke tanah Arab. Konon, mereka inilah yang kemudian berlayar dan tiba di daratan Cina pada saat Dinasti Sui berkuasa (581 M - 618 M).

Sumber lainnya menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina ketika Sa'ad Abi Waqqas dan tiga sahabatnya berlayar ke Cina dari Ethopia pada tahun 616 M. Setelah sampai di Cina, Sa'ad kembali ke Arab dan 21 tahun kemudian kembali lagi ke Guangzhou membawa kitab suci Alquran.

Ada pula yang menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina pada 615 M - kurang lebih 20 tahun setelah Rasulullah SAW tutup usia. Adalah Khalifah Utsman bin Affan yang menugaskan Sa'ad bin Abi Waqqas untuk membawa ajaran Illahi ke daratan Cina. Konon, Sa'ad meninggal dunia di Cina pada tahun 635 M. Kuburannya dikenal sebagai Geys' Mazars.

Utusan khalifah itu diterima secara terbuka oleh Kaisar Yung Wei dari Dinasti Tang. Kaisar pun lalu memerintahkan pembangunan Masjid Huaisheng atau masjid Memorial di Canton - masjid pertama yang berdiri di daratan Cina. Ketika Dinasti Tang berkuasa, Cina tengah mencapai masa keemasan dan menjadi kosmopolitan budaya. Sehingga, dengan mudah ajaran Islam tersebar dan dikenal masyarakat Tiongkok.

Pada awalnya, pemeluk agama Islam terbanyak di Cina adalah para saudagar dari Arab dan Persia. Orang Cina yang pertama kali memeluk Islam adalah suku Hui Chi. Sejak saat itu, pemeluk Islam di Cina kian bertambah banyak. Ketika Dinasti Song bertahta, umat Muslim telah menguasai industri ekspor dan impor. Bahkan, pada periode itu jabatan direktur jenderal pelayaran secara konsisten dijabat orang Muslim.

Pada tahun 1070 M, Kaisar Shenzong dari Dinasti Song mengundang 5.300 pria Muslim dari Bukhara untuk tinggal di Cina. Tujuannya untuk membangun zona penyangga antara Cina dengan Kekaisaran Liao di wilayah Timur Laut. Orang Bukhara itu lalu menetap di di antara Kaifeng dan Yenching (Beijing). Mereka dipimpin Pangeran Amir Sayyid alias 'So-Fei Er'. Dia bergelar `bapak' komunitas Muslim di Cina.

Ketika Dinasti Mongol Yuan (1274 M -1368 M) berkuasa, jumlah pemeluk Islam di Cina semakin besar. Mongol, sebagai minoritas di Cina, memberi kesempatan kepada imigran Muslim untuk naik status menjadi Cina Han. Sehingga pengaruh umat Islam di Cina semakin kuat. Ratusan ribu imigran Muslim di wilayah Barat dan Asia Tengah direkrut Dinasti Mongol untuk membantu perluasan wilayah dan pengaruh kekaisaran.

Bangsa Mongol menggunakan jasa orang Persia, Arab dan Uyghur untuk mengurus pajak dan keuangan. Pada waktu itu, banyak Muslim yang memimpin korporasi di awal periode Dinasti Yuan. Para sarjana Muslim mengkaji astronomi dan menyusun kalender. Selain itu, para arsitek Muslim juga membantu mendesain ibu kota Dinasti Yuan, Khanbaliq.

Pada masa kekuasaan Dinasti Ming, Muslim masih memiliki pengaruh yang kuat di lingkaran pemerintahan. Pendiri Dinasti Ming, Zhu Yuanzhang adalah jenderal Muslim terkemuka, termasuk Lan Yu Who. Pada 1388, Lan memimpin pasukan Dinasti Ming dan menundukkan Mongolia. Tak lama setelah itu muncul Laksamana Cheng Ho - seorang pelaut Muslim andal.

Saat Dinasti Ming berkuasa, imigran dari negara-negara Muslim mulai dilarang dan dibatasi. Cina pun berubah menjadi negara yang mengisolasi diri. Muslim di Cina pun mulai menggunakan dialek bahasa Cina. Arsitektur Masjid pun mulai mengikuti tradisi Cina. Pada era ini Nanjing menjadi pusat studi Islam yang penting. Setelah itu hubungan penguasa Cina dengan Islam mulai memburuk.

Masa Surut Islam di Daratan Cina

Hubungan antara Muslim dengan penguasa Cina mulai memburuk sejak Dinasti Qing (1644-1911) berkuasa. Tak cuma dengan penguasa, relasi Muslim dengan masyarakat Cina lainnya menjadi makin sulit. Dinasti Qing melarang berbagai kegiatan Keislaman.

Menyembelih hewan qurban pada setiap Idul Adha dilarang. Umat Islam tak boleh lagi membangun masjid. Bahkan, penguasa dari Dinasti Qing juga tak membolehkan umat Islam menunaikan rukun Islam kelima - menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah.

Taktik adu domba pun diterapkan penguasa untuk memecah belah umat Islam yang terdiri dari bangsa Han, Tibet dan Mogol. Akibatnya ketiga suku penganut Islam itu saling bermusuhan. Tindakan represif Dinasti Qing itu memicu pemberontakan Panthay yang terjadi di provinsi Yunan dari 1855 M hingga 1873 M.

Setelah jatuhnya Dinasti Qing, Sun Yat Sen akhirnya mendirikan Republik Cina. Rakyat Han, Hui (Muslim), Meng (Mongol) dan Tsang (Tibet) berada di bawah Republik Cina. Pada 1911, Provinsi Qinhai, Gansu dan Ningxia berada dalam kekuasaan Muslim yakni keluarga Ma.

Kondisi umat Islam di Cina makin memburuk ketika terjadi Revolusi Budaya. Pemerintah mulai mengendorkan kebijakannya kepada Muslim pada 1978. Kini Islam kembali menggeliat di Cina. Hal itu ditandai dengan banyaknya masjid serta aktivitas Muslim antaretnis di Cina.

Tokoh Muslim Terkemuka dari Tiongkok

Dominasi peran Muslim dalam lingkaran kekuasaan dinasti-dinasti Cina pada abad pertengahan telah melahirkan sejumlah tokoh Muslim terkemuka. Mereka adalah:

Pelaut dan Penjelajah
* Cheng Ho atau Zheng He: Laksamana Laut Cina yang menjelajahi dua benua dalam tujuh kali ekspedisi.
* Fei Xin: Penerjemah andalan Cheng Ho.
* Ma Huan: Seorang pengikut Ceng Ho.

Militer
* Jenderal pendiri Dinasti Ming: Chang Yuchun, Hu Dahai, Lan Yu, Mu Ying.
* Pemimpin pemberontakan Panthay: Du Wenxiu, Ma Hualong.
* Kelompok tentara Ma selama era Republik Cina: Ma Bufang, Ma Chung-ying, Ma Fuxiang, Ma Hongkui, Ma Hongbin, Ma Lin, Ma Qi, Ma Hun-shan Bai Chongxi.

Sarjana dan Penulis
* Bai Shouyi, sejarawan.
* Tohti Tunyaz, sejarawan.
* Yusuf Ma Dexin, penerjemah Alquran pertama ke dalam bahasa Cina.
* Muhammad Ma Jian, penulis dan peberjemah Alquran terkemuka.
* Liu Zhi, penulis di era Dinasti Qing.
* Wang Daiyu, ahli astronomi pada era Dinasti Ming.
* Zhang Chengzhi, penulis kontemporer.

Politik
* Hui Liangyu, Wakil Perdana Menteri Urusan Pertanian RRC
* Huseyincan Celil, Imam Uyghur yang dipenjara di Cina
* Xabib Yunic, Menteri Pendidikan Second East Turkistan Republic
* Muhammad Amin Bughra, Wakil Ketua Second East Turkistan Republic

Lainnya
* Noor Deen Mi Guangjiang, ahli kaligrafi.
* Ma Xianda, ahli beladiri.
* Ma Menta, pengurus Federasi Wushu Tongbei Rusia

sumber:http://deardesy.blogspot.com/2010/08/hikayat-islam-di-negeri-tirai-bambu.html

Saturday, March 5, 2011

Amr bin ash dengan si yahudi tua

Sejak menjabat gubernur, Amr bin Ash tidak lagi pergi ke medan tempur. Dia lebih sering tinggal di istana. Di depan istananya yang mewah itu ada sebidang tanah yang luas dan sebuah gubuk reyot milik seorang Yahudi tua.
"Alangkah indahnya bila di atas tanah itu berdiri sebuah mesjid," gumam sang gubernur.

Singkat kata, Yahudi tua itu pun dipanggil menghadap sang gubernur untuk bernegosiasi. Amr bin Ash sangat kesal karena si kakek itu menolak untuk menjual tanah dan gubuknya meskipun telah ditawar lima belas kali lipat dari harga pasaran.

"Baiklah bila itu keputusanmu. Saya harap Anda tidak menyesal!" ancam sang gubernur.

Sepeninggal Yahudi tua itu, Amr bin Ash memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan surat pembongkaran. Sementara si kakek tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis. Dalam keputusannya terbetiklah niat untuk mengadukan kesewenang- wenangan gubernur Mesir itu pada Khalifah Umar bin Khattab.

"Ada perlu apa kakek, jauh-jauh dari Mesir datang ke sini?" tanya Umar bin Khattab. Setelah mengatur detak jantungnya karena berhadapan dengan seorang khalifah yang tinggi besar dan full wibawa, si kakek itu mengadukan kasusnya. Padahal penampilan khalifah Umar amat sederhana untuk ukuran pemimpin yang memiliki kekuasaan begitu luas. Dia ceritakan pula bagaimana perjuangannya untuk memiliki rumah itu.

Merah padam wajah Umar begitu mendengar penuturan orang tua itu.
"Masya Allah, kurang ajar sekali Amr!" kecam Umar.
"Sungguh Tuan, saya tidak mengada-ada," si kakek itu semakin gemetar dan kebingungan.
Dan ia semakin bingung ketika Umar memintanya mengambil sepotong tulang, lalu menggores tulang itu dengan pedangnya.

"Berikan tulang ini pada gubernurku, saudara Amr bin Ash di Mesir," kata sang Khalifah, Al Faruq, Umar bin Khattab.

Si Yahudi itu semakin kebingungan, "Tuan, apakah Tuan tidak sedang mempermainkan saya!" ujar Yahudi itu pelan.

Dia cemas dan mulai berpikir yang tidak-tidak. Jangan-jangan khalifah dan gubernur setali tiga uang, pikirnya. Di manapun, mereka yang mayoritas dan memegang kendali pasti akan menindas kelompok minoritas, begitu pikir si kakek. Bisa jadi dirinya malah akan ditangkap dan dituduh subversif.

Yahudi itu semakin tidak mengerti ketika bertemu kembali dengan Gubernur Amr bin Ash. "Bongkar masjid itu!" teriak Amr bin Ash gemetar. Wajahnya pucat dilanda ketakutan yang amat sangat. Yahudi itu berlari keluar menuju gubuk reyotnya untuk membuktikan sesungguhan perintah gubernur. Benar saja, sejumlah orang sudah bersiap-siap menghancurkan masjid megah yang sudah hampir jadi itu.

"Tunggu!" teriak sang kakek. "Maaf, Tuan Gubernur, tolong jelaskan perkara pelik ini. Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu sampai-sampai Tuan berani memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan yang amat mahal ini. Sungguh saya tidak mengerti!" Amr bin Ash memegang pundak si kakek, "Wahai kakek, tulang itu hanyalah tulang biasa, baunya pun busuk."
"Tapi....." sela si kakek.

"Karena berisi perintah khalifah, tulang itu menjadi sangat berarti.
Ketahuilah, tulang nan busuk itu adalah peringatan bahwa berapa pun tingginya kekuasaan seseorang, ia akan menjadi tulang yang busuk. Sedangkah huruf alif yang digores, itu artinya kita harus adil baik ke atas maupun ke bawah. Lurus seperti huruf alif. Dan bila saya tidak mampu menegakkan keadilan, khalifah tidak segan-segan memenggal kepala saya!" jelas sang gubernur.

"Sungguh agung ajaran agama Tuan. Sungguh, saya rela menyerahkan tanah dan gubuk itu. Dan bimbinglah saya dalam memahami ajaran Islam!" tutur si kakek itu dengan mata berkaca-kaca.

sumber:http://hukmulislam.blogspot.com/2010/11/amr-bin-ash-dengan-si-yahudi-tua.html

Friday, March 4, 2011

RISALAH SEKITAR BERITA MANUSIA SINGGAH DI BULAN

Segala puji hanya untuk Allah k Rabb semesta alam, sholawat dan salam semoga selalu tercurah kehadirat baginda nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya dan shahabatnya serta orang-orang yang selalu mengikuti mereka dengan kebaikan sampai hari kiamat.

Telah mutawatir berita singgahnya pesawat antariksa di daratan bulan, setelah percobaan yang berulang-ulang yang mencurahkan kemampuan pemikiran, materi dan tekhnologi selama bertahun-tahun. Dan berita ini telah menimbulkan berbagai pertanyaan dan diskusi di antara manusia.

Ada yang mengatakan bahwa hal itu bertentangan dengan al-Qur’an. Tetapi ada juga yang mengatakan bahwa hal itu benar, bahkan al-Qur’an pun telah menguatkannya.

Orang-orang yang menyangka bahwa berita itu menyelisihi al-Qur’an mengatakan: “Bahwa Allah telah memberitakan bahwa bulan itu berada di langit. Allah berfirman:

تَبَارَكَ الَّذِي جَعَلَ فِي السَّمَآءِ بُرُوجًا وَجَعَلَ فِيهَا سِرَاجًا وَقَمَرًا مُّنِيرًا

“Maha suci Allah yang menjadikan di langit gugusan-gugusan bintang dan Dia menjadikan padanya matahari dan bulan yang bercahaya”.[(Al-Furqan:61]

Dan Dia juga berfirman:

وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا

"Allah menjadikan padanya bulan sebagai cahaya, dan menjadikan matahari sebagai pelita” [Nuh :16]

Apabila bulan itu berada di langit maka tidak mungkin mencapai ke sana, karena Allah telah menjadikan langit sebagai atap bumi yang dijaga. Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai makhluk yang paling mulia, dan bersamanya malaikat yang paling mulia, yaitu Jibril, (harus) meminta izin dan minta dibukakan pada tiap-tiap langit pada malam mi’raj. Mereka berdua tidak bisa langsung masuk kecuali setelah dibukakan untuk keduanya. Maka bagaimana mungkin hasil karya manusia bisa singgah di daratan bulan, padahal bulan itu berada di langit yang dijaga.

Sedangkan orang-orang yang beranggapan bahwa al-Qur’an menguatkan berita tersebut, mereka mengatakan: Bahwa Allah berfirman:

يَامَعْشَرَ الْجِنِّ وَاْلإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ فَانفُذُوا لاَتَنفُذُونَ إِلاَّ بِسُلْطَانٍ

"Wahai jama’ah jin dan manusia jika kamu sanggup menembus/melintasi penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak akan bisa menembusnya melainkan dengan sulthan (kekuatan)." [Al-Rahman: 33]

Sulthan (kekuatan) yang dimaksud pada ayat di atas adalah ilmu. Sedangkan mereka mampu melintasi penjuru dunia dengan ilmu, maka perbuatan mereka ini sesuai dengan Al-Qur’an dan tafsirnya.

Jika memang terbukti kebenaran berita yang telah mutawatir tentang turunnya pesawat ruang angkasa di daratan bulan, maka yang nampak bagiku adalah bahwa al-Qur’an tidak mendustakannya dan tidak membenarkannya. Tidak ada nash yang jelas di dalam al-Qur’an yang menyelisihinya, sebagaimana tidak ada di dalam al-Qur’an yang membenarkannya dan menguatkannya.

A). Adapun bahwa al-Qur’an tidak menyelisihi berita tersebut, sebab al-Qur’an adalah firman Allah Azza wa Jalla yang ilmuNya meliputi segala sesuatu.
Allah mengetahui perkara-perkara yang lampau, maupun perkara-perkara yang sedang terjadi, dan perkara-perkata yang akan datang, baik yang dilakukan oleh Allah sendiri maupun yang dilakukan oleh makhlukNya. Maka setiap yang telah terjadi atau akan terjadi, di langit atau di bumi, dari perkara yang kecil sampai perkara yang besar, yang nampak atau pun yang tidak nampak, sesungguhnya Allah mengetahui segalanya, dan perkara itu tidak akan tejadi kecuali dengan kehendak dan perintahNya, tidak lagi perdebatan dalam masalah itu.

Apabila demikian, sedangkan al-Qur’an adalah kalam Allah, dan Allah yang paling benar perkataanNya, dan siapakah perkataannya yang lebih benar dari perkataan Allah? Dan perkataanNya adalah sebaik-baik perkataan, dan paling nyata penjelasannya, dan siapakah perkataannya yang lebih baik dari perkataanNya? Maka tidaklah mungkin selamanya firmanNya yang berasal dari ilmuNya, yang merupakan puncak kebenaran dan penjelasan, bertentangan dengan kenyataan yang bisa dibuktikan. Demikian juga tidak mungkin selamanya ada kenyataan yang bisa dibuktikan bertentangan dengan nash al-Qur’an yang nyata.

Maka barang siapa yang memahami bahwa di dalam al-Qur’an ada sesuatu hal yang meyelisihi kenyataan, atau bahwa ada kenyataan yang bisa dibuktikan menyelisihi al-Qur’an, maka pemahamannya itu salah fatal.

Sedangkan ayat-ayat yang dianggap oleh sebagian orang menunjukkan keberadaan bulan di langit, maka pada ayat-ayat itu tidak ada penjelasan nyata yang menunjukkan bahwa bulan menempel dengan langit, yang langit itu sebagai atap bumi yang dijaga.

Memang, zhahir perkataan menunjukkan bahwa bulan berada di langit, akan tetapi jika telah nyata sampainya pesawat ruang angkasa di daratan bulan, maka hal tersebut sebagai bukti bahwa bulan tidak berada di langit bumi, yang merupakan atap bumi yang dijaga, akan tetapi bulan itu berada di orbit (garis edar) nya, yang terletak di antara langit dan bumi. Sebagaimana firman Allah:

وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ الَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

"Dan Dialah yang menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan, masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya”. [Al-Anbiya’ 33]

Pada ayat lain Allah berfirman :

لاَالشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَآ أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلاَالَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ

"Tidaklah mungkin bagi matahari untuk mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang, dan masing-masing beredar pada garis edarannya" [Yasin:40]

Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu berkata: “Semua itu beputar sebagaimana alat tenun berputar pada tempat berputarnya.”

Ats-Tsa’laby dan Al-Mawardi menyebutkan dari Hasan al-Basry bahwa ia pernah berkata: “Matahari, bulan dan bintang berada pada orbitnya masing-masing yang terletak di antara langit dan bumi, tidak menempel pada langit, kalaulah menempel dengannya maka tidak mungkin bisa berputar”. Al-Qurthubi menyebutkan dari keduanya pada tafsir surat Yasin.

Perkataan bahwa matahari dan bulan berada orbitnya yang terletak antara langit dan bumi, hal ini tidak bertentangan dengan apa yang dikahabarkan oleh Allah bahwa keduanya berada di langit. Karena perkataan langit terkadang berarti setiap sesuatu yang tinggi. Ibnu Qutaibah berkata: “Setiap yang ada di atasmu disebut langit”. Jadi arti matahari dan bulan berada di langit, yaitu berada di ketinggian, atau di arah langit. Dan ada juga kata “langit” di dalam al-Qur’an dengan arti ketinggian. Sebagaimana di dalam firman Allah Azza wa Jalla:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَآءِ مَآءً مُبَارَكًا

"Dan Kami turunkan air yang membawa berkah dari langit (ketinggian)". [Qaf: 9]

Yang dimaksudkan adalah hujan, dimana hujan turun bukan dari awan yang dijalankan di antara langit dan bumi.

Apabila memang benar apa yang mereka sebutkan tentang mendaratnya (pesawat ruang angkasa di) bulan, maka hal itu menambahkan ilmu kepada kita tentang ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah yang agung ini. Yaitu bahwa planet bulan yang besar ini, juga planet lain yang lebih besar, berputar pada orbitnya yang terletak antara langit dan bumi sampai waktu yang Allah tentukan, dimana ia tidak berubah, tidak maju dan tidak mundur dari perjalanan yang telah ditetapkan padanya oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Dan bersamaan dengan itu, kadang-kadang bulan menyinari dengan sempurna sehingga menjadi bulan purnama, dan kadang-kadang sebagiannya saja yang bersinar sehingga menjadi bulan biasa atau bulan sabit, yang demikian itu merupakan ketetapan yang Maha Kuasa lagi Maha Mengetahui.

Sedangkan perkara yang tersebar bahwa bulan berada di langit bumi, bintang merkuri berada di langit ke dua, venus berada di langit ketiga, matahari berada di langit ke empat, planet Mars berada di langit ke lima, Yupiter berada di langit ke enam, dan Saturnus berada di langit ke tujuh, maka sesungguhnya hal ini diambil dari para ilmuwan astronomi, yang tidak ada hadits yang shahih dari Rasul n . Yang hal itu ditunjukkan oleh perkataan Ibnu Katsir –yang beliau mempunyai wawasan yang luas- ketika mengomentari masalah matahari berada pada langit ke empat, beliau berkata: “Tidak ada di dalam syari’at yang menafikan hal itu, bahkan penglihatan –yaitu di waktu terjadi gerhana- menunjukkan tentang hal itu.”

Perkataan beliau: “Tidak ada di dalam syari’at yang menafikan”, dan pengambilan dalil yang beliau lakukan tentang kebenaran hal di atas berdasarkan penglihatan menunjukkan bahwa tidak ada di dalam syari’at sesuatu yang menetapkan bahwa matahari berada pada langit ke empat. Wallah a’lam.

B). Adapun keadaan al-Qur’an yang tidak menunjukkan sampainya pesawat antariksa ke bulan, karena orang-orang yang menyangka hal itu berdalil dengan firman Allah:

يَامَعْشَرَ الْجِنِّ وَاْلإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ فَانفُذُوا لاَتَنفُذُونَ إِلاَّ بِسُلْطَانٍ

"Wahai Jin dan manusia jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi maka lintasilah, kamu tidak akan dapat melintasinya melainkan dengan sulthan (kekuatan)". [ar-Rahman: 33]

Mmereka menafsirkan kata sulthan (kekuatan) pada ayat tersebut dengan ilmu.

Pengambilan dalil ini tertolak dari berbagai segi:
1. Bahwa rangkaian ayat di atas menunjukkan bahwa tantangan ini akan terjadi pada hari kiamat nanti. Dan hal itu akan nampak jelas bagi siapa saja yang membaca surat tersebut dari awal. Karena pada awal surat ini Allah menyebutkan permulaan penciptaan jin dan manusia dan apa-apa yang ada di penjuru langit dan bumi yang Allah tundukkan terhadap para hambaNya. Kemudian Allah menceritakan akan binasanya apa saja yang ada padanya. Kemudian Allah berfirman:

سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَ الثَّقَلاَنِ

"Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin". [Ar-Rahman : 31]

Makna dari ayat di atas adalah perhitungan Allah terhadap makhlukNya (jin dan manusia), kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala menantang makhlukNya dari golongan jin bahwa tidak ada tempat pelarian buat mereka, baik dari penjuru langit maupun dari penjuru bumi. Maka mereka tidak akan bisa lari, dan mereka tidak memiliki kekuatan untuk saling menolong sehingga selamat dari hukuman Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan kemudian Allah mengiringinya dengan menyebutkan balasan untuk orang yang berbuat jelek dengan balasan yang setimpal, dan untuk orang yang berbuat kebaikan dengan apa yang mereka harapkan.

Tidak ada keraguan bahwa susunan (rangkaian) perkataan itu menjelaskan dan menentukan arti. Mungkin ada kalimat yang sesuai pada satu tempat akan tetapi tidak sesuai (maknanya) pada tempat yang lain.

Anda mungkin kadang melihat satu kalimat yang mempunyai dua makna yang saling bertentangan, tetapi maksudnya dapat ditentukan dari keduanya berdasarkan rangkaian/susunan perkataan. Sebagaimana hal itu dikenal pada kata-kata yang memiliki arti yang bertentangan di dalam bahasa (Arab).

Kalau dimungkinkan ayat yang mulia tersebut merupakan berita tentang apa yang akan terjadi di dunia, tetapi sesungguhnya ayat tersebut pada posisi ini tidak sesuai sebagai berita tentang apa yang terjadi di dunia, bahkan telah pasti -berdasarkan rangkaian yang mendahului dan menyusul ayat tersebut- bahwa ayat tersebut merupakan ancaman dan pernyataan tidak mampu yang akan terjadi pada hari kiamat.

2. Sesungguhnya seluruh ahli tafsir menyebutkan bahwa ayat tersebut merupakan ancaman dan pernyataan tidak mampu (terhadap para jama’ah jin dan manusia), dan mayorits ahli tafsir menyatakan bahwa hal itu akan terjadi pada hari kiamat.

Syaikh Muhammad al-Amin as-Syanqity berkomentar tentang ayat ini di dalam surat al-Hijr pada firman Allah:

وَلَقَدْ جَعَلْنَا فِي السَّمَآءِ بُرُوجًا وَزَيَّنَّاهَا لِلنَّاظِرِينَ

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit bagi orang-orang yang memandanginya". [Al Hijr:16-17]

Syaikh Muhammad al-Amin as-Syanqity mensifati orang yang menganggap bahwa ayat itu mengisyaratkan (manusia) dapat mencapai ke langit sebagai orang yang tidak mempunyai ilmu terhadap kitab Allah Subhanahu wa Ta'ala.

3. Sesungguhnya jikalau ayat tersebut merupakan berita tentang apa yang akan terjadi, maka makna ayat itu adalah: “Wahai jama’ah jin dan manusia sesungguhnya kamu tidak akan sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi kecuali dengan ilmu”. Kalau demikian, maka itu merupakan sesuatu yang sudah nyata (tidak perlu diberitakan). Karena sesungguhnya segala sesuatu tidaklah bisa dicapai kecuali dengan mengilmui sebab-sebab untuk mencapainya dan mampu untuk melaksanakannya.

Maka arti tersebut menghilangkan keindahan dari makna dan posisi ayat. Karena ayat itu dimulai dengan peringatan yang keras, yaitu dengan firman Allah:

سَنَفْرُغُ لَكُمْ أَيُّهَ الثَّقَلاَنِ

"Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu hai manusia dan jin". [ar-Rahman :31]

Kemudian diiringi dengan ancaman yang keras di dalam firmanNya:

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِّن نَّارٍ وَنُحَاسٌ فَلاَ تَنتَصِرَانِ

"Kepadamu (jin dan manusia) dilepaskan nyala api dan cairan tembaga, maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri(daripadanya)". [Ar-Rahman : 35]

4. Nampak sekali bahwa ayat ini menunjukkan tentang tantangan ( Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap jin dan manusia). Karena:
a). Rangkaian ayat, baik sebelum ataupun sesudahnya.
b). Bahwa disebutkannya jama’ah jin dan manusia bersama-sama sebagai satu jama’ah, hal itu semisal firman Allah Subhanhu wa Ta'ala :

قُل لَّئِنِ اجْتَمَعَتِ اْلإِنسُ وَالْجِنُّ عَلَى أَن يَأْتُوا بِمِثْلِ هَذَا الْقُرْءانِ لاَيَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْكَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

"Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa al-Qur'an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain". [Al-Israa:88]

c). Bahwa firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : إِنِ اسْتَطَعْتُمْ (Jika kamu sanggup), nyata sebagai tantangan (Allah Subhanahu wa Ta'ala terhadap/kepada jin dan manusia ), apalagi ayat itu menggunakan kata (إنْ), bukan dengan kata إذا karena إذا menunjukkan kemungkinan terjadinya syarat, berbeda dengan kata إنْ

5. Sesungguhnya jika arti dari ayat tersebut sebagai berita, maka menngandung pujian bagi mereka, dimana mereka bisa mengerjakan dan menyelidiki apa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala cemoohkan mereka, sehingga mereka dapat singgah di bulan. Sedangkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para shahabatnya tidak bisa menggapainya, padahal mereka adalah orang-orang yang paling cepat mengerjakan perintah yang diserukan oleh Qur’an.

6. Sesungguhnya hukum di dalam ayat yang mulia mencakup jin dan manusia, padahal telah maklum bahwa ketika turunnya al-Qur’an jin mampu melintasi dari penjuru bumi menuju ke penjuru langit, sebagaimana Allah l menceritakan tentang mereka:

وَأَنَّا لَمَسْنَا السَّمَآءَ فَوَجَدْنَاهَا مُلِئَتْ حَرَسًا شَدِيدًا وَشُهُبًا وَأَنَّا كُنَّا نَقْعُدُ مِنْهَا مَقَاعِدَ لِلسَّمْعِ فَمَن يَسْتَمِعِ اْلأَنَ يَجِدْ لَهُ شِهَابًا رَّصَدًا

"Dan sesungguhnya kami (para jin) telah mencoba mengetahui (rahasia) langit, maka kami mendapatinya penuh dengan penjagaan yang kuat dan panah-panah api yang mengintai ( untuk membakarnya)" [Al-Jin: 8-9]

Kalau demikian, maka bagaimana Allah menyatakan mereka lemah terhadap sesuatu yang mereka mampu melakukannya (melintasi penjuru bumi dan langit). Apabila ada yang berkata: “Sesungguhnya mereka tidak bisa (melintasi penjuru langit dan bumi) setelah diutusnya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka kami katakan bahwa ini menunjukkan bahwa maksud ayat itu untuk menyatakan mereka lemah, bukan sebagai berita.

7. Bahwa ayat yang mulia tersebut diiringi dengan firman Allah:

يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِّن نَّارٍ وَنُحَاسٌ فَلاَ تَنتَصِرَانِ

"Kepada kamu (jin dan manusia) akan dilepaskan nyala api dan cairan tembaga, maka kamu tidak dapat menyelamatkan diri dari padanya". [Ar-Rahman: 35]

Dan makna ayat tersebut adalah–Wallahu A’lam-: “Sesungguhnya kamu wahai jama’ah jin dan manusia, jika kamu berusaha melintasi langit maka Allah benar-benar akan melepaskan kepadamu nyala api dan cairan tembaga”. Padahal sudah diketahui bahwa roket-roket (pesawat-pesawat antariksa) itu tidak dikejar oleh nyala api dan cairan tembaga, maka bagaimana mungkin hal itu adalah yang dimaksudkan oleh ayat tersebut.

8. Penafsiran mereka arti dari kata “sulthan” dalam ayat tersebut dengan ilmu perlu dilihat kembali. Karena kata “sulthan” itu berarti sesuatu yang mempunyai kekuasaan yang dimiliki oleh seseorang terhadap apa yang ingin dia kuasai atau dia kalahkan, sehingga maknanya berbeda sesuai dengan kedudukan/posisi. Jika berada pada posisi perbuatan dan yang semacamnya, maka yang dimaksudkan adalah kekuatan dan kekuasaan. Allah berfirman:

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ

"Sesungguhnya syaitan itu tidak memiliki sulthan (kekuasaan) atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaithan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah" [An-Nahl : 99-100]

Kata “sulthan” pada ayat ini artinya adalah kekuasaan, tidak sesuai jika diartikan dengan “ilmu”. Demikian pula kata “sulthan” pada ayat yang sedang kita bahas, karena “melintasi” (penjuru langit dan bumi) merupakan perbuatan/pekerjaan yang membutuhkan kekuatan dan kemampuan, dengan ilmu saja tidaklah cukup. Mereka tidak akan sampai singgah ke bulan hanya dengan ilmu saja, akan tetapi dengan ilmu dan kekuatan/kemampuan serta sebab-sebab/jalan-jalan yang Allah tundukkan untuk mereka. Dan apabila kata “sulthan” digunakan di saat perdebatan, maka maksud kata itu adalah bukti dan alasan yang bisa mengalahkan musuhnya.

Allah berfirman:

إِنْ عِندَكُم مِّن سُلْطَانٍ بِهَذَآ

"Kamu tidak mempunyai sulthan (hujjah) tentang ini". [Yunus ; 68]

Sulthan di sini berarti alasan dan bukti. Dan tidak ada di dalam al-Qur’an kata sulthan dengan arti ilmu semata-mata. Bahkan akar kata sulthan menunjukkan bahwa yang dimaksudkan sesuatu yang memiliki kekuasaan, kemampuan dan kemenangan bagi seorang.

Jelas sudah bahwa ayat yang mulia tersebut tidak mengisyaratkan tentang peristiwa mendaratnyan pesawat ruang angkasa di bulan. Dan berbagai sisi yang telah kita sebutkan tadi ada yang nampak jelas, dan ada pula yang membutuhkan perenungan. Kami memperingatkan hal itu hanyalah karena khawatir dari menafsirkan kalam Allah dengan apa yang tidak dikehendaki oleh kalam Allah tersebut. Karena yang demikian itu mengandung dua bahaya:

a. Menyelewengkan kalimat-kalimat dari tempat-tempatnya, yaitu dengan mengeluarkan dari maksud arti yang sebenarnya.
b. Berkata atas Allah tanpa ilmu. Karena dia menganggap bahwa Allah menginginkan arti ini, padahal itu menyelisihi susunan ayat. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas hamba-hambaNya dari berkata atas Allah dengan apa yang ia tidak mereka ketahui.

Masalah terakhir adalah : Apabila memang benar berita tentang turunnya pesawat antariksa di daratan bulan, yang dipertanyakan adalah, apakah mungkin manusia juga dapat menetap di daratannya (hidup di bulan-red)?

Jawab:
Yang nampak dari keterangan al-Qur’an, hal semacam ini tidak mungkin terjadi, dikarenakan manusia tidaklah mungkin bisa hidup kecuali di bumi. Allah berfirman:

فِيهَا تَحْيَوْنَ وَفِيهَا تَمُوتُونَ وَمِنْهَا تُخْرَجُونَ

"Allah berfirman: "Di bumi itu kamu hidup dan di di bumi itu kamu mati, dan dari bumi itu (pula) kamu akan dibangkitkan". [Al-A’raf: 25]

Dalam ayat di atas Allah membatasi kehidupan, kematian dan kebangkitan adalah di bumi. Bentuk pembatasan dalam ayat ini adalah mendahulukan sesuatu yang pada dasarnya harus diakhirkan. [1] Semacam ayat ini adalah firman Allah:

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى

"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu, dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu, dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain". [Thaha: 55]

Yaitu Allah membatasi permulaan ciptaan dari bumi, dan bahwa ke bumi-lah kita akan dikembalikan setelah kematian, dan dari bumi pula kita akan dibangkitkan dari kematian di hari kiamat. Sebagaimana juga ada ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa bumi adalah sebagai tempat kehidupan manusia. Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ وَمَن لَّسْتُمْ لَهُ بِرَازِقِينَ

"Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezeki kepadanya". [Al Hijr:20]

Zhahir al-Qur’an -tanpa keraguan lagi- menjelaskan bahwa tidak ada kehidupan buat manusia kecuali di bumi ini, yang dari bumi ini manusia diciptakan, dan kepadanya ia akan dikembalikan, dan darinya ia akan di bangkitkan.

Maka kita wajib meyakini zhahir al-Qur’an tersebut, dan jangan sampai persangkaan kita di dalam mengagungkan kreasi makhluk menjauhkan kita sehingga menyelisihi zhahir al-Qur’an dengan perkiraan.

Kalau seandainya ada seorang manusia mampu turun (hidup) di daratan bulan, dan hal itu nyata dan pasti, maka dimungkinkan untuk membawa pengertian kehidupan dalam ayat tersebut ialah kehidupan yang tetap secara jama’ah seperti layaknya kehidupan manusia di bumi, sedangkan hal ini mustahil. Allah a’lam

Dan selanjutnya, bahwa pembahasan dalam masalah ini bisa jadi termasuk ilmu yang tidak diperlukan, seandainya tidak adanya pembahasan dan diskusi sehingga sebagian orang berlebih-lebihan menolak dan mengingkarinya sedangkan sebagian yang lain berlebih-lebihan di dalam menerima dan menetapkannya.

Golongan pertama menjadikan berita itu bertentangan dengan al-Qur’an, sedankan golongan lain menguatkannya dengan al-Qur’an. Maka aku ingin menulis apa yang sudah tercantum di sini dengan sebatas pemahamanku yang dangkal dan ilmuku yang terbatas.

Dan aku memohon kepada Allah supaya Ia Subhanahu wa Ta'ala menjadikannya ikhlas karena mengharap wajahNya, bermanfaat untuk hamba-hambaNya. Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala Rabb semesta alam, sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada baginda Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarganya dan para sahabat-shahabatnya.

[Diterjemahkan oleh Mahrus dari Risalah Haula Ash-Shu’ud Ilal Qamar, di dalam kitab Majmu’ Fatawa Wa Rasail Fadhilatus Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, V/319-327]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05//Tahun V/1422H/2001M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]

Saturday, November 6, 2010

Kenapa al-Quran itu Harus Berbahasa Arab?

1. Kenapa al-Quran Allah turunkan dalam bahasa Arab? Itu akan mengidentifikasi bahwa al-Quran diturunkan hanya untuk orang Arab?

2. Bagaimana meyakini al-Quran itu kalam Allah, sedangkan Allah itu Laisa kamitslihi syaiun. Kalau begitu Allah menggunakan Bahasa Arab dong? Kalau iya sama dong dengan makhluk.

Amriel
amriel at eramuslim.com
Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebenarnya Al-Quran hanya salah satu dari sekian kitab suci yang Allah SWT turunkan. Sebelum Al-Quran, sudah tak terhitung wahyu yang turun dari langit. Yang kita hafalkan sejak TK memang hanya 4 kitab suci saja, yaitu Zabur, Taurat, Injil dan Al-Quran. Namun sebenarnya jumlah kitab suci dan firman Allah SWT itu jauh lebih banyak dari yang terbenak di otak kita.

Dari sekian banyak firman dan kitab suci itu, hanya Al-Quran saja yang berbahasa Arab. Selebihnya, Allah SWT telah berbicara kepada manusia dengan beragam bahasa manusia. Tidak mungkin Allah SWT berbicara kepada manusia dengan bahasa binantang atau bahasa alien, karena tidak akan ada gunanya.

Kepada orang yang berbahasa Ibrani, Allah berbicara dengan bahasa Ibrani. Kepada komutinas yang berbahasa Suryani, Allah SWT berbicara dengan bahasa Suryaniyah. Dan demikian seterusnya, tidak ada satu pun umat di dunia ini yang tidak didatangi pembawa peringatan. Dan masing-masing datang dengan firman dari Allah SWT berbahasa kaum itu.

Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS Ibrahim: 4)

Setiap satu kaum diberi satu atau bahkan beberapa nabi. Demikian juga dengan kitab suci. Dan tiap kitab suci itu berbahasa sesuai dengan bahasa yang dimengerti kaum itu.

Mengapa Al-Quran Harus Berbahasa Arab?

Setelah periode satu kaum satu nabi dan satu kitab suci serta satu bahasa, pada bagian akhir dari masa kehidupan manusia, Allah SWT berkehendak untuk menyatukan semua bangsa-bangsa di dunia dengan hanya satu nabi, satu kitab suci dan tentunya satu bahasa kitab suci.

Untuk itu diperlukan satu bahasa yang memang punya kapasitas dan karakteristik yang unik, universal, serta istimewa. Sebab sangat tidak mungkin kitab suci terakhir itu diturunkan dalam banyak bahasa. Mengingat jumlah bahasa umat manusia di penghujung zaman ini sudah tak terhingga banyaknya.

Cukup satu bahasa saja yang digunakan, namun bahasa ini adalah bahasa yang paling istimewa dari semua sisinya. Baik dari jumlah kosa-katanya, sampai kepada strukturisasi gramatikanya.

Faktor Kekuatan dalam Menyampaikan Pesan (Balaghah)

Pastinya, bahasa sebuah kitab suci itu harus punya kemampuan prima dalam penyampaian pesan. Tiap kata yang digunakanbenar-benar kata pilihan, tidak asal sebut saja. Karena kitab suci itu akan menjadi sumber rujukan syariah sepanjang zaman. Tentunya kata-kata yang digunakan harus berupa pilihan kata dari bahasa yang sangat sangat kuat sisi bahasanya.

Dan barangkali bahasa selain Arab tidak punya padanannya, sehingga ketika diterjemahkan, akan kehilangan rasa dan kekuatannya.

Contoh sederhana, bahasa arab menggunakan dua kata yang berbeda untuk menyebut tuhan, yaitu ilah dan rabb. Bahasa lain tidak pernah punya pembedaan sedetail ini. Kata ilah diterjemahkan sebagai tuhan dan kata rabb juga tuhan. Padahal makna tuhan dalam kata ilah punya rasa, karakter dan pengertian rinci yang sangat jauh berbeda dengan makna tuhan dalam kata rabb.

Memang benar bahwa tiap bahasa punya idiom khas yang tidak bisa diterjemah secara sederhana ke dalam bahasa lain. Tetapi idiom dalam bahasa arab jauh lebih sempurna, banyak, serta bervariasi. Semua menggambarkan perasaan, pemikiran, ekspresi, sikap, pola pikir, budaya, moral, etika, seni dan budaya umat manusia.

Orang jawa punya idiom unik, misalnya kata-kata 'mbok yo'. Seandainya pak SBY bilang,"Mbok yo sampean jangan begitu tho, Mr. Bush." Pusing tujuh keliling penerjemah resmi Presiden RI ketika harus menerjemahkan kalimat dari mulut atasannya kepada Presiden AS. Apa terjemahan yang paling tepat dari kata mbok yo? Apakah mother yes, atau please atau apa ya?

Faktor Keindahan Bahasa

Yang juga tidak kalah penting adalah faktor keindahan bahasa itu ketika dibunyikan. Agar jangan sampai kitab suci ini tidak enak didengar telinga, akhirnya hanya menjadi ensiklopedi yang tersusun rapi di rak tanpa pernah disentuh, apalagi dibaca.

Al-Quran adalah kitab yang didesain untuk selalu dekat dengan manusia, dalam keadaan apapun. Karena itu membutuhkan sebah bahasa yang bisa setiap saat 'didendangkan', karena memang terdengar indah di telinga, merdu dan bikin kangen. Selain itu mudah diingat karena punya karakter yang mudah.

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quraan untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran? (Al-Qamar: 17)

Faktor Usia Bahasa

Semakin tua usia bahasa maka akan semakin luas kosa dan perbendaharaannya. Dengan demikian kapasitas bahasa itu untuk menyampaikan pesan menjadi jauh lebih lebar dan luas.

Bahasa Arab adalah bahasa yang sudah ada sejak manusia menginjakkan kaki pertama kali di planet ini. Sepanjang zaman, bahasa Arab selalu mengalami pengayaan perbendaharaan. Dan tentunya paling banyak digunakan oleh manusia sepanjang sejarah.

Bahasa Inggris yang sering didengungkan sebagai bahasa pergaulan international, ternyata bahasa yang baru muncul beberapa ratus tahun terakhir ini saja. Meski bangsa Inggris kuno sudah ada jauh sebelumnya, namun para ahli sepakat bahwa bahasa yang digunakan bangsa Inggris kuno bukanlah bahasa Inggris modern sekarang ini.

Sampai ada sebuah perumpamaan yang menggelikan. Seandainya Ratu Elizabeth II ratu Inggris hari ini bertemu dengan kakek moyangnya di zaman Robinhood, misalnya King Arthur, dengan pertolongan lorong waktu, maka keduanya tidak akan menggunakan bahasa Inggris, melainkan bahasa tarzan, alias bahasa isyarat.

Mengapa? Karena bahasa masing-masing sangat berbeda, bukan hanya dalam penggunaan istilah semata, tetapi juga struktur dan cara pengungkapannya.

Adapun bahasa Arab sudah dikenal sejak zaman nabi Ismail bin Ibrahim alaihissalam. Bahkan sebagian ahli bahasa berpendapat bahwa nabi Adam sudah berbahasa Arab. Logikanya, karena beliau diciptakan di surga, sedangkan dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa bahasa penduduk surga adalah bahasa Arab. Tentunya sejak masih di surga beliau sudah bercakap-cakap dengan isterinya, Hawwa. Dan ketika keduanya mendarat di muka bumi yang saat itu belum ada makhluk cerdasnya, bahasa Arablah yang digunakan oleh generasi pertama manusia di muka bumi.

Kalau argumentasi ini benar, maka bahasa Arab adalah bahasa manusia pertama. Tentunya juga bahasa manusia tertua di dunia ini. Dan hal ini cocok dengan teori para ahli bahasa yang mengatakan bahwa bahasa bangsa-bangsa manusia di dunia ini membentuk rumpun-rumpun yang berasal dari satu kesatuan. Maka dengan teori ini tidak salah bila dikatakan bahasa Arab adalah induk dari semua bahasa manusia.

Apalagi kalau dikorelasikan dengan jumlah kosa katanya yang sangat banyak, jauh mengungguli semua kosa kata bahasa manusia saat ini. Dan otomatis juga merupakan bahasa yang paling banyak digunakan oleh manusia sepanjang sejarah. Bukan dalam satu kurun waktu saja.

Bahkan bahasa Inggris pun ternyata bukan bahasa yang paling banyak digunakan manusia pada saat ini. Ternyata bahasa yang paling banyak dipakai manusia di hari ini adalah bahasa Cina (Mandarin). Tapi kalau kita hitung bukan berdasarkan satu kurun waktu, tetap saja bahasa Arab adalah bahasa yang paling banyak dipakai oleh manusia secara total.

Faktor Keabadian Bahasa

Dan juga tidak lupa dari keabadian dan kekekalannya, pasti sangat menentukan. Akan jadi runyam kalau sebuah kitab suci yang berlaku sepanjang zaman, tetapi bahasanya justru sudah punah dan tidak lagi digunakan lagi oleh lidah manusia modern.

Dr. Ahmad 'Arif Al-Hijazi, doktor bahasa Arab dari Mesir pernah mengisahkan bahwa para ahli bahasa dari seluruh dunia pernah melakukan riset spektatuler. Intinya, bahasa Arab memang layak jadi bahasa kitab suci umat manusia karena akan terus abadi sepanjang zaman.

Penelitian mereka berangkat dari rasa ingin tahu tentang bahasa manusia manakah yang masih besar kemungkinannya masih digunakan oleh manusia pada beberapa abad mendatang. Hal itu mengingat bahwa kecenderungan setiap bahasa di dunia ini akan mengalami kemunduran hingga akhirnya lenyap sama sekali. Meski di masa lalu pernah menjadi bahasa yang besar, karena digunakan oleh bangsa-bangsa besar dunia.

Misalnya, bangsa Mesir kuno pernah menjadi bangsa terbesar di muka bumi ini dengan kemajuan peradaban serta teknologinya. Tentunya mereka punya bahasa tersendiri yang sangat mereka banggakan. Namun kita tahu bahwa bahasa Mesir kuno sudah terkubur bersama para Firaun di padang pasir. Hari ini hanya profesor bahasa purba saja yang bisa mengira-ngira terjemahan tulisan heliografi di tembok Pyramid.

Demikian juga dengan bahasa manusia modern sekarang ini, para ahli percaya bahwa beberapa abad ke depan, tidak akan ada lagi manusia yang berbahasa dengan bahasa yang digunakan saat ini. Lalu bagaimana kita bisa menyampaikan informasi tentang peradaban abad 21 ini kepada generasi manusia di abad-abad mendatang?

Setelah melalui beragam pengujian dan penelitian atas sejarah karakteristik berbagai bahasa manusia, akhirnya mereka sepakat bahwa bahasa arab akan tetap dipakai manusia sampai beberapa abad mendatang. Sehingga peradaban manusia bisa menitipkan ilmu dan sejarahnya lewat bahasa arab untuk disampaikan kepada manusia di masa mendatang.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, maka pertanyaan anda kami jawab dengan singkat:

1. Al-Quran bukan kitab untuk orang arab saja, tetapi untuk seluruh manusia. Mesir, Sudan, Iraq, Iran, Palestina, Jordan, Libanon, Suriah, Libia, Maroko, Tunis, sampai Aljazair dahulu bukan negeri Arab. Mereka punya bahasa sendiri-sendiri. Tetapi seiring dengan masuknya Islam ke negeri itu, maka mereka pun belajar bahasa arab, menggunakannya bahkan menjadi bahasa sehari-hari. Bahkan bahasa resmi kesultanan Islam di nusantara juga bahasa Arab. Bahasa Arab adalah bahasa kosmpopolitan dan bahasa milik dunia dan umat manusia.
2. Allah SWT itu memang berbeda dengan makhluknya, tetapi bukan berarti Allah tidak bisa bahasa manusia. Justru Allah SWT yang menciptakan semua bahasa manusia. Dan kalau Allah SWT berbicara kepada manusia dengan menggunakan salah satu bahasa yang telah diajarkannnya kepada manusia itu, tentu bukan berarti Allah itu berubah wujud menjadi manusia.

sumber:http://walausetitik.blogspot.com/2006/11/kenapa-al-quran-itu-harus-berbahasa.html