Showing posts with label kisahsukses. Show all posts
Showing posts with label kisahsukses. Show all posts

Sunday, June 19, 2011

Kisah Pedagang Es Jadi Pebisnis Sukses




Berbagai pekerjaan kasar pernah dilakoninya, dari kuli angkut, supir angkot hingga tukang es. Berkat kemauannya belajar, pria berdarah Arab-Betawi ini mampu menjadi pengusaha sukses. Setelah melewati krismon, bisnisnya pun terus beranak-pinak.

Kenangan berdagang es sekoteng pada 1980 di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, tak akan pernah dilupakan Hisyam Said Bawahab. Karena, itulah detik-detik awal perubahan drastis dirinya dari orang kecil menjadi pebisnis sukses seperti sekarang. Saat itu pria keturunan Arab-Betawi ini berkenalan dengan salah seorang pembeli es sekotengnya yang ternyata pemilik UI Metal Work (UMW), Umawar. Waktu itu dia baru pulang dari Inggris. Nawarin sama ane mau nggak ikut dia kerja di perusahaan yang mau dibikinnya di bidang metal works, ujar Hisyam dengan logat Betawi yang kental.

Pria kelahiran 15 April 1954 ini mengaku saat itu ia tidak mengerti apa itu metal works. Metal itu besi. Works itu bekerja. Lalu kalau digabung, besinya diapain? katanya mengingat pertanyaan lugunya 30 tahun silam. Namun, ia pikir saat itu tak ada salahnya mencoba. Ia pun menerima tawaran sebagai staf pemasaran. Saya juga ngeliatin anak-anak bikin apa, ujarnya. Dua tahun kemudian UMW mulai mengkhususkan diri pada pembuatan perangkat dapur (kitchen equipment). Potensi bisnis ini besar karena saat itu belum banyak pemainnya. Hampir semua pengadaan barang untuk kategori ini di berbagai hotel dan perusahaan mengandalkan impor. Dengan keleluasaan seperti itu, UMW cukup berjaya saat itu. Di sinilah Hisyam banyak belajar tentang bisnis. Tahun pertama, banyak proses kerja yang perlu disesuaikan. Mesin bubut saya berdiameter 60 cm. Setelah sampai ke lokasi, ternyata yang harus dibubut berdiameter 1 meter. Saya harus balik lagi ke kantor, kata pria berusia 56 tahun ini sambil mengingat kerja kerasnya saat itu.

Setahun kemudian, pertumbuhan bisnis UMW turun. Pada momentum inilah Hisyam memilih merintis bisnis sendiri: memproduksi perangkat dapur dengan dibantu tiga karyawan. Hanya setahun berjalan, usaha ini kandas. Supaya dapurnya tetap mengepul, sulung dari 9 bersaudara ini kembali berjualan es. Ketika sedang duduk menanti pembeli es cendolnya di daerah Matraman, Jakarta Pusat, Hisyam ditawari seorang kawan baiknya untuk memakai gedung miliknya. Pake tuh tempat gue, kosong. Ntar kalau ada duit, baru bayar, ujar kawannya itu. Di gedung inilah ia menjalankan roda bisnisnya yang sempat terhenti, dan kembali diawali dengan tiga karyawan. Kali ini ia bertekad lebih serius. Pada 1985, secara resmi PT Hatindo Metal Utama berdiri — Hatindo adalah singkatan Hati Indonesia. Produk-produk yang dihasilkannya: meja, tempat cuci piring, pemanas, pendingin, exhaust van dan kompor. Di samping memproduksi, ia juga mengimpor produk lain seperti oven, mixer, steamer dan rice cooker besar yang kualitasnya lebih bagus.

Diakui Hisyam, awalnya ia tidak tahu persis seluk-beluk produksi dan pengadaan peralatan dapur. Namun, ia tak menolak order. Setelah order masuk, barulah ia pelajari struktur perangkat tersebut. Caranya, ia tak segan-segan membongkar barang impor (pendingin, misalnya) untuk mengetahui komponen di dalamnya. Dari sini, ia lalu membuat pendingin versi lokal. Uniknya, kliennya tak keberatan, sehingga Hisyam pun kerap meminta klien membeli perangkat impor yang mereka inginkan, lalu Hatindo akan menirunya.

Sedikit demi sedikit hasil dari bisnis ini ia kumpulkan. Selanjutnya, sebagian dana tersebut digunakan untuk membeli tanah dan membangun pabrik di Ciputat, Jakarta Selatan, seluas 1.000 m2. Sebagian lainnya ia gunakan untuk membeli mesin bekas dan bahan baku yang didapatnya dari kawasan Kota, Jakarta Barat. Seiring dengan pertumbuhan bisnisnya, karyawan pun bertambah. Pelanggannya tersebar di mana-mana, bahkan sampai luar Jawa. Rahasianya cuma satu: bisa membuktikan punya produk yang tidak kalah bagus kualitasnya dari produk luar negeri. Selanjutnya, ya mau capek dan kerja keras, ungkapnya sembari menambahkan, saat itu ia kian sering mengikuti berbagai pameran baik di dalam maupun di luar negeri. Melihat perkembangan usahanya yang pesat, Bank BNI menawarinya kredit. Saat itu ia pun mengambil Kredit Usaha Kecil BNI sebesar Rp 50 juta. Hisyam tidak membutuhkan waktu lama untuk melunasinya: hanya setahun.

Lama-kelamaan, bisnis ini mulai banyak diminati orang. Namun, Hatindo tak goyah. Perusahaan ini tetap melanjutkan pelayanan 24 jam terhadap konsumen. Kalau sore karyawan pulang, saya taruh dua karyawan untuk menjaga, takutnya ada telepon klien masuk, kata Hisyam. Kelebihan lain, Hatindo selalu percaya diri terhadap semua permintaan. Pantang bagi Hatindo menolak. Bagi Hisyam, tak ada yang tidak mungkin. Sesulit apa pun permintaan klien, selalu ada jalan keluarnya. Ia menekankan pada anak buahnya untuk secepat mungkin mengeksekusi permintaan klien. Penawaran tidak boleh lama. Orang telepon sekarang, ini hari juga harus sampai ke dia, ujarnya tandas. Penawaran di sini biasanya menyertakan gambar, perhitungan, spesifikasi, dan lain-lain yang terkait dengan order. Tidak ada kata besok. Lama pembuatan barang sekitar 1-3 bulan. Saya planning pakai kapal laut pengiriman barang impor. Tapi saya lihat outlet-nya sudah mau buka. Maka, saya ubah naik air plane, papar Hisyam mencontohkan salah satu cara kerjanya.

Prinsipnya: kibarkan bendera dulu. Nanti kalau bendera sudah berkibar, kerugian (uang) yang sebelumnya bisa kembali. Baginya, keuntungan merupakam hal nomor dua setelah pelayanan. Sampai-sampai kalau saya datang ke klien, saya bilang, Gue dateng ke sini bukan cari order. Gue datang cari lu, kata Hisyam. Rupanya cara tersebut cukup jitu untuk mengambil hati calon klien. Menurutnya, hal terpenting pertama adalah klien mau memakai jasanya. Jika jumlah klien sudah banyak, untuk cari klien baru ia cukup bilang, Masak ente gak mau pakai jasa kita?

Pendekatan ini cukup berhasil. Saat itu, hampir bisa dipastikan, kalangan restoran besar, perusahaan multinasional dan hotel berbintang lima (pada 1980-an dan 1990-an), menggunakan jasa Hisyam. Sebutlah, Hotel Hilton dan resto Ponderosa di Widjojo Center. Okupansi hotel sangat tinggi. Mereka sudah tidak mikir harga. Yang penting, siapa yang bisa cepat, dia yang dapat order, ujar ayah tiga anak ini. Bahkan, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pernah menjadi kliennya. Ia punya istilah yang unik untuk usahanya. Kepusingan orang kami ambil, kami jadiin duit. Kalau dipusingin lagi, orang malah lari, ungkapnya. Dan, ia menyebut manajemen usahanya sebagai gaya manajemen jalanan.

Pada 1985, ia berkenalan dengan Ron Muller, yang ketika itu merupakan pemegang master franchise Pizza Hut (PH) di Indonesia. Ron ternyata memercayakan pengadaan alat-alat dapurnya pada Hatindo. Ekspansi PH di Indonesia sangat cepat. Hanya dibutuhkan waktu empat tahun untuk membuka 75 gerai. Hatindolah yang ketiban rezeki mengerjakan perangkat dan instalasi dapur untuk 75 gerai PH saat itu. Hisyam mengaku, omset terbesar sampai sebelum 1995 berasal dari order PH. Malah, ia dipercaya memproduksi boks pengantar PH (ditempelkan di motor petugas). Dalam sebulan, Hatindo memproduksi ratusan ribu boks. Derasnya order dari PH membuatnya harus menyewa pabrik di Pulogadung, Jakarta Timur. Sepanjang malam, Hisyam tiada henti memperhatikan kelangsungan proses kerja di pabrik. Dari order boks pengantar piza saja, ia bisa meraih keuntungan Rp 30 juta/bulan — angka yang cukup besar kala itu. Selama sepuluh tahun ia mendapatkan order dari PH untuk produksi boks pengantar pizza. Nekuk uangnya aja di dompet ampe susah, ujar Hisyam berkelakar. Bisa dikatakan, periode 1985-95 merupakan masa jaya Hatindo. Saat itu jumlah karyawannya mencapai 250 orang.

Hisyam mengakui bisnis yang dijalaninya saat itu sangat menggiurkan. Gambarannya, harga ditentukan dari seberapa tinggi tingkat kesulitan dan harga barang yang diimpor. Seperangkat dapur untuk resto nilainya bisa mencapai Rp 300 juta/gerai. Marginnya 80%-100% per order. Ada tiga unsur perhitungan keuntungan: material, proses dan profit — perbandingannya sama. Dengan margin yang cukup besar itu, akhirnya ia berhasil menyelesaikan pembangunan pabrik barunya di Ciputat.

Sampai kemudian pada 1998 datanglah bencana itu: krisis moneter. Mayoritas klien lamanya tidak lagi berekspansi, bahkan banyak di antaranya yang menutup gerai. Alhasil, omset Hatindo merosot drastis. Sejak krismon, kami susah. Modal yang dibutuhkan besar, tapi untungnya tipis, ungkap Hisyam. Boleh jadi, itu karena nilai tukar rupiah yang anjlok drastis akibat krismon dan mahalnya bahan baku. Bahkan, kini ia tidak bekerja sama lagi dengan PH. Untunglah, ia masih bisa mendapat klien baru, di antaranya resto Dairy Queen, resto sandwich Cali Deli dan pabrik sepatu.

Tahun 2000, pelan-pelan bisnis Hatindo mulai merangkak naik. Dan, pada 2001 ia memutuskan mulai mencoba bisnis lain. Setelah hanya menjadi pemasok perangkat dapur untuk resto piza, ia beralih menjadi pemilik resto sejenis, yang memakai merek Papa Ron’s Pizza. Gerai pertamanya ada di Warung Buncit. Gerai ini juga merupakan gerai Papa Ron’s pertama di Indonesia. Ia membeli lisensi franchise dari Ron Muller, pendirinya. Sukses dengan gerai pertama, Hisyam membuka gerai kedua dan ketiga di Permata Hijau, Jakarta Selatan, dan Depok. Hubungan baiknya dengan Ron Muller, yang diawali di Pizza Hut, masih terjalin sampai sekarang.

Diungkapkan Hisyam, modal pembangunan satu gerai Papa Ron’s tergolong besar. Khusus interior dan dapur memakan dana Rp 1,5 miliar. Ini belum termasuk modal tanah dan bangunan. Alhasil, nilai investasinya minimal Rp 5 miliar per gerai. Setiap gerai mempunyai perbedaan dalam periode kembali modal. Namun, ada beberapa gerai yang mampu meraih breakeven point dalam waktu lima tahun. Satu gerai membutuhkan 25-35 karyawan.

Properti merupakan bisnis Hisyam selanjutnya. Lebih dari lima gedung di sepanjang jalan Warung Buncit merupakan properti yang dibangunnya. Sebenarnya, pada 1994 ia sudah merintis bisnis ini. Saat itu ia mencoba peruntungan pertama dengan membeli tanah dan membangun perumahan Pesona Agung (23 unit rumah) di Depok, seluas 2 ha. Pada 1996 semua rumah tersebut terjual. Satu rumah disisakannya sebagai rumah pribadinya. Margin yang diambilnya 50%-60%. Ini berbeda dari tren industri properti sekarang di mana margin yang diperoleh hanya 30%. Sekarang daya belinya lemah. Jadi, kami tidak bisa menahan lama.

Hisyam mengakui bisnis properti yang dijalaninya tidak berbadan hukum. Kegiatan bisnis ini

bersifat perorangan. Polanya adalah dengan membeli tanah di berbagai kawasan. Setelah dibangun untuk kepentingan ruko, gedung perkantoran atau perumahan, ia pun akan menjualnya.

Pelan tetapi pasti, proyek propertinya bertambah. Ia mencermati, tak ada rumah mewah yang tak laku. Alhasil, ia membangun 22 rumah di Sektor 9 Bintaro, dilanjutkan dengan membangun perumahan Pesona Eksklusif. Ia juga membangun 35 rumah serupa di kawasan pinggiran Jakarta seperti Ciputat, Supratman, Pondokrangon dan Jatimakmur. Beberapa di antaranya sedang dalam pembangunan. Prinsipnya, setiap ia menyelesaikan satu proyek pembangunan, walaupun belum terjual, tenaga kerja akan dialihkan untuk mengerjakan proyek pembangunan selanjutnya. Sayang bila ada tenaga tidak dimanfaatkan, ujar mantan anggota Dewan Pakar Partai Keadilan Sejahtera ini.

Selain sukses dengan bisnis perumahan, Hisyam membangun beberapa gedung di sepanjang Jalan Warung Buncit: Menara Takaful (gedung pertamanya), Menara Kospin, Ranch Market, dan beberapa ruko lain. Ia sengaja mengambil kawasan Warung Buncit. Alasannya, Daerahnya manis, kata Hisyam seraya menerangkan, daerah manis artinya cepat terjual. Padahal, diakuinya, harga tanah di wilayah ini tergolong mahal, kini mencapai Rp 10 juta/m2. Ada beberapa gedung miliknya yang laku terjual seharga Rp 20-an miliar di kawasan itu.

Tak hanya properti yang memikat Hisyam. Diam-diam ia merintis bisnis distributor pendingin dari Taiwan. Untuk itu, ia mendirikan anak usaha dengan nama PT Kota Jaya. Begitu produk Cina masuk dengan harga lebih murah, pendingin kami kalah harga, ujarnya. Sekarang Kota Jaya yang secara operasional ditangani anak pertama Hisyam juga membuat perangkat dapur berbahan dasar stainless steel.

Saat ini bisnis Hisyam beragam. Ia tak hanya berbisnis perangkat dapur, properti dan alat pendingin, tetapi juga alat kesehatan, biro perjalanan dan agensi periklanan. Akan tetapi, di bisnis-bisnis yang dirintis saudaranya itu, ia hanya menaruh kepemilikan saham, masing-masing sekitar 25%.

Bagi Hisyam, memulai bisnis tak perlu berpikir lama. Hanya ada satu pertimbangan utama: bisnis ini mempunyai potensi berkembang ataukah tidak. Selanjutnya, ia akan mengeksekusi rencana itu. Bisnis itu berbuat. Bukan ngomong. Ngga ada tuh kata nanti buat saya. Waktu saya muda, setahun ini bisa bikin berapa proyek. Jalan semua., ujarnya bangga.

Tahun ini Hisyam berencana membuka bisnis baru yang berkaitan dengan kartu belanja dan televisi kabel. Dikatakannya, setelah melintasi berbagai industri bisnis, ia banyak mendapat pelajaran berharga untuk tetap menjaga kelangsungan usaha. Kalau buka itu gampang, maintain-nya yang sulit, katanya. Ia berkeyakinan, berbisnis apa pun, selama masih ada kemauan dan kerja keras, pasti bisa dibangun.

Menurut Noragraito, Manajer Operasional PT Entertainment International Tbk. — perusahaan yang menaungi merek Papa Ron’s, salah satu sifat Hisyam yang menonjol adalah keterbukaan. Di setiap bisnisnya, Hisyam blak-blakan ngomongin soal modal dan keuntungan. Ia ingin karyawannya pun merasa memiliki perusahaan tersebut, kata lelaki 58 tahun itu. Hisyam juga tak pelit berbagi ilmu. Jika ada karyawannya yang merasa kesulitan mengerjakan tugas, Hisyam tak segan-segan memberitahu strategi pentingnya. Dia selalu bilang, ‘Ini sawah kalian. Kalau kalian serius menggarapnya, hasilnya pasti bagus dan kembali untuk kalian’, kata Noragraito menirukan perkataan Hisyam. Menurutnya, sifat itu terkadang menjadi bumerang bagi Hisyam. Banyak anak buahnya yang keluar karena mempunyai bekal tentang strategi berbisnis di industri yang sama.

Karakter Hisyam lainnya yang menonjol adalah kepeduliannya pada anak buah. Tidak lihat level. Asal karyawannya berprestasi dan ada keuntungan lebih, dalam setahun pasti ada saja anak buahnya yang dibiayai naik haji, ujar pria yang sudah 23 tahun mengenal Hisyam itu.

Oleh :Yuyun Manopol

http://swa.co.id/2010/04/kisah-pedagang-es-jadi-pebisnis-sukses/




Review : swa.co.id

Tags : kisah sukses pedagang es jadi pebisnis, cerita sukses seorang pedagang es jadi pebisnis kaya, kisah sukses, cerita sukses,kisah inspiratif, cerita inspiratif,inspirasi seorang penjual es menjadi pebisnis sukses, bekerja dari nol, kegigihan seorang penjual es menghasilkan sesuatu yang luar biasa, berawal dari jualan es kini menjadi boss besar seorang pebisnis sukses


Tuesday, April 19, 2011

__Kisah Seorang Cleaning Service KFC Menjadi Boss Rocket Chicken



Bekerja sebagai cleaning service merupakan awal mimpinya untuk hidup mandiri dan dapat membiayai kuliah. Namun, karena kesibukannya bekerja sebagai cleaning service di restoran cepat saji tersebut, Nurul Atik harus mengubur impiannya dalam-dalam untuk melanjutkan pendidikannya. Ia malah membangun sendiri usaha makanan cepat saji yang kini sukses.

Anda pasti pernah mendengar ungkapan: “Orang yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil.” Ungkapan ini mungkin cocok disematkan bagi seorang Nurul Atik. Pria asal Jepara ini menapaki kesuksesan dari jalan berliku.

Mantan cleaning service ini sekarang memiliki Rocket Chicken, perusahaan waralaba di bidang makanan cepat saji. Kini, ia memiliki 83 mitra di seluruh Indonesia. Ia mendapat pembayaran biaya royalti hingga Rp 100 juta dari para mitra.

Sebelum menjadi Presiden Direktur Rocket Chicken, Nurul bekerja sebagai seorang cleaning service di California Fried Chicken (CFC) di Semarang, Jawa Tengah. Dari seorang tukang bersih-bersih resto cepat saji, kini dia menjadi bos resto cepat saji milik sendiri.

Kisah Nurul dalam menapaki dunia kerja berawal ketika ia lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA), 20 tahun lalu. Lantaran ingin meringankan beban orang tua, Nurul pun berencana untuk melanjutkan kuliahnya dengan biaya sendiri.

Sempat menganggur selama setahun mencari pekerjaan, Nurul akhirnya diterima bekerja di CFC di Jalan Pemuda Semarang. Nurul bekerja sesuai dengan profesi yang dibutuhkan pada saat itu yakni sebagai cleaning service alias tukang bersih-bersih di restoran cepat saji itu.

Selama tiga bulan, Nurul menjadi karyawan dengan status trainee. Gaji pertama Nurul sebagai cleaning service pada saat itu hanya Rp 35.000 per bulan. Ia harus membagi gaji itu untuk kebutuhan makan, kos, dan biaya transportasi. Dengan jumlah gaji yang pas-pasan tersebut, sering ia harus berutang pada rekan-rekannya di CFC.

Karena kinerjanya yang bagus, ia kemudian diangkat menjadi pegawai tetap. Selang tiga bulan berjalan, akhirnya Nurul diangkat menjadi tukang cuci piring selama empat bulan.

Ia cepat bergeser ke posisi juru masak selama empat bulan. Karena kinerjanya semakin hari semakin baik Nurul diangkat lagi menjadi kasir selama enam bulan. Tak hanya sampai di situ, Nurul lalu naik pangkat menjadi seorang supervisor selama satu tahun.

Nurul juga mengecap posisi sebagai asisten manajer selama dua tahun di perusahaan yang sama. Karena kekosongan di bagian audit, Nurul kemudian menggantikan posisi tersebut selama tiga bulan. Tak memerlukan waktu yang lama, pria yang kini berusia 42 tahun ini mengecap posisi manajer areal selama dua tahun.

Posisi manajer areal mengharuskan Nurul berkeliling dari kota satu ke kota yang lain untuk memberikan pelatihan kepada karyawan-karyawan baru mulai dari berbagai kota di Jawa Tengah seperti Semarang, Magelang, dan Solo, hingga Yogyakarta.

Dengan kesibukannya bekerja di restoran cepat saji tersebut, Nurul mengubur dalam-dalam impiannya untuk melanjutkan pendidikan sampai jenjang perguruan tinggi. “Pada saat menjadi cleaning service, ternyata jam kerjanya shift sehingga saya tidak bisa membagi waktu antara kerja dan keinginan untuk kuliah,” tutur Nurul.

Namun, ia tak putus asa. Nurul mempunyai jurus jitu dalam menghadapi tantangan yang ada di depan mata. “Setiap melangkah kita harus memiliki niat yang kuat dan harus ditekuni,” tandas Nurul.

Ia juga mengungkapkan, dalam menjalankan segala kegiatan harus dilandasi dengan percaya diri dan semangat. Menurutnya, ia mendapat banyak pelajaran selama bekerja di restoran cepat saji CFC. Ia banyak mendapat ilmu dari rekan-rekannya yang berkerja di tempat tersebut, dari mulai menghargai hidup sampai pada pengelolaan restoran.

Pada saat bekerja sebagai cleaning service di CFC, Nurul memang tidak memikirkan jumlah pendapatan atau gaji yang ia terima. Ia hanya terus berpikir untuk bekerja sambil belajar apa saja yang didapatnya kala itu.

Karena keinginan yang kuat untuk hidup mandiri itu, Nurul memutuskan mencoba hidup mandiri dengan niat mendirikan usaha sendiri. “Orang tua pun mendukung sepenuhnya apa yang telah menjadi pilihan saya, hidup mandiri,” tandas Nurul.

Jiwa wirausaha tidak bisa dipisahkan dengan sosok Nurul Atik. Walau sudah berada pada posisi yang nyaman di sebuah restoran cepat saji, Nurul memutuskan membuka usaha dengan mereknya sendiri, Rocket Chicken. Cuma butuh waktu setahun, restoran yang menjual fried chicken ini sudah mengembang sampai 83 mitra.

Dengan gaji yang pas-pasan yang ia terima ketika menjadi cleaning service membuat Nurul Atik harus memutar otak agar ia bisa memenuhi kebutuhan saban bulannya. Tak jarang, ia harus meminjam uang dari rekan kerjanya di California Fried Chicken (CFC). Ia juga kerap meminta tambahan uang ke orang tuanya.

Untuk menghemat biaya hidup, Nurul pun harus mencari tempat kos yang jaraknya sekitar lima kilometer dari tempatnya bekerja. Tak jarang dengan alasan pengiritan, ia memilih berjalan kaki sampai satu kilometer. “Kalau sudah lelah, saya baru naik angkot,” ujarnya mengenang.

Kamar kos Nurul juga tak kalah memprihatinkan. Dengan luas 3X3 meter, kamar sewaan itu tak dilengkapi dengan kasur dan perabot lainnya. Kondisi seperti itu dilakoni Nurul kurang lebih selama lima bulan, sampai ia mendapat mess dari kantornya.

Buka usaha
Seiring karier yang terus menanjak serta kondisi ekonomi yang terus membaik, pada usia 29 tahun, Nurul pun memutuskan menikah dengan Emy Setiawati, seorang karyawan di sebuah swalayan di Yogyakarta yang baru dipacarinya dua bulan. “Saat itu, saya sudah menjadi manager di CFC Yogya,” ujar Nurul.

Meski begitu, gaji yang diterima Nurul tak mampu memenuhi kebutuhan selama satu bulan. Apalagi menyusul kemudian pasangan Nurul dan Emy dikarunia momongan. Makanya, setelah melahirkan anak pertama mereka, Emy membantu perekonomian keluarga dengan membuka usaha roti.

Meski posisinya cukup baik di tempat kerjanya, keinginan Nurul untuk membuka usaha sendiri rupanya tak pernah padam. Puncaknya terjadi ketika krisis keuangan melanda Tanah Air tahun 1998, Nurul memutuskan keluar dan membuat usaha sendiri.

Nurul merasa waktu 10 tahun bekerja sudah cukup untuk berguru di restoran cepat saji Amerika Serikat itu. “Saya mantap keluar karena ingin mandiri,” ujarnya.

Pada saat yang sama, seorang kawan mengajak Nurul membuat restoran makanan cepat saji yang mengusung ayam goreng (fried chicken). Ide tersebut muncul karena pada waktu itu membuka restoran cepat saji atau fast food menjadi tren di kalangan masyarakat.

Berbekal pengalamannya, Nurul mantap menerima ajakan temannya. Ia kemudian bertindak sebagai pengembang bisnis, sementara temannya mengurusi permodalan. Usaha keras mereka membawa hasil. Bisnis mereka cepat mengembang. Saat ini, Nurul telah memiliki 86 cabang.

Seiring berjalannya waktu, lelaki kelahiran Jepara, 25 Juni 1966 ini kembali merasa gelisah. Ia tergelitik mengibarkan bendera usaha dengan membuat restoran fried chicken sendiri. Kali ini dengan potensi pasar yang berbeda dengan usaha sebelumnya yang menyasar pasar menengah atas.

Pilihannya jatuh ke pasar menengah bawah. Selain pasarnya lebih besar, segmen tersebut juga belum tersentuh restoran fast food lokal maupun asing. Pada 21 Februari 2010, Nurul lantas mendirikan usaha sendiri dengan nama Rocket Chicken di Jalan Wolter Monginsidi, Semarang.

Perkembangan bisnisnya ini di luar perkiraan Nurul. Antusias masyarakat menyambut bisnis makanan cepat sajinya sangat cujup menggembirakan. Baru setahun berjalan, Nurul memiliki 83 mitra. Dengan sistem waralaba, Nurul mengembangkan bisnisnya tampa mengeluarkan modal uang sepeser pun. “Semuanya hanya didasarkan pada kepercayaan saja,” ujarnya.

Beruntung, kebanyakan mitranya adalah orang-orang yang mengenal dan tahu sosok Nurul yang telah berpengalaman dalam bisnis ayam krispi ini. “Saya cuma jual nama saja, outlet awalnya tak punya,” tandas Nurul.

Bersama mitranya, ayah tiga anak ini hanya menekankan agar menjalankan bisnis dengan kerja keras, tekun serta jujur. Bila itu menjadi landasan, Nurul yakni bahwa usaha mereka akan membawa amanah. Tak cuma bagi karyawan, tapi juga pemilik usaha franchise ayam krispi Rocket Chicken.




Review : diradja

Tags : KFC, rocket chicken, kisah sukses boss rocket chicken, kisah seorang cleaning service menjadi boss, usaha mendirikan rocket chicken, bermitra dengan rocket chicken, waralaba rocket chicken, berbisnis fried chicken, berbisnis ayam goreng, memulai bisnis ayam goreng


Monday, April 18, 2011

__Berawal dr 2 Sapi Kini Bisa Beli Mobil Sampai Naik Haji



Bermodal awal dua ekor sapi perah, Sayfudin Zuhri berhasil menjadi peternak sukses di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Kuncinya, jangan cepat puas diri.

Sayfudin adalah contoh peternak sapi perah yang berhasil mengembangkan usaha. Setelah 13 tahun berkutat di usaha ini, kini pria yang biasa dipanggil Sutrikno ini bisa berbangga lantaran usaha yang dilakoninya dengan tekun ini berhasil.

Dari modal dua ekor, kini jumlah ternaknya telah mencapai 50-an ekor. Berkat usaha ternak sapi perahnya tersebut, Sayfudin pun sukses mengangkat derajat perekonomian keluarga.

Ayah tiga anak ini bisa membeli rumah, kebun, mobil, bahkan mampu menunaikan rukun Islam yang kelima, berhaji. ”Alhamdulillah kehidupan kami sekarang lebih dari cukup,” kata pria yang hanya lulusan SMP tersebut.

Meski telah menuai sukses, Sayfudin mengaku belum sepenuhnya puas. Cita-citanya adalah terus menambah jumlah sapinya agar usahanya semakin maju. Dia berpendapat, usaha ternak sapi perah bakal semakin prospektif lantaran kebutuhan susu murni nasional terus meningkat.

”Kesadaran masyarakat kita meminum susu semakin hari semakin baik. Itu berdampak bagus bagi peternak seperti kami,” tuturnya.

Kendala menjadi peternak sapi perah memang masih ada. Situasi sulit yang dihadapi peternak sapi perah seperti Sayfudin adalah ketika harga jual susu di tingkat koperasi jatuh. Sialnya, tak banyak pilihan bagi para peternak untuk keluar dari situasi ini. ”Lebih repot lagi jika sapi bunting. Produksi susu pasti turun,” aku Sayfudin.

Situasi seperti itu, menurut Sayfudin, membutuhkan kreativitas peternak. Daripada berkutat dengan masalah pelik harga jual susu, Sayfudin memilih mencari pemasukan dari sumber lain atau paling tidak bisa mengurangi biaya perawatan.

Berbekal informasi yang dia dapat, belakangan Sayfudin memanfaatkan kotoran sapi sebagai bahan baku energi biogas. Dengan pemanfaatan kotoran sapi menjadi biogas, Sayfudin mengaku bisa menghemat hingga Rp10 ribu per hari untuk biaya penerangan rumah dan kandang sapi. Limbah bahan baku biogas ini oleh Sayfudin kemudian diolah lagi menjadi pupuk.

Tak hanya itu, kebun seluas empat hektare yang sekaligus menjadi kandang ternaknya juga dimanfaatkan untuk ditanami kopi robusta. Tak heran bila pria kreatif ini menjadi panutan bagi peternak sapi perah di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

“Kita harus kreatif dengan segala masalah yang ada. Kalau tidak, ya enggak akan maju-maju. Petani atau peternak seperti kebanyakan enggak akan bisa menikmati jerih payahnya,” pesan Sayfudin.

Perjalanan Sayfudin hingga menjadi sekarang cukup panjang. Pada 1987, ketika menginjak usia 22 tahun, dia mulai mengikuti jejak orang tuanya yang juga peternak sapi perah. Keinginan Sayfudin mengikuti jejak orang tua dilatarbelakangi minatnya dengan dunia peternakan. Sayfudin benar-benar total menimba ilmu dari orang tuanya. Semua hal yang berkaitan dengan dunia ternak sapi perah dia pelajari.

Mulai dari pakan, kebersihan kandang, cara memerah susu, dan perawatan sapi agar menghasilkan produk susu berkualitas. Ibarat murid sekolah, Sayfudin juga memegang prinsip bahwa setiap tahun dia harus naik kelas.

Dia berprinsip tak ingin sekadar menjadi peternak sapi perah seperti yang dilakukan orang tuanya atau peternak lainnya di Desa Kalipucung, Pasuruan, tapi juga harus memiliki nilai lebih.

Berkat keuletannya, tak heran Sayfudin mampu menyerap ilmu dari orang tuanya dengan cepat.Pada tahun ketujuh sejak dia masih menjadi “murid” orang tua, Sayfudin telah memiliki tujuh ekor sapi perah dari modal awal yang hanya dua ekor.

Keinginan Sayfudin untuk terus maju tak pernah padam. Meski telah memelihara tujuh sapi perah, dia ingin menambah ternaknya lagi. ”Padahal, dengan dua ekor sapi perah saja sudah cukup untuk mendukung perekonomian keluarga,” katanya.

Keinginan itu akhirnya bisa terwujud ketika BNI Syariah menawarkan pinjaman Rp20 juta. Modal ini dipakai untuk membeli beberapa ekor sapi lagi sehingga jumlahnya menjadi 12 ekor. Cukup? Ternyata belum. Ketika ada kesempatan pengajuan kredit lagi, Sayfudin kembali mengajukan pinjaman sebesar Rp60 juta. Sapi Sayfudin pun bertambah menjadi sekira 25 ekor.

Adapun dari 25 ekor, usaha sapi perah milik Sayfudin terus berkembang. Kini ternak sapi perahnya mencapai 50-an ekor. Namun, tak semua sapi perahnya dia pelihara sendiri di lahan ternaknya yang seluas empat hektare.

Lantaran lahan itu terlalu sempit, Sayfudin hanya mampu memelihara 12 ekor sapi. Selebihnya, sapi-sapi dia titipkan kepada orang lain dengan sistem bagi hasil. Setiap sapi rata-rata dapat menghasilkan 10 liter susu segar per hari.

Dengan harga susu segar Rp3.000 per liter, Sayfudin mampu meraup penghasilan Rp360 ribu per hari atau sekira Rp10,8 juta per bulan, hanya dari 12 ekor sapi yang dia pelihara sendiri. ”Dari usaha tersebut sudah cukup memenuhi kebutuhan keluarga,” ujar pria rendah hati ini.

Sayfudin juga mengaku senang bisa menitipkan sebagian sapisapinya melalui pola kemitraan dengan orang lain. Peternak yang bermitra dengan Sayfudin pun merasa senang karena selain mendapat penghasilan, juga bisa menimba ilmu dari sosok yang dikenal supel ini. (sugeng wahyudi)


Jenis-jenis Ternak Sapi Lengkap Klik Sini



Review : okezone

Tags : berternak sapi, modal awal 2 sapi, bisnis ternak sapi, kisah sukses dengan berternak sapi, sapi, budidaya sapi, penggemukan sapi, bisnis sapi, daging sapi, jualan ternak sapi, pasar sapi, sapi metal, susu sapi, sapi lokal, sapi impor, macam-macam dan jenis sapi, sapi potong, ternak sapi potong

Friday, March 25, 2011

__Kisah Sukses : Brownies Kukus Amanda..berawal dari rumahan




Kelezatan brownies kukus ternyata tidak hanya berhasil memikat lidah masyarakat luas, makanan ini ternyata juga memberikan sejarah penting bagi Hj. Sumiwiludjeng dan suaminya H. Sjukur Bc.AP dalam mengawali kisah suksesnya menjalankan bisnis rumahan.

Tentu Anda sudah tidak asing lagi bila mendengar produk brownies kukus dengan merek “Amanda”. Produk yang dulu dikenal sebagai oleh-oleh khas Bandung ini, sekarang gerai dan tokonya sudah bisa diperoleh di kota-kota besar lainnya seperti Yogyakarta, Surabaya dan Medan. Namun siapa sangka bila kesuksesan Amanda yang kini telah berhasil membuka gerai di berbagai kota sampai memiliki pabrik kue, berasal dari bisnis rumahan yang dulunya hanya dikerjakan Sumi dan dibantu anggota keluarganya.

Mengawali bisnis sesuai dengan minat dan bakat, memang merupakan alternatif tepat untuk bisa sukses menjalankan sebuah bisnis. Bermodalkan kemampuan memasak yang didapatkan Sumi ketika mengenyam Pendidikan Kesejahteraan dan Keluarga di IKIP Jakarta, Ia menjalankan bisnis katering rumahan dengan menerima pesanan kue dan makanan untuk acara-acara tertentu.

Di akhir tahun 1999 Sumi mencoba resep kue bolu kukus yang didapatkan dari salah seorang saudaranya. Ia mencoba resep tersebut hingga berulang-ulang, sampai akhirnya menemukan takaran yang pas untuk bolu kukus tersebut. Dibantu oleh putra sulungnya Joko Ervianto beserta istrinya (Atin), Sumi menawarkan bolu kukus cokelat tersebut sebagai salah satu menu di katering mereka. Berkat kelezatan dan cita rasa bolu kukus cokelat yang unik, produk tersebut dengan mudahnya diminati para konsumen.

Melihat permintaan pasar akan produk tersebut sangatlah bagus, pada tahun 2000 keluarga Sumi memutuskan untuk membuka usaha brownies kukus dengan menggunakan merek Amanda. Nama tersebut merupakan singkatan dari Anda Mantu Damai, yang artinya mengharapkan anak dan menantu bisa selalu hidup rukun dan damai.

Langkah Awal memasarkan brownies kukus Amanda ternyata tidak semulus yang dibayangkan Sumi beserta anak dan mantunya, kios usaha yang dibuka di komplek pertokoan Metro Bandung harus tergusur setelah pertokoan tersebut terbakar. Hingga akhirnya mereka memindah usaha kue tersebut dengan menyewa tempat di kawasan Jl. Tata Surya Bandung. Cobaan tersebut tidak menyurutkan tekad mereka untuk tetap menjalankan bisnis brownies kukus, dengan lokasi usaha yang baru mereka juga merasa tertantang untuk bisa mendapatkan pelanggan baru.

Merintis usaha kembali di tempat baru, ternyata memberikan keuntungan tersendiri bagi Amanda. Tak sulit bagi mereka untuk mendapatkan konsumen baru, bahkan minat konsumen semakin meningkat setelah mereka pindah di lokasi baru. Brownies yang diproduksi setiap harinya selalu habis dibeli konsumen, dan tak jarang banyak konsumen yang harus kecewa karena brownies kukus yang ingin dibelinya sudah habis terjual.

Seiring dengan permintaan pasar yang semakin tinggi, membuat tempat usaha yang mereka tempati sudah tidak memenuhi kapasitas produksi. Tahun 2002 Sumi dan keluarganya berpindah lagi ke lokasi usaha baru di Jl. Rancabolang Bandung. Mengulangi kesuksesan di tahun sebelumnya, dari lokasi yang baru kesuksesan brownies kukus Amanda menunjukan kemajuan yang luar biasa. Lokasi yang strategis dan didukung dengan cita rasa brownies kukus yang lezat, mengantarkan bisnis yang dulunya hanya dikerjakan di rumah kini menjadi industri kue yang sangat sukses. Dan pada tahun 2004, merek brownies kukus Amanda resmi dipatenkan menjadi brand produk kue buatan Sumi dan keluarganya.

Dibantu para menantu dan ketiga putranya Joko Ervianto, Andi Darmansyah, dan Sugeng Cahyono, kini brownies kukus Amanda sudah memiliki puluhan cabang yang tersebar di berbagai kota. Dengan menawarkan lebih dari dua puluh varian produk, saat ini penjualan produk Amanda bisa mencapai ribuan kotak untuk setiap harinya di masing-masing cabang. Anda bisa bayangkan bukan, berapa besar keuntungan yang diperoleh keluarga Sumi setiap bulannya?

Semoga artikel “brownies kukus, kisah sukses bisnis rumahan” ini bisa memberikan inspirasi bisnis bagi para pembaca. Ketekunan, tekad dan kerjasama yang dimiliki keluarga Hj. Sumiwiludjeng berhasil mengantarkan bisnis rumahan menjadi industri besar, serta mewujudkan impian Sumi untuk selalu membuat anak dan mantunya bisa hidup rukun menjalankan usaha bersama.

Oleh karena itu, yakinkan diri Anda bahwa setiap orang memiliki peluang sukses yang sama besar. Andapun juga bisa sukses bila Anda memiliki tekad besar dan berusaha fokus untuk menekuninya. Selamat berkarya dan salam sukses.











Review : bisnisukm.com
Tags : brownies kukus amanda, brownies, brownies kukus, peluang usaha rumahan, bisnis rumahan, kisah sukses bisnis, kisah sukses bisnis rumahan, usaha rumahan,bisnis rumahan, memulai bisnis rumahan, ukm, brownies coklat, brownies amanda, brownies kukus coklat

Tuesday, March 8, 2011

__Kisah : Sukses Penjual Gorengan Beromzet Jutaan

Juli 1974 menjadi bulan yang sangat istimewa bagi Yusuf Amin (21 tahun). Pemuda asal Cirebon yang tidak lulus SD ini menikahi seorang gadis belia bernama Sumarni (14 tahun). Selanjutnya, hari-hari Yusuf dihiasi perjuangan mencari sesuap nasi. Bukan hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk sang pujaan hati, yang telah menjadi tanggungannya.

Orangtua serta mertua Yusuf hanyalah buruh tani. Saban hari, Yusuf terlihat membantu mereka di sawah kala musim semai dan tuai padi tiba. Sawah-sawah itu hampir setahun ia garap tanpa rasa letih, meski terik matahari menyengat kulitnya.

Kemarau panjang pun menghampiri. Yusuf menganggur. Sesekali ia menatap sang istri tercinta sedang mengelus perutnya yang tampak membesar. Asa pun muncul. Yusuf putar otak, mencari solusi.

Ia lantas memutuskan untuk merantau ke Bandung. Dengan bekal Rp.500,- (cukup untuk sekali naik bus) ia meminta izin pada istri serta mertuanya, untuk berangkat ke kota Kembang. Pada kedua orang tuanya, Yusuf memohon do'a agar di perantauan anaknya dapat meraih nafkah yang berkah.

Tiba di Bandung, Yusuf menginap di rumah Maripah, kakak sepupunya di Ciharugeulis. Di sana ia kembali mencari cara untuk berjualan. Beruntung ada seorang kenalan yang bersedia meminjamkan gerobaknya pada Yusuf.

Penuh semangat, Yusuf pun memulai usahanya sebagai pedagang sekoteng hangat. Setiap malam usai shalat Isya, Yusuf mulai menjajakan dagangannya dari Cihaurgeulis, Taman Sari, Cihampelas, hingga Gegerkalong.

Udara malam di Bandung kala itu, tahun 70-an, terasa sangat dingin. Apalagi hujan deras biasa turun, saat Yusuf sampai di daerah Gegerkalong.

Namun ia tak patah arang. Setiap dorongan gerobak mengingatkan istri tercintanya yang tengah hamil 9 bulan. Maka rupiah demi rupiah yang ia terima pun langsung disimpan ke dalam celengan kaleng. Hingga pukul 02.00 dini hari, Yusuf baru mengakhiri perjuangannya.

"Saya punya tekad membahagiakan istri. Jadi saya harus tekun. Meski hujan deras, sera udara malam yang sangat dingin, saya harus tetap kuat," kenang H. Yusuf saat ditemui Alhikmah di kediamannya di bilangan Sukamantri, Bandung, April lalu.

Cirebon, 25 Agustus 1975, seorang bayi laki-laki, Jaja Zakia Yamani, akhirnya lahir dari rahim sang istri, Sumarni. Yusuf merasa bahagia sekali. Hasil jerih payah dia selama 20 hari berjualan sekoteng, akhirnya bisa membiayai persalinan istrinya.

Tepat usia anaknya menginjak 8 bulan, Yusuf memboyong anak serta istrinya ke Bandung. Masih di Haur Pancuh, bekas jongko pasar yang tak layak huni, menjadi rumah sewaan Yusuf dan keluarga. Sisanya, sejumlah 4.500, ia belikan gerobak sekoteng milik temannya itu. Ia pun kembali berjualan.

Dua tahun sudah berlalu. Ternyata hasil jerih payahnya sebagai pedagang sekoteng belum mampu mensejahterakan keluarganya. Cita-cita Yusuf memang luar biasa. Ia ingin menyekolahkan semua anaknya hingga jenjang perkuliahan. Tentu sebuah cita-cita melangit dari seorang pedagang kecil di kota yang sangat besar.

"Saya bertekad, saya ingin anak-anak saya kuliah semua. Saya ingin rumah tangga mereka tidak seperti saya. Cukup saya saja serta ibunya. Mereka harus lebih baik," ucap pria yang lahir di Cirebon 11 September 1953 itu.

Banting Setir Jualan Gorengan

Tahun 1977 menjadi catatan sejarah bagi Yusuf. Secara tiba-tiba ia membanting setir usahanya menjadi pedagang kudapan khas sunda, gorengan. Gerobak pisang goreng serta peralatan masak milik salah satu kenalannya ia beli seharga Rp.67.500,-

Bilangan Ciliwung, Bandung, lantas menjadi tempat pertama Yusuf menjual gorengannya. Sayang, Yusuf hanya bertahan semalam. Ia tidak tega melihat di sampingnya ada seorang ibu yang juga menjual gorengan.

Setelah berkeliling kota Bandung, akhirnya Yusuf memilih mangkal di bilangan Cendana. Bersama sang istri tercinta, serta anaknya, Jaja Zakia Yamani yang baru menginjak usia dua tahun, Yusuf pun semangat berjualan. Kali ini Yusuf memulai usahanya usai menunaikan shalat Dzuhur, hingga pukul 21.00.
Hari pertama, Yusuf mengeluarkan modal Rp.4.000 untuk belanja bahan. Hasil penjualan yang didapat seharian hanya 400 perak. Sekali lagi Yusuf tak mengeluh.

Bagi Yusuf, mencari nafkah harus dengan ketekunan, dan memohon kepada Allah SWT sang Pemberi Rezeki. Karenanya, Yusuf tak lupa melaksanakan ragam kewajibannya sebagai seorang muslim, sebelum memohon pertolongan Allah SWT.

Yusuf beserta istri selalu menunaikan shalat fardhu tepat waktu. Selain itu mereka pun terbiasa melaksanakan shaum sunnah Senin dan Kamis. Bahkan Yusuf terbilang rajin shalat tahajud.

Sehari kemudian dengan modal masih Rp.4.000, Yusuf mendapatkan uang 800. Hari demi hari uang yang didapat pun terus bertambah hingga mencapai angka 4.000 rupiah.

"Saya sama ibu huhujanan sambil dorong gerobak. Waktu itu anak saya masih kecil (2 tahun). Kalau tidur dimasukin ke gerobak memakai kardus. Kalau mau pulang juga begitu. Saya masukin sambil dorong gerobak dari Cendana sampai monumen UNPAD," kenang Yusuf.

Buah Jerih Payah

Ketekunan dan kesabarannya menuai hasil. Oktober 1983, Yusuf membeli sebuah rumah sederhana. Tahun 1988 saat omsetnya menembus ongkos naik haji berdua, ia pun langsung memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci beserta istri tercinta.

Sepulang dari Mekah, pelanggan Yusuf kian meningkat. Mulai dari kalangan bawah sampai konglomerat, rela antri demi dagangannya. Diantara mereka ternyata ada yang berasal dari luar kota, semisal; Surabaya dan Jakarta. Bahkan anggota DPRD Jawa Barat pun tak segan ikut memesan gorengan Yusuf. Sejak itu, produknya dikenal dengan sebutan Gorengan Cendana.

"Rasanya kata orang lezat. Gorengannya beda dari yang lain, garing dan minyaknya tidak telalu banyak," ungkap Yusuf.

Hasil jerih payah dalam mencari nafkahnya itu, kini Yusuf telah memiliki 5 buah rumah. Satu rumah ia dedikasikan untuk kepentingan umat dengan membuat Majelis Taklim ibu-ibu yang digagas istrinya. Sisanya untuk anak-anak, serta karyawannya yang kini sudah mencapai 10 orang.

Empat anaknya, ia kuliahkan hingga jenjang perguruan tinggi. Bahkan dua diantaranya menjadi dokter umum. Ia pun menyekolahkan buah hati saudaranya di kampung halaman, bahkan hingga ke jenjang perkuliahan.

Bentuk bakti kepada orang tua dan mertuanya, Yusuf bangunkan rumah untuk mereka di Cirebon. Tak lupa, ia pun memberangkatkan mereka ke Mekah.

Selain itu, Yusuf juga memberikan beberapa bidang tanah untuk digarap oleh saudara-saudaranya di Cirebon. Ia pun memperkerjakan tetangganya yang menganggur. Saat ini sudah ada 10 pegawai di tempat usahanya.

Semuanya itu dilakukannya saat Yusuf masih sangat sederhana. Prinsipnya memberi sesuatu tidak mesti menunggu kaya. "Tekad saya, Allah ngasih rejeki. Supaya rejeki itu langgeng, maka harus berbagi. Dan memang benar ada manfaatnya. Itu yang saya rasakan," ungkap Yusuf.

Saat ini ia mengaku meraup keuntungan 3-4 juta rupiah perhari atau sekitar 90-120 juta rupiah perbulan. Omset itu bahkan naik berlipat saat bulan ramadhan yang penuh berkah itu tiba.

"Saya pertama ke Bandung minta restu orang tua, pidu'ana supaya hidup saya berkah. Waktu itu saya tidak minta harta. Itu mungkin yang dinamakan rejeki berkah. Pendapatan sedikit, tapi cukup untuk yang lain. Apalagi pendapatan banyak," kata Yusuf, menutup perbincangan.






Review : zeffa09, kompasiana
Tags : kisah sukses seorang penjual gorengan, penjual gorengan keliling, kisah sukses, cerita sukses, inspirasi

Saturday, January 29, 2011

__Sukses dari Merangkai Buah-buahan Segar

Bagi kebanyakan orang, bisnis merangkai bunga mungkin merupakan hal biasa. Namun bisnis merangkai buah-buahan segar adalah hal yang tak biasa dan jarang ditemui.

Adalah Tariq Farid, warga Amerika Serikat (AS) yang menggeluti bisnis merangkai buah-buahan segar. Berkat bidang usaha itu, pria kelahiran Pakistan yang bermigrasi ke Amerika pada usia 11 tahun tersebut kini memetik "segarnya" keuntungan dari bisnisnya.

Di bawah bendera Edible Arrangements International (EAI), bisnis yang dikembangkan Tariq bisa disebut telah menjadi pemimpin pasar di bidangnya.

Tak aneh, pesanan merangkai buah-buahan, baik dari individu maupun korporasi, datang tiada henti. Konsumen merasa puas lantaran Edible selalu berusaha menyajikan bentuk desain terbaik dalam setiap rangkaiannya. Rangkaian buah-buahan segar dalam beragam desain nan cantik pun setiap harinya siap diantarkan ke pelanggan.

Edible Arrangements pertama kali didirikan pada 1999 dengan toko pertamanya yang didirikan di East Haven, Connecticut. Jika ditelusuri, ada tiga tren warga Amerika yang menginspirasi Tariq membuka usaha tersebut. Ketiga tren yang saling kait tersebut adalah peningkatan konsumsi warga Amerika akan buahbuahan segar, semakin menjamurnya toko-toko buah, serta meningkatnya pengeluaran warga Amerika untuk membeli hadiah.

Faktanya, insting bisnis lelaki yang sudah diperkenalkan dengan dunia entrepreneur sejak usia 17 tahun tersebut terbukti tepat. Sepuluh tahun sejak awal pendiriannya, Edible tercatat mampu meraih pendapatan senilai USD19,4 juta (Rp184,3 miliar) pada 2008. Angka tersebut jelas bernilai berkali-kali lipat dari modal awal yang digunakan Edible sebesar USD100.000 (Rp950 juta).

Malah, Edible terhitung telah mampu balik modal dalam kurun waktu enam bulan sejak awal didirikan. Berkat kesuksesannya, Edible mendapat anugerah sebagai salah satu lembaga bisnis yang memiliki pertumbuhan cepat di Amerika oleh majalah Inc. Edible juga menjadi satu di antara bisnis franchise terbaik dalam majalah Entrepreneur Franchise 500.

Untuk franchise, Edible mulai mengembangkan sistem bisnis tersebut pada 2001 dengan membuka toko di Waltham, Massachusetts. Tak kurang dari 10 tahun, gerai Edible telah mencapai 800 buah tersebar di AS, Puerto Riko, Kanada, Inggris, Dubai, Qatar, Arab Saudi, dan pasar internasional lainnya.

Selain bergerak dalam bisnis utama, yakni merangkai buah dan franchise, unit bisnis lain yang juga dijalankan Edible adalah bisnis camilan buah dengan mengusung bendera Frutation. Didirikan pada 2006, Frutation menyediakan buah-buahan segar siap saji. Beragam menu disajikan Frutation seperti sup buah segar yang dibuat langsung di hadapan konsumen, jus buah segar, salad buah, es krim buah, dan buah yang dicelupkan ke dalam cokelat.

Semua produk berasal dari buah-buahan segar ditambah bahan-bahan alamiah lainnya. "Kerja keras dan pantang menyerah menjadi kunci saya meraih kesuksesan," terang Tariq tentang prinsip hidupnya.

Tariq memang dikenal sebagai sosok pekerja keras. Saat masih remaja dia pernah bekerja di gerai McDonald's untuk beberapa tahun. Dia menyerap banyak pelajaran tentang bisnis di gerai makanan cepat saji itu.

Tariq memulai pengalamannya dengan dunia entrepreneur saat berusia 17 tahun. Dia menggunakan uang pinjaman dari orangtuanya sebesar USD5.000 untuk mendirikan toko bunga. Usahanya terbilang sukses karena dalam kurun waktu dua tahun, empat toko lainnya berhasil didirikan.

Sebagai wujud rasa syukur atas kesuksesan yang diraihnya, Tariq tak lupa berbagi dengan sesama. Dia mendirikan Salma K Farid Academy, pusat komunitas dan pembelajaran gratis. Salma K Farid didedikasikan Tariq bagi mendiang ibunya yang telah menjadi inspirasi kesuksesannya.(Koran SI/Koran SI/jri)






Review : okezone.com
Tags : cerita sukses, kisah sukses dalam berbisnis, perjalanan untuk mencari sukses, bisnis, berbisnis, home industri, industri rumah tangga, kerja sampingan, buah-buahan, perjalanan sukses, kisah meraih kesuksesan, bisnis kecil-kecilan, mencari usaha sampingan, bisnis merangkai buah-buahan

Kisah : Rp.400 Juta/Bulan Karena Bisnis Olahan Ketela

Sebagai wirausahawan muda, Firmansyah Budi Prasetyo, 29, tergolong pandai memanfaatkan peluang. Idealismenya mengangkat produk bahan makanan singkong berhasil menjadikannya seorang entrepreneuryang cukup sukses.

Berlatar belakang keinginan mengembangkan komoditas lokal Yogyakarta, dia mendirikan bisnis pengolahan aneka kue berbahan singkong atau dalam bahasa Jawa tela.

Meski baru setahun, usaha kue singkong yang diberi merek Cokro Tela Cake itu kini makin moncer dengan empat buah gerai dan1.000 franchise yang tersebar di Yogyakarta.

”Ide berbisnis ini awalnya saat saya bergabung dalam LSM (lembaga swadaya masyarakat) commodity development. Dari situ saya banyak belajar tentang komoditas Indonesia. Ternyata Indonesia termasuk dalam negara kaya,” ujar Firmansyah di Yogyakarta belum lama ini.

Sejak saat itu, dia lalu berpikir apakah ada yang salah dengan negara ini? Menurut dia, banyaknya pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri menandakan kurangnya lapangan pekerjaan di Tanah Air.

Padahal jumlah penduduk Indonesia termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Ini menurutnya karena dari sekira 230 juta penduduk Indonesia, hanya ada sekira 0,18 persen yang termasuk entrepreneur.

Dia berpendapat, jika ingin menyeimbangkan antara angkatan kerja dengan lapangan pekerjaan, entrepreneur di Indonesia minimal berjumlah dua persen atau 12 kali lipatnya.

”Hal inilah yang akhirnya membuat saya memutuskan menjalani hidup sebagai wirausahawan,” ungkap Direktur Utama CV Cipta Mandiri Kreasindo, perusahaan yang dikelolanya itu. Menurut pria lajang ini, menjadikan entrepreneur sebagai jalan hidup di zaman sekarang sangatlah mudah.

Adanya dukungan penuh teknologi bisa membuat kepentingan seorang entrepreneur terpenuhi dengan baik. Dia menambahkan, menjadi entrepreneur bukan pertimbangan konyol karena saat ini teknologi informasi mulai dari handphone hingga internet mampu mempermudah pekerjaannya sebagai seorang wirausahawan. ”Akses informasi kini lebih mudah dan hubungan dengan media pun tak sesulit zaman dulu,” katanya.

Adapun pemilihan singkong sebagai komoditas lokal yang diangkatnya berawal dari keinginannya menumbuhkan kebanggaan dan harga diri bangsa. Bahkan, dia mengaku sedikit kesal dengan kebijakan pemerintah mengimpor bahan baku karbohidrat seperti beras dan gandum. Padahal, Indonesia kaya akan umbi-umbian, termasuk singkong yang notabene berkarbohidrat tinggi.

”Saya terkadang sedih melihat negara kita yang kaya tapi kelaparan, sampai harus mengimpor bahan pangan. Di Yogyakarta saja masih banyak yang mengalami busung lapar. Untuk itu kita wajib menciptakan kemandirian pangan dengan mengangkat produk bahan baku lokal,” ucap Firman, panggilan akrab Firmansyah.

Diangkatnya konsep oleh-oleh khas Yogyakarta dengan memberdayakan produk bahan baku tradisional seperti ketela karena Firman ingin mengangkat makanan ”kampung” itu naik kelas.

Dia ingin makanan singkong tidak dianggap sebelah mata setelah diolah menjadi kue beraneka rasa. ”Saya ingin menambah nilai dari singkong agar mind set masyarakat terhadap makanan ini bisa berubah.

Caranya saya terus melakukan inovasi supaya tela lebih berharga menjadi sebuah kudapan yang tidak hanya enak, tapi juga mengandung gizi tinggi,” papar pria kelahiran Semarang ini.

Menurut Firman, yang membuat singkong terkenal sebagai makanan ”kampung” adalah hasil propaganda di zaman penjajahan Belanda dulu. Hal itu telah berlangsung lama sampai-sampai muncul istilah ”singkong dan keju”.

Padahal dari segi gizi, singkong kaya akan vitamin A dan C. Selain itu, kandungan seratnya juga lebih tinggi dan karbohidrat kompleksnya lebih mudah diserap tubuh dibandingkan gandum. ”Singkong cocok untuk penderita diabetes,” katanya.

Firman menambahkan, konsep usaha Cokro Tela Cake ini sebenarnya ingin agar potensi singkong di Yogyakarta yang luar biasa besar bisa lebih bermanfaat. Dia menyebut Gunungkidul sebagai salah satu wilayah penghasil singkong terbesar di Pulau Jawa.

Sementara untuk pasarnya dia memanfaatkan warga Yogyakarta sendiri yang sudah terbiasa dengan makanan dari singkong. ”Saya melihat singkong bisa menjadi potensi ekonomi besar di Yogyakarta. Hal ini ditunjang dengan Yogyakarta sebagai kota pariwisata sehingga banyak pengunjung luar yang datang. Saya ingin singkong bisa terus ada menjadi makanan lokal Yogyakarta,” imbuh lulusan Fakultas Hukum UGM berpredikat cumlaude itu.

Di samping itu, Firman mengaku, sebenarnya kue singkong yang dibuat menyerupai brownies ini cukup merepotkan. Pasalnya, sebelum menjadi adonan, singkong harus diubah dulu menjadi tepung. Namun, dia tidak patah arang, berbagai upaya dilakukannya sehingga membuat Cokro Tela Cakenya diterima konsumen.

Buktinya, kue buatannya mampu terjual sebanyak 10 ribu-12 ribu kotak per bulan. ”Setelah berubah wujud menjadi cake, saya berharap semua orang tahu kalau singkong juga bisa diolah menjadi makanan enak,” ungkap Firman saat ditemui di tokonya di Jalan Cokroaminoto No 97 Yogyakarta.

Menurut Firman, meski singkong hasil olahannya kini sudah tersedia beberapa rasa kue mulai dari cokelat, stroberi, hingga keju. Namun, untuk lebih menarik konsumen dia terus melakukan inovasi.

Dia juga tidak segan-segan meminta pendapat dari pembeli, jika ada sesuatu yang kurang pada produknya. ”Yang juga penting adalah bagaimana kue itu enak dilihat, good looking, karena itu kita terus cari cara bagaimana agar penampilannya menarik,” ujar Firman yang menjual kuenya Rp23 ribu-Rp25 ribu per kotak.

Selain kue, Firman juga menyediakan makanan lain seperti lanting renteng hingga aneka keripik di tokonya. Khusus untuk makanan ringan, seperti keripik dia tidak membuatnya sendiri, tapi bekerja sama dengan perajin di daerah.

Menurut Firman, makanan seperti singkong sebenarnya sangat akrab dalam kebiasaan orang Indonesia pada umumnya. Makanan ini juga seolah sudah menjadi ciri khas karena daerah karena banyak disajikan dalam berbagai bentuk.

”Ini harus tetap dilestarikan bahkan bisa menjadi kebudayaan. Jika saat ini saja singkong sudah tidak dipedulikan dan menjadi tidak biasa, lama kelamaan singkong tidak dikenal orang dan bisa menghilang sebagai bahan pangan nasional,” bebernya.

Di bisnisnya Cokro Tela Cake, Firman melakukan sejumlah inovasi yang disesuaikan dengan dinamika masyarakat saat ini. Dia berharap kue buatannya bisa hadir ke tengah masyarakat sambil terus memperkenalkan singkong.

Hal tersebut diakui Firman sudah menjadi visi dan misi yang panjang dalam filosofi hidupnya. Dia juga bersyukur meski baru berumur sekitar satu tahun, Cokro Tela Cake kini sudah memiliki empat outlet di yang terdapat di sejumlah lokasi di Yogyakarta.

Firman merasa dengan usahanya ini dia sudah melakukan upaya pemberdayaan produk lokal, pemberdayaan masyarakat, dan penciptaan lapangan pekerjaan. ”Saya ingin menciptakan entrepreneur di daerah,” ungkapnya.

Dia mengaku, bisnisnya yang bermodal awal Rp20 juta itu, kini penjualannya bisa mencapai Rp400 juta per bulan. Bersama 27 karyawannya, Firman mempromosikan tela cake dengan slogan ”Semua cocok, semua suka, semua enak”. (ratih keswara)(Koran SI/Koran SI/ade)





Review : okeZone.com
Tags : bisnis olahan, berwira usaha, bisnis wirausaha, bisnis rumahan, olahan ketela, ketela, memulai bisnis kecil-kecilan, memulai bisnis rumahan, bagaimana mengelola bisnis, cara menciptakan lapangan pekerjaan, bisnis bermodal kecil, bisnis makanan, usaha makanan, usaha sampingan, kerja sampingan

Kisah : Perca Batik Jadi Rp.120 Juta / Tahun























Bisnis pakaian batik beberapa tahun belakangan mulai meramaikan sejumlah pusat perbelanjaan di negeri ini. Harga yang makin kompetitif dan corak serta model nan beragam, meningkatkan peminat para konsumen batik. Tak ayal banyak orang yang beralih menjual produk-produk batik.

Sama halnya dengan Leni Mangiri (33), perempuan asal Semarang ini juga memutuskan untuk terjun ke dalam usaha batik sejak sekira delapan tahun yang lalu. Tapi bedanya, bahan baku produk batiknya itu bukanlah berasal dari kain batik jadi nan utuh, melainkan dari limbah batik atau biasa dikenal perca batik.

Selain karena harganya pun lebih murah. Ketertarikannya untuk mengolah dan mengreasikan limbah-limbah batik itu lah yang mendorongnya memutuskan untuk bergelut di bisnis kain perca batik ini.

"Awalnya, karena ketertarikan saya terhadap limbah batik yang terbuang. Kok sayang saja rasanya padahal ini bisa dikreasikan lagi dan menghasilkan uang juga. Lalu saya buat lah perca itu menjadi tas, selimut, sarung bantal, bedcover, dan lain-lain," tutur perempuan lulusan sarjana hukum Universitas Diponegoro ini, kepada okezone, belum lama ini.

Tak hanya itu, risiko penjualan yang lebih rendah pun semakin meningkatkan optimismenya untuk menggeluti usaha perca ini. Meski target pasar yang menjadi sasarannya adalah masyarakat golong ekonomi menengah rendah, dia pun mengaku tidak masalah. Karena justru segmen pasar itu lah menurutnya lebih sesuai dengan jenis produk jualannya dan lebih banyak peminatnya.

"Kalau kain perca itu kan harganya lebih murah, tidak semahal kain batik jadi, sehingga risiko penjualannya pun lebih sedikit. Apalagi produk perca ini kan target pasar dan peminatnya memang banyak datang dari masyarakat kelas menengah rendah, jadi tidak masalah," ungkapnya.

Mula usahanya, ceritanya, dia hanya bermodalkan satu mesin jahit dan empat karyawan, serta uang Rp500 ribu. Dari modal tersebut, menurutnya dia bisa memproduksi 50-100 buah (pieces) produk dengan perolehan laba dua kali lipatnya. Namun untuk mencetak laba tersebut, dia mengakui itu tidak lah mudah. Butuh proses yang cukup lama sekira setengah tahun lamanya untuk mencapai laba tersebut.

"Labanya memang dua kali lipat modalnya, tapi prosesnya lama, sekira setengah tahun. Ini karena masih belum ada yang mengenal produk kami," ujarnya.

Namun kendala di awal tersebut tidak membuatnya patah semangat. Dia pun terus mempromosikannya melalui rekan-rekannya, dari mulut ke mulut.

Bahkan dia pun punya inisiatif untuk mendaftarkan produknya ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan Semarang. Dari sejumlah informasi Dinas Perindag inilah menurutnya usahanya itu kian berkembang.

"Awalnya saya ikut diajak berpartisipasi pada bazar yang diselenggarakan Dinas Perindag. Biaya stand pun pada awalnya saya masih dibiayai Dinas Perindag. Dari situ lah produk saya mulai dikenal. Lalu, saya makin banyak dapat informasi tentang bazar-bazar, lalu saya pun ikut, tapi sudah dengan biaya sendiri," bebernya.

Kerja kerasnya itu kini bisa dikatakan telah membuahkan hasil. Sekarang, usaha kelolaannya itu telah memiliki 20 orang karyawan dengan omzet per tahun mencapai Rp120 juta. Produk yang dihasilkannya pun saat ini sudah terdiri dari 50 jenis (item) dengan jumlah berbeda-beda, bisa mencapai ratusan buah, tiap item-nya.

"Omzet dalam setahun bisa mencapai Rp120 juta. Penghasilan terbesar biasanya diperoleh pada masa sebelum lebaran, karena produksi kami genjot dan lebihkan dua kali lipat, sehingga omsetnya bisa dua kali lipat dibanding bulan biasa. Tapi setelah lebaran anjlok lagi karena tidak ada pesanan. Dua bulan setelah lebaran baru normal lagi," paparnya.

Meski sudah meraup omzet ratusan juta, dia mengaku kini usahanya itu justru makin memiliki tantangan besar. Pasalnya, menurutnya kini makin banyak pengusaha kain perca, sehingga harga jual pun makin kompetitif dan keuntungan pun makin berkurang.

"Makin sekarang makin banyak pengusaha kain perca, apalagi harga kain perca di pabrik-pabrik juga makin mahal, sehingga kami pun harus berebutan memperolehnya. Tapi saya juga tidak bisa sembarang menaikkan harga produk karena pembeli suka protes, paling keuntungan yang coba ditekan, dari yang biasanya mencapai laba 40-45 persen, sekarang hanya 20-35 persen," curhatnya.

Untuk itu, lanjutnya, dia pun harus terus berupaya mengembangkan inovasi baru tiap produknya dan kualitas produk tetap dijaga, bahkan ditingkatkan.

"Ya, tetap optimis saja lah, tetap lakukan pekerjaan sebaik mungkin. Tapi harus tetap memberi tahu konsumen bahwa kualitas produk kita berbeda, meskipun harga lebih tinggi dibanding produk lain," pungkasnya.





Review : ade,Wilda Asmarini - Okezone
Tags : kerja sampingan, bisnis batik, mengelola usaha rumahan, batik, batik pekalongan, dinas perindustrian, omzet ratusan juta, beromzet jutaan, bisnis rumahan, home industri, kerajinan tangan, bisnis souvernir, penjualan batik, wirausaha batik, kain perca, kain batik, baju batik, usaha kecil, usaha dengan modal kecil

Kisah : Bisnis Pisang Goreng Beromzet Milliaran

Berani mencoba dan tekun bisa menjadi kunci sukses bisnis.Bermodal ketekunan dan kegigihan itulah Wildan yang hanya tamatan SMA menjadi wirausahawan sukses. Wildan–demikian panggilan akrabnya– tak pernah bermimpi menjadi sukses seperti saat ini. Dia cukup tahu diri. Bekal pendidikan yang dia dapatkan hanya pas-pasan.


Namun, kerja keras yang telah dirintisnya beberapa tahun mampu membalikkan nasib bapak lima anak ini. Ihwal sukses Wildan berawal dari sebuah gerai berukuran 9x10 M berlokasi di bawah flyover Jalan ExitTol RC Veteran,Bintaro,Jakarta Selatan, yang ia sewa empat tahun yang lalu. Bermodal awal Rp75 juta, pria asal Lampung ini mencoba peruntungan membuka bisnis pisang goreng.Keberanian Wildan membuka gerai jajanan pasar pisang goreng boleh diacungkan jempol.

Pasalnya, hampir di setiap sudut jalan di Jakarta pasti ditemui jajanan pasar ini.Namun, berkat inovasi produk yang dia beri nama ”Pisang Goreng Pasir” ini diminati banyak orang. Menggelitik memang ketika mendengar kata ”pisang goreng pasir”,dan pasti timbul pertanyaan apakah pisang itu dimasak dengan pasir. Menurut si empunya, nama pasir berasal dari butiran-butiran kecil kecokelatan yang mirip dengan pasir yang ada pada tepung yang menyelimuti pisang goreng.

Wildan berpikir,nama pasir ini akan menjadi magnet tersendiri. Wildan bercerita, mendapat ide berbisnis pisang goreng berawal dari menjamurnya gerai-gerai pisang goreng yang berada di daerah Bintaro.”Pada 2005 lalu di jalan sekitar sini banyak gerai pisang goreng,dan yang paling laku yakni pisang goreng pontianak”, ujar pria kelahiran Lampung. Setelah mengantre dan ikut mencoba mencicipi pisang goreng pontianak yang memang sedang booming saat itu.Wildan melihat bentuk tepungnya begitu unik namun dari segi rasa menurutnya kurang nikmat.

Wildan memutuskan mengkreasikan pisang goreng miliknya dengan rasa yang berbeda. Minyak penggorengan yang digunakannya juga terus diganti setelah enam jam pemakaian.”Tujuannya agar lebih bersih dan tidak menggunakan minyak yang memiliki kolesterol tinggi,”katanya. Mengenai jenis pisang yang digunakan,Wildan memilih pisang lampung karena potensi pisang di Lampung cukup banyak dan tidak kalah kualitasnya dengan pisang dari Pontianak.

Hasil dari cobacoba dan terus inovasi, ide ayah lima anak ini berbuah manis. Di hari pertama penjualannya,pisang goreng pasir laku hingga 500 potong. Didukung embel-embel nama pasir, ternyata membuat orang makin penasaran dengan pisang goreng hasil olahannya. Tantangan Wildan dalam membesarkan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Stok bahan baku yang ia dapatkan terkadang kosong.

Pernah ia siasati dengan mengganti bahan baku yang jenis pisangnya berbeda namun kualitasnya di atas pisang kepok kuning dari Lampung tapi sebagian besar pelanggannya kecewa. Hingga kini Wildan selalu menjaga mutu.Ketika stok bahan baku tidak ada,gerainya akan tutup padaesokataulusanya.Namun,saat ini dirinya dapat mengantisipasi kekosongan bahan baku.setiap hari ia menerima 300 tandan pisang yang langsung didatangkan dari Lampung.

Untuk menyimpan seluruh pasokan pisangnya, ia memusatkan pada satu gudang yang terletak di daerah Cipete. Selain itu,Wildan selalu menjaga citra dagangannya dengan cara menjadikan produknya bisa masuk ke semua kalangan.Dia mengatakan, walaupun berupa jajanan pasar, produknya bisa menjadi makanan yang bersih dan semua orang bisa menyukainya. Usaha yang ia geluti hampir lima tahun ini akhirnya membuahkan hasil. Saat ini ia memiliki 100 pegawai yang tersebar di 15 gerai di seluruh Jabodetabek.

Dia mampu menjual 1.000 potong pisang pada hari biasa dengan harga per potong Rp2.500. Sementara, di akhir pekan bisa mencapai 4.000 potong pisang. Itu pun hanya untuk setiap gerainya. Jika dihitung,Wildan bisa mengantongi omzet penjualan Rp2,5 juta per hari tiap gerainya. Bila saat ini ia memiliki 15 gerai, berarti Wildan memiliki omzet penjualan Rp37,5 juta per hari dan dalam sebulan omzetnya mencapai Rp1,125 miliar. Selain bisnis pisang goreng,Wildan melakukan inovasi baru yakni membuat kompor pintar untuk mendongkrak penjualan pisang gorengnya.

Wildan mengaku, dengan adanya kompor pintar ini dapat memberikan berbagai keuntungan. Salah satu keuntungan yangiadapatyaknibisamenghemat 20% bahanbakardalampemakaian gas 12 kg. ”Bila dengan kompor gas biasa setiap menggoreng hanya bisa 20 pisang.Tetapi sekarang dengan kompor pintar bisa menggoreng hampir 100 pisang sekali goreng,” ucapnya sumringah. Penghematan waktu menggoreng juga diamini pria yang dulunya pernah bekerja sebagai salesman panci ini.

”Rata-rata setiap menggoreng tanpa kompor pintar berkisar 15–20 menit namun sekarang 10 menit saja sudah bisa dicapai,” demikian Wildan bertutur. Dengan kesuksesan yang sudah diraihnya saat ini tidak membuat Wildan berpuas diri.Wildan selalu mencari celah untuk bisa memasarkan produknya ke segala lapisan konsumen. Ini terlihat dari rencananya ke depan yang akan menjual pisang goreng pasir ke tempattempat yang tidak mungkin dijangkau olehnya.

Seperti terminal ataupun kampus-kampus dengan cara menggunakan sepeda motor yang sedang dia modifikasi saat ini. Rencananya untuk memasarkan produk melalui delevery order atau sepeda motor adalah salah satu solusi un-tuk para konsumen yang selalu meminta dirinya menjadi partner bisnis.

Wildan juga sempat mendapat tawaran di dalam negeri maupun di beberapa negara tetangga untuk menjadi rekanan. Lagi-lagi Wildan belum siap menerima tawaran itu. ”Dikhawatirkan akan merusak bahan baku pisang karena terlalu lama dalam pengirimannya,”paparnya.







Review : cahyo kunrnia p, koran si, ade, okezone.com
Tags : bisnis pisang goreng, bisnis pisang, membuka usaha pisang goreng, pisang goreng, cara memulai bisnis, pisang goreng beromzet milliaran, bisnis rumahan, home industri, wirausaha, usaha sampingan, kerja sampingan, memulai bisnis makanan, kisah orang-orang sukses