Thursday, April 7, 2011
Pantai Terindah di Dunia
Berikut ini 10 Pantai Terindah di Dunia :
1. Fernando de Noronha - Brasil
Fernando de Noronha - Brasil. Fernando de Noronha merupakan nama kepulauan yang terletak di Samudra Atlantik, terletak 354 km dari pantai timur Brasil. Pulau ini merupakan munisipalitas (distrito estatal) di negara bagian Brasil, Pernambuco. Mungkin pantai terindah di dunia ini yang dimana hanya segelintir orang saja yang tau. Salah satu Unesco World Heritage Site ini merupakan “the most beautiful marine park in the World”.
2. Maldives Islands - Republik Maladewa
Maldives Islands - Republik Maladewa. Maldives Islands terletak di Republik Maladewa. Maldives dijuluki the last paradise on earth karena pulau-pulau tropisnya yang alami, bersih, indah, dengan lambaian daun pohon kelapa, warna air laut yang biru indah, serta pasirnya yang putih dan halus bagaikan icing sugar, belum lagi alam bawah lautnya yang indah.
3. Anguilla - Karibia
Anguilla - Karibia. Pantai Anguilla merupakan bagian dari pantai Karibia terletak di sebelah timur Puerto Rico. Pantai ini memiliki pulau-pulau kecil yang dilengkapi dengan resor mewah dan berstandar tinggi. Peringkat pertama di top 10 World Best beaches of 2005 Discovery Channel Travel and Adventure tentunya bukan cuma omong kosong. Anguilla punya segalanya, ketenangan, kebersihan, modern, lengkap dengan kehidupan pulau kecilnya yang benar-benar “carribean”.
4. Boracay - Filipina
Boracay - Filipina. Pulau Boracay adalah salah satu yang terbaik di seluruh kepulauan Filipina. Dan itu dinyatakan pulau yang paling indah di seluruh dunia. Boracay adalah sebuah pulau tropis yang terletak hanya sekitar 315 kilometer (200 mil) selatan dari Manila dan dua kilometer dari ujung barat laut pulau Panay di Visayas Barat Daerah dari Filipina. Boracay memiliki dua pantai wisata utama, Pantai Putih dan Pantai Bulabog, yang terletak di sisi berlawanan. Pantai Putih yang panjangnya sekitar 3.5km sering disebut juga 'Pantai Panjang' oleh masyarakat setempat. Keunikan pantai ini adalah tidak terdapatnya batu karang dan juga rumput laut, sehingga anda bisa bermain-main di pantai tanpa takut menginjak karang atau terlilit rumput laut. Selain itu anda juga bisa berenang dengan nyaman karena air lautnya sangat tenang dan tidak berombak.
5. Horseshoe Bay - Bermuda
Horseshoe Bay - Bermuda. Horseshoe Bay merupakan pantai paling terkenal di Bermuda. Sebuah tempat wisata yang sangat populer, terletak di selatan pulau utama pantai (Atlantic Ocean), di paroki dari Southampton. Pasir pantai ini sangat halus dan menampilkan warna merah muda. Bermuda merupakan salah satu tempat termahal untuk berwisata pantai di dunia ini. Tapi itu tidak menghalangi ribuan turis datang mengunjungi pulau ini setiap tahunnya. Cuaca yang bersahabat, calm water and waves, crystal clear water, dan pasir pinknya Horseshoey bay nyaris tak ada tandingannya di belahan planet ini.
6. Kondoi, Coral beach - Okinawa Jepang
Kondoi, Coral beach - Okinawa Jepang. Okinawa merupakan kepulauan teraman di dunia ini. Pintu rumah-rumah penduduknya saja tidak pernah terkunci. 3 dari 10 orang tertua di dunia ini tinggal di kepulauan ini. Hasil dari suasana pedesaan jepang yang khas berpadu dengan pantai-pantai indah.
7. Lanikai Beach - Hawaii
Lanikai Beach - Hawaii. Pantai Lanikai terletak di Lanikai, pinggiran Kailua, secara konstan masuk bilangan pantai yang terbaik di dunia. Berdekatan dengan Lanikai Beach adalah daerah perumahan terutama kelas atas, karena ini hanya dapat diakses melalui jalan akses publik. Pantai ini tidak begitu besar, tapi merupakan pantai dengan air terjernih dan terbiru di hawaii. Lengkap dengan pemandangan dua pulau kecil yang bernama Mokuluas di kejauhan.
8. Mnmbe Lodge - Tanzania
Mnmbe Lodge - Tanzania. Pantai terindah di Benua Africa, walau tidak terletak di Africa mainland. Pulau Mnemba Lodge, sebuah permata pemenang penghargaan ini terletak di pulau pribadi mendebarkan indah Mnemba, hanya 4,5 kilometer (2.8 mil) dari dari ujung utara-timur Zanzibar. Pulau Mnemba Lodge dikelilingi oleh terumbu karang di Samudera Hindia. Pandangan Romantis, eksklusif dan mewah pedesaan adalah alasan yang cukup untuk menikmati keindahan tak tertandingi pulau ini tanpa alas kaki.
9. Tulum Beach - Mexico
Tulum Beach - Mexico. Seluruh Riviera Maya di Mexico dipagari dengan pantai kelas dunia, dan Tulum tidak terkecuali. Sejak abad ke-6 situs arkeologi telah berdiri tinggi di atas tebing yang menghadap beberapa pantai terindah di Tulum. Di mana pantai membentang bermil-mil pasir putih, dibingkai oleh hutan lebat dan dihiasi dengan Cabanas pantai, hotel butik dan resor yang indah. Tulum Beach merupakan salah satu resort pertama yang ada di Mexico. Mungkin dari ratusan tahun sebelumnya juga sudah dipakai oleh Bangsa Maya sebagai resort. Pernah bermimpi berenang di Pantai yang berpasir putih, tenang dan relax diiringi oleh Background piramid-piramid mayan.
10. Whitehaven - Australia
Whitehaven - Australia. Whitehaven Beach membentang sekitar 6 km disepanjang Pulau Whitsunday. Pulau ini dapat diakses dengan perahu dari pelabuhan wisata daratan Airlie Beach dan Shute Harbour, serta Hamilton Island. 7 Kilometer pantai pasir putih terbersih dan salah satu yang paling terisolir di dunia tentunya sudah pasti bisa mencukupi kebutuhan relaxing kita. Kacamata hitam adalah keharusan di pantai ini saking putihnya pasir pantai ini.
sumber:http://ismagianti.blogspot.com/2011/03/10-pantai-terindah-di-dunia.html
Friday, November 26, 2010
Radiasi Alam
sumber:http://ilyas-abdul-ghani.blogspot.com/2010/11/radiasi-alam.html
Tuesday, November 16, 2010
Fenomena alam 2010
Piringan matahari yang tertutup oleh piringan Bulan hanya bagian tengahnya saja, sekitar 92 persen, sehingga bagian pinggir matahari tidak tertutup. Oleh karena itu piringan matahari akan terlihat dari muka bumi seperti lingkaran cincin yang bercahaya.
Gerhana yang akan terjadi berdurasi 11 menit 8 detik. Menurut ilmuwan NASA, ini durasi yang sangat lama, terlama sepanjang milenium. Durasi ini tak akan terulang lagi hingga 3043!
29 Januari, Planet Mars mendekat ke bumi
Hari itu, Planet Mars hanya sejauh 61,7 juta mil dari Bumi. Ini waktu terbaik untuk para pengamat langit untuk mengamati Mars dengan menggunakan teleskop. Meski mendekat, Mars tak bisa diamati maksimal dengan mata telanjang. Mars tidak akan terlihat sebesar Bulan, untuk mata kita Mars hanya seperti bintang kecil di langit.
16 Februari, Jupiter dan Venus akan terlihat bersama
Seperti dua kapal yang melintasi senja, Venus dan Jupiter akan terlihat bersamaan dengan jarak antara 5 derajat. Saat itu Jupiter mendekati matahari, sementara Venus bergerak menjauhi sang surya.
28 Maret sampai 12 April, Venus dan Merkurius seperti berpasangan
Dua planet ini akan merupakan pasangan menarik di langit barat dan barat laut, saat senja. Jarak dua planet ini hanya sekitar lima derajat. Venus muncul ke kiri dan sedikit di atas bayangan Mercurius. Pada tanggal 3 April, mereka akan terlihat sangat dekat, hanya sedikit di atas 3 derajat.
6 Juni, dua fenomena menarik di Langit
Mars akan berjarak kurang dari satu derajat utara dari bintang biru Regulus. Konjungsi ini akan mudah terlihat di langit malam.
Malam yang sama, Jupiter Uranus akan terlihat bersamaan dalam tiga seri konjungsi. Hanya ada enam konjungsi seperti ini antara tahun 1801 dan 2200. Yang terakhir pada tahun 1983 dan berikutnya akan datang antara tahun 2037-2038.
26 Juni, gerhana bulan parsial
Gerhana ini akan terjadi di Kepulauan Hawaii, barat Alaska, Australia, Selandia Baru, wilayah bagian timur Malaysia dan Asia. Di lokasi-lokasi ini, akan terlihat bagian atas bulan gelap oleh bayangan Bumi.
11 Juli, Gerhana matahari total
Gerhana matahari total akan terjadi di 15 mil dari Tahiti dan Pulau Paskah. Sementara di sebuah titik lokasi di Samudera Pasifik Selatan, matahari tertutup total selama 4 menit dan 45 detik.
Awal Agustus, Trio Planet
Mars melewati kurang dari dua derajat di selatan Saturnus pada 1 Agustus. Kemudian, bayangan Venus anya lebih dari 3 derajat ke selatan sembilan hari kemudian; pada 8 Agustus.
Tiga planet itu akan membentuk apa yang Jean Meeus mendefinisikan sebagai "trio," ketika tiga planet yang sesuai dalam lingkaran dengan diameter minimum lebih kecil dari 5 derajat.
12 Agustus, Hujan Meteor Perseid
Hujan meteor tahunan ini akan maksimal terjadi di langit gelap, tanpa diintervensi cahaya bulan. Sekitar 90 meteor akan jatuh tiap jamnya.
21 September, Jupiter, Besar dan Tinggi
Jupiter akan berada di langit tengah malam, yaitu, pada oposisi (-2,9 magnitudo). Dalam orbit ini, Jupiter lebih dekat daripada jarak rata-rata.
Akhir Oktober, Bumi dilintasi Komet
Komet Hartley 2 akan melintas bumi, tepatnya 11,2 juta mil dari Bumi pada pada 20 Oktober 2010, hanya seminggu sebelum komet ini melewati matahari dalam jarak dekat. Komet ini bisa dilihat dengan mata telanjang di daerah pedesaan, bukan di tengah hingar-bingar kota.
14 Desember, Hujan meteor Gemini
Hujan meteor gemini kembali terjadi. Sekitar 120 meteor per jam akan turun dan menciptakan fenomena yang indah.
20-21 Desember, Gerhana Bulan Total
Amerika Utara mendapatkan 'kursi terbaik' untuk melihat fenomena gerhana bulan total ini. Untuk Timur AS dan Kanada, fenomena ini terjadi dini hari.
Untuk barat AS dan Kanada, fenomena ini terjadi pada tengah malam 20-21 Desember. Gerhana bulan ini akan terjadi selama 1 jam dan 14 menit.
Sumber : http://nasional.vivanews.com/news/read/121115-apa_yang_akan_terjadi_di_langit_pada_2010
Tuesday, October 19, 2010
Pelatihan Ekowisata
Salah satu tujuan Pengembangan Ekowisata di Bintan adalah untuk memberi kesempatan kepada masyarakat desa yang bermukim di sekitar kawasan wisata International Lagoi untuk bisa menjadi pelaku wisata di desanya masing-masing agar pada gilirannya nanti dapat ikut menikmati hasil dari kegiatan bisnis pariwisata yang gemerlap itu, tidak hanya menjadi penonton semata seperti yang terjadi selama ini.
Dengan adanya kegiatan ekowisata di desanya, diharapkan banyak wisman yang akan berkunjung ke desa karena itu masyarakat setempat harus bisa menjadi tuan rumah yang baik, artinya harus bisa menjadi operator ekowisata yang terampil dan mampu memberikan pelayanan yang memuaskan kepada wisman dengan mengutamakan kenyamanan dan keamanan wisman. Bisnis pariwisata sangat rentan dan sensitif, sekali memberikan pelayanan yang tidak memuaskan, beritanya akan segera menyebar ke seantero kawasan wisata sehingga kemungkinan besar akan jarang wisman yang mau berkunjung ke desa.
Untuk bisa menjadi pelaku ekowisata yang cakap, masyarakat harus memiliki keterampilan yang memadai dalan bidang pariwisata/ekowisata. Mereka harus diberi pelatihan yang relevan dengan kegiatan pariwisata. Sedangkan jenis pelatihan disesuaikan dengan produk ekowisata yang akan dikembangkan di desa.
Sebagian besar waktu dalam proyek pengembangan ekowisata di Bintan digunakan untuk melatih keterampilan masyarakat, karena pada saat itu pengetahuan mereka tentang pariwisata apalagai ekowisata sangat terbatas, disamping itu pendidikan formal mereka juga sangat minim, rata-rata lulusan SD dan SMP. Mencari lulusan SLTA di desa-desa tersebut sangat sulit, kalaupun ada umumnya mereka sudah bekerja di kawasan wisata.
Banyak jenis pelatihan yang dilaksanakan baik yang dikemas dalam bentuk Pelatihan maupun yang dilaksanakan dalam bentuk penyuluhan-penyuluhan serta melalui 'coaching' yaitu pembinaan yang dilakukan oleh konsultan pendamping (community-organizer) yang ada di desa. Pengetahuan tentang ekowisata juga seringkali disampaikan melalui rapat-rapat informal ditingkat kelompok, tingkat pengurus maupun di tingkat desa.
Jenis pelatihan yang diberikan disesuaikan dengan jenis produk ekowisata yang akan dikembangkan. Sedangkan perencanaan terhadap pengembangan produk ekowisata disesuaikan pula dengan potensi alam, kapasitas masyarakat, potensi pasar dan ketersediaan sumber-sumber lainnya.
Untuk memudahkan pelaksanaan pelatihan, anggota masyarakat yang akan terlibat dalam kegiatan ekowisata diorganisir ke dalam beberapa kelompok. Masing-masing kelompok akan mendapat pelatihan yang berbeda sesuai dengan bidang kerjanya masing-masing. Kelompok-kelompok tersebut terdiri dari:
- Kelompok Pemandu Wisata, yaitu anggota masyarakat yang dilatih untuk menjadi Pemandu Ekowisata, pelatihan yang diberikan mencakup bahasa Inggris tingkat dasar, tingkat menengah sampai kepada tingkat mahir. Disamping itu mereka juga diberi pelatihan mengenai Teknik Memandu, Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, Penyelamatan Di Air, dan Kesehatan Lingkungan.
- Kelompok Pengrajin, yaitu ibu-ibu didesa yang dilatih agar dapat membuat kerajinan yang berkualitas untuk dijual kepada wisman yang akan berkunjung ke desa. Kerajinan yang dikembangkan pada saat itu adalah kerajinan anyaman pandan yang merupakan bagian dari budaya masyarakat setempat sementara bahan bakunya, yaitu pohon pandan banyak tumbuh liar di desa.
- Kelompok Pembuat Makanan, yaitu ibu-ibu yang dilatih mengenai Teknik Produksi Makanan Sehat yang nantinya akan bertugas untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk disajikan atau dijual kepada wisman yang berkunjung ke desa.
- Kelompok Nelayan diberikan pelatihan mengenai Budi Daya Ikan di kolam terapung dan Teknik Penyelamatan di Air.
- Kelompok Petani diberikan pelatihan mengenai Pertanian Organik dan pembuatan kompos.
- Kelompok Penari diberikan pelatihan aneka tarian tradisioanal.
- Kelompok Operator dan Administrator Ekowisata, diberikan pelatihan mengenai management usaha kecil, sistem administrasi keuangan, bahasa Inggris, pemasaran ekowisata, pemberdayaan komunitas dan kegiatan study banding.
- Badan Pengurus Ekowisata, yaitu anggota masyarakat yang dipilih secara demokratis untuk menjadi pengurus ekowisata. Kepada mereka diberikan pelatihan mengenai pemberdayaan komunitas, management dan sistem keuangan usaha kecil.
Pelatihan-pelatihan di atas umumnya diberikan berkali-kali dan memakan waktu cukup lama bisa berbulan-bulan bahkan ada yang lebih dari satu tahun, seperti pelatihan untuk Pemandu Ekowisata. Disamping pelatihan-pelatihan tersebut di atas, kepada setiap anggota kelompok masyarakat yang terlibat juga diberikan penyuluhan mengenai Sadar Wisata dan Pengetahuan Umum Ekowisata.
Daftar pelatihan yang diberikan selama proyek pengembangan ekowisata di Bintan dapat dilihat di bevep_training_list.pdf.sumber:http://www.ekowisata.info/pelatihan_ekowisata.html
Kriteria Ekowisata
Perencanaan merupakan tahap awal dari pengembangan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Antisipasi dan regulasi dari peubahan yang akan terjadi dalam suatu sistem yang akan dikembangkan, dirancang atau disusun dalam perencanaan. Hal ini dilakukan dengan harapan bahwa pengembangan dapat meningkatkan keuntungan sosial, ekonomi dan lingkungan bagi setiap pelakunya. Proses perencanaan diharapkan terpadu, melibatkan semua pihak dan mengacu kepada rencana pengembangan lokal, regional dan nasional.
Adapun kriteria yang perlu diperhatikan pada tahap perencanaan ini meliputi:
1. Rencana pengembangan ekowisata harus mengacu pada rencana pengelolaan kawasan.
Rencana pengelolaan kawasan merupakan panduan tertulis pengelolaan habitat, kegiatan, peruntuka kawasan, pengorganisasian dan monitoring dalam rangka menjamin kelestarian fungsi kawasan. Pengembangan ekowisata yang merupakan salah satu kegiatan yang diperkenankan untuk dilakukan didalam kawasan taman nasional dan taman wisata alam, dengan demikian harus sesuai dengan rencana pengelolaan kawasan.
Indikator:
Rencana pengembangan ekowisata sesuai dengan rencana pengelolaan kawasan.
2. Memperhatikan kondisi ekologi/lingkungan.
Alam merupakan modal dasar penyelenggaraan ekowisata, untuk itu kriteria terhadap aspek ini menjadi sangat penting agar kegiatan ekowisata tidak menimbulkan dampak yang merusak kawasan Taman Nasional dan Taman Wisata Alam serta lingkungan sekitarnya. Yang harus diperhatikan adalah:
* Rona awal kondisi fisik, kimia, biologi dan wilayah yang akan dkembangkan menjadi obyek wisata.
* Perilaku satwa; ekowisata yang akan dikembangkan tidak akan merubah perilaku satwa.
* Perencanaan sarana dan prasarana harus direncanakan dengan seting alam setempat dan tidak memotong lintasan satwa/jalur satwa.
Indikator:
* Telah melakukan survey pendahuluan terhadap potensi keanekaragaman hayati.
* Rencana pengembangan ekowisata sesuai dengan hasil survey pendahuluan.
3. Memperhatikan daya tarik, keunikan alam dan prospek pemasaran daya tarik tersebut.
Pengemasan produk dan pemilihan obyek yang merupakan ciri khas dan daya tarik suatu wilayah pengembangan ekowisata harus terencana dengan baik dan variatif.
Indikator:
* Telah melakukan survey pendahuluan terhadap potensi budaya dan tradisi setempat serta melakukan struktur ekonomi masyarakat setempat.
* Rencana pengembangan ekowisata didasarkan pada survey pendahuluan.
4. Memperhatikan kondisi sosial, budaya dan ekonomi.
Pengetahuan tentang alam dan budaya serta daya tarik suatu wilayah dimiliki oleh masyarakat setempat. Oleh karena itu keterlibatan masyarakat pada tahap perencanaan akan sangat berpengaruh untuk keberlanjutan obyek dimaksud. Dengan melibatkan masyarakat secara aktif, masyarakat akan merasa memiliki obyek ekowisata tersebut.
Beberapa hal yang harus diperhatikan meliputi:
* Kegiatan ekowisata harus mampu memberdayakan masyarakat sekitar.
* Memperhatikan rona awal sosial, budaya dan ekonomi dari wilayah yang akan dikembangkan menjadi obyek.
* Membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi masyarakat sekitar.
* Merangsang/memotivator pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar.
Indikator:
* Telah melakukan survey awal terhadap permintaan pasar.
* Telah melakukan perhitungan nilai ekonomi dari prospek pengembangan ekowisata.
* Rencana pengembangan sesuai dengan hasil survey.
5. Tata Ruang
Kegiatan yang direncanakan harus memperhatikan tingkat pemanfaatan ruang dan daya dukung ruang yang tersedia bagi pengunjung, serta fasilitas umum yang memadai. Yang harus diperhatikan:
* Kualitas daya dukung lingkungan kawasan tujuan melalui pelaksanaan sistem pemintakatan (zonasi).
* Perencanaan pembangunan wilayah setempat; ekowisata yang akan dikembangkan harus terintegrasi dengan pembangunan wilayah setempat.
Indikator:
Rencana pengembangan ekowisata sesuai dengan rencana tata ruang wilayah propinsi/kabupaten/kota.
6. Melakukan analisis potensi dan hambatan yang meliputi analisis terhadap potensi sumberdaya dan keunikan alam, analisis usaha, analisis dampak lingkungan, analisis ekonomi (cost & benefit), analisis sosial dan analisis pemanfaatan ruang.
Indikator:
Telah melakukan analisis potensi dan hambatan yang meliputi analisis terhadap potensi sumberdaya dan keunikan alam, analisis usaha, analisis dampak lingkungan, analisis ekonomi (cost & benefit), analisis sosial dan analisis pemanfaatan ruang.
7. Menyusun Action Plan/Rancang Tindak Terintegrasi atas dasar analisis yang telah dilakukan.
Indikator:
Telah menyusun Action Plan/Rancang Tindak Terintegrasi atas dasar analisis yang telah dilakukan.
8. Melakukan Public Hearing/Konsultasi Publik terhadap rencana yang akan dikembangkan.
Indikator:
Telah melakukan public hearing/konsultasi publik terhadap rencana yang akan dikembangkan.
TAHAP PELAKSANAAN
Pengelolaan suatu obyek wisata di kawasan taman nasional dan taman wisata alam merupakan bagian dari strategi perlindungan alam. Dengan demikian, pengelolaan yang akan diterapkan harus sejalan dengan tujuan pengelolaan suatu kawasan konservasi. Kriteria yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
1. Mengelola obyek daerah tujuan ekowisata
Mengelola jumlah dan distribusi pengunjung serta mengatur periode kunjungan sesuai dengan daya dukung kawasan serta perilaku satwa.
Indikator:
* Jumlah pengunjung sesuai dengan daya dukung kawasan dan periode kunjungan.
* Tidak terjadi perubahan perilaku satwa.
* Meminimumkan dampak negatif yang ditimbulkan dengan kegiatan yang bersifat ramah lingkungan.
2. Pengembangan ekowisata harus mengikuti penetapan zonasi kawasan (hanya boleh dilakukan dalam zona pemanfaatan atau peruntukan kawasan).
Indikator:
Pengembanga ekowisata dilakukan pada zona yang diperkenankan.
3. Mengembangkan bisnis wisata
Melakukan pemasaran secara proporsional dan menjalin jejaring kerja (networking) dengan pasar regional, nasional dan internasional.
Indikator:
Pemasaran sudah tersebar di pasar regional, nasional dan internasional.
4. Mengembangkan produk-produk yang lebih bervariatif.
Indikator:
Terdapat banyak alternatif produk wisata.
5. Meningkatkan perlindungan terhadap konsumen.
Indikator:
Pengunjung merasa nyaman dan aman.
6. Membangun Kemitraan Membangun hubungan kemitraan dengan masyarakat, pengusaha dan pemerintah daerah dalam pengembangan obyek ekowisata.
Indikator:
* Tidak timbul keresahan di daerah.
* Melibatkan setiap stakeholder dalam menyusun kode etik.
7. Sumber Daya Manusia Meningkatkan kapasitas bagi pengelola dan pemandu serta masyarakat melalui pelatihan-pelatihan.
Indikator:
Tersedianya pengelola dan pemandu yang profesional.
TAHAP MONITORING DAN EVALUASI
Setelah tahap perencanaan dan pelaksanaan dilakukan secara taat dan konsisten, maka kriteria selanjutnya yang harus diperhatikan adalah Tahap Monitoring dan Evaluasi. Monitoring dan Evaluasi dilakukan secara periodik dan berkesinambungan pada masing-masing tahap kegiatan. Evaluasi merupakan umpan balik bagi tindakan atau rencana selanjutnya. Kriteria yang harus diperhatikan dalam tahapan monitoring dan evaluasi adalah:
1. Melakukan monitoring secara terintegrasi.
Indikator:
Monitor dilakukan secara terpadu lintas sektor antara Pemerintah Daerah, Pemangku Kawasan dan Masyarakat dengan mengembangkan sisem dan prosedur monitoring yang disepakati dan disesuaikan kondisi setempat.
2. Melakukan evaluasi terhadap setiap tahapan pelaksanaan.
Indikator:
* Terdapat jadwal (schedule) monitoring dan evaluasi.
* Memeriksa kembali apakah pelaksanaan telah sesuai dengan Rancang Tindak yang telah disepakati bersama.
* Melakukan langkah/aksi bila terjadi penyimpangan kearah yang tidak menguntungkan baik untuk kawasan itu sendiri atau wilayah setempat secara umum, pengelola maupun masyarakat.
* Melakukan perancangan ulang (re-design) secara terintegrasi apabila Rencana Tindak yang telah disusun pada saat perencanaan, karena satu dan lain hal menjadi tidak layak lagi diterapkan di lapangan (misal karena adanya perubahan kebijakan di daerah atau nasional yang membuat suatu langkah tindak tidak sesuai lagi).
sumber:http://www.ekowisata.info/kriteria_pengembangan-ekowisata2.html
Ekowisata di Bintan
Pulau Bintan merupakan pulau terbesar diantara pulau-pulau lainnya yang ada di propinsi termuda Indonesia, yaitu propinsi Kepulauan Riau. Letaknya sangat strategis karena berbatasan langsung dengan negara tetanga Singapore dan Malaysia. Jarak tempuh dari Singapore ke Tanjung Pinang hanya 2 jam dengan menggunakan Ferry. Bahkan bagian utara Pulau Bintan, yaitu Lagoi dapat ditempuh hanya dalam waktu 55 menit. Karena letaknya yang strategis, sudah sejak lama Bintan menjadi pusat perdagangan dan pariwisata. Pariwisata semakin berkembang ketika diterapkannya kebijakan bebas visa bagi wisman asal negara Asean, seperti Singapore dan Malaysia.
Setiap tahun Pulau Bintan dikunjungi oleh sekitar 500 ribu orang wisatawan mancanegara. Ada dua tujuan wisata di Bintan, yaitu Tanjung Pinang yang menjadi ibu kota propinsi Kepulauan Riau dan Kawasan Wisata Internasional Lagoi, Kab. Bintan yang terletak di utara P. Bintan. Wisman yang datang ke Tanjung Pinang di dominasi oleh turis dari Singapore dan Malaysia, umumnya mereka datang untuk berbelanja (shopping) atau mencari hiburan semata. Sedangkan turis yang datang ke Kawasan Wisata Lagoi lebih beragam, biasanya mereka datang dengan tujuan untuk berlibur, bulan madu atau berolah raga, khususnya golf.
Banyaknya jumlah wisman yang berkunjung ke P. Bintan memang telah meningkatkan perekonomian dan menciptakan banyak lapangan kerja. Pariwisata menjadi tulang punggung penggerak roda perekonomian dan menjadi salah satu sumber pendapatan utama pemerintah setempat, khususnya penerimaan dari pajak hotel dan restaurant. Namun, sayangnya hiruk pikuk dan gemerlap pariwisata ini belum bisa dinikmati sepenuhya oleh penduduk asli, mereka kalah bersaing dengan pendatang yang umumnya memiliki keuletan, keterampilan dan pendidikan yang relatif lebih baik dari penduduk lokal.
Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat lokal dalam bidang pariwisata, pada tahun 2002 digulirkan proyek pengembangan ekowisata berbasis komunitas dengan nama Bintan Ecotourism Venture Project (BEVEP) yang dibiayai oleh multi lembaga, yaitu Department for International Development (DFID, Inggris), PEMDA Kab. Bintan dan PT Bintan Resort Cakrawala selaku pengelola kawasan wisata Lagoi. Proyek selama 3 tahun ini dilaksanakan di dua desa yang letaknya bersinggungan dengan kawasan wisata Lagoi, yaitu Desa Sebong Lagoi dan desa Sribintan, Kecamatan Teluk Sebong, Kab. Bintan. BEVEP bertujuan untuk memberikan alternatif pendapatan dengan menjadi pelaku pariwisata di desanya masing-masing. Tujuan lain yang hendak dicapai dalam proyek ini adalah menjaga kelestarian lingkungan dan mempromosikan budaya Melayu Riau.
Kegiatan utama Proyek Ekowisata berbasis komunitas ini adalah meningkatkan keterampilan penduduk lokal dalam bidang pariwisata melalui serangkaian kegiatan pelatihan yang relevan. Kegiatan lain adalah memperbaiki infrastruktur desa serta membangun berbagai sarana pariwisata yang diperlukan. Dengan di bantu konsultan ahli dalam dan luar negeri kemudian di rancang beberapa produk ekowisata sesuai dengan potensi yang ada di kedua desa tersebut. Setelah melakukan beberapa kali uji pasar dan justifikasi, akhirnya produk ekowisata siap untuk dipasarkan. Seluruh kegiatan proyek dari mulai perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat setempat. Lebih jauh lihat Proyek Bevep.
Usaha ekowisata ini selanjutnya dioperasikan oleh masyarakat setempat melalui wadah organisasi Yayasan Ekowisata yang telah dibentuk sebelumnya di setiap desa. Produk ekowisata yang dijual antara lain Ekowisata Memancing Tradisional di Sungai Sebong, Ekowisata Mendaki Gunung Bintan, Ekowisata Budaya Desa, Ekowisata Bersepeda Melintasi hutan, pantai, perkebunan dan kawasan pemukiman, Ekowisata Memancing ke Tengah Laut, Ekowisata Menjelajah Desa dengan Bersepeda, dsb. Pangsa pasar ekowisata adalah wisman yang berkunjung ke kawasan wisata Lagoi. Kegiatan promosi dan pemasaran dilakukan oleh PT Bintan Resort Cakrawala yang merupakan mitra kerja Yayasan Ekowisata.
sumber:http://www.ekowisata.info/ekowisata_bintan.html
Konsep Ekowisata
Indonesia sebagai negara megabiodiversity nomor dua di dunia, telah dikenal memiliki kekayaan alam, flora dan fauna yang sangat tinggi. Para explorer dari dunia barat maupun timur jauh telah mengunjungi Indonesia pada abad ke lima belas vang lalu.
Perjalanan eksplorasi yang ingin mengetahui keadaan di bagian benua lain telah dilakukan oleh Marcopollo, Washington, Wallacea, Weber, Junghuhn dan Van Steines dan masih banyak yang lain merupakan awal perjalanan antar pulau dan antar benua yang penuh dengan tantangan. Para adventnrer ini melakukan perjalanan ke alam yang merupakan awal dari perjalanan ekowisata. Sebagian perjalanan ini tidak memberikan keuntungan konservasi daerah alami, kebudayaan asli dan atau spesies langka (Lascurain, 1993).
Pada saat ini, ekowisata telah berkembang. Wisata ini tidak hanya sekedar untuk melakukan pengamatan burung, mengendarai kuda, penelusuran jejak di hutan belantara, tetapi telah terkait dengan konsep pelestarian hutan dan penduduk lokal. Ekowisata ini kemudian merupakan suatu perpaduan dari berbagai minat yang tumbuh dari keprihatinan terhadap lingkungan, ekonomi dan sosial. Ekowisata tidak dapat dipisahkan dengan konservasi. Oleh karenanya, ekowisata disebut sebagai bentuk perjalanan wisata bertanggungjawab.
Belantara tropika basah di seluruh kepulauan Indonesia merupakan suatu destinasi. Destinasi untuk wisata ekologis dapat dimungkinkan mendapatkan manfaat sebesarbesarnya aspek ekologis, sosial budaya dan ekonomi bagi masyarakat, pengelola dan pemerintah.
Ekowisata merupakan suatu bentuk wisata yang sangat erat dengan prinsip konservasi. Bahkan dalam strategi pengembangan ekowisata juga menggunakan strategi konservasi. Dengan demikian ekowisata sangat tepat dan berdayaguna dalam mempertahankan keutuhan dan keaslian ekosistem di areal yang masih alami. Bahkan dengan ekowisata pelestarian alam dapat ditingkatkan kualitasnya karena desakan dan tuntutan dari para eco-traveler.
Dikutip dari tulisan yang dibuat oleh Chafid Fandeli yang bersumber pada Buku Pengusahaan Ekowisata (2000), Chafid Fandeli., Mukhlison., Fakultas Kehutanan Univ. Gadjah Mada Yogyakarta
sumber:http://www.ekowisata.info/konsep_ekowisata.html
Definisi Ekowisata
Rumusan 'ecotourism' sebenarnya sudah ada sejak 1987 yang dikemukakan oleh Hector Ceballos-Lascurain yaitu sbb:
"Nature or ecotourism can be defined as tourism that consist in travelling to relatively undisturbed or uncontaminated natural areas with the specific objectives of studying, admiring, and enjoying the scenery and its wild plantas and animals, as well as any existing cultural manifestations (both past and present) found in the areas."
"Wisata alam atau pariwisata ekologis adalah perjalanan ketempat-tempat alami yang relatif masih belum terganggu atau terkontaminasi (tercemari) dengan tujuan untuk mempelajari, mengagumi dan menikmati pemandangan, tumbuh-tumbuhan dan satwa liar, serta bentuk-bentuk manifestasi budaya masyarakat yang ada, baik dari masa lampau maupun masa kini."
Rumusan di atas hanyalah penggambaran tentan kegiatan wisata alam biasa. Rumusan ini kemudian disempurnakan oleh The International Ecotourism Society (TIES) pada awal tahun 1990 yaitu sebagai berikut:
"Ecotourism is responsible travel to natural areas which conserved the environment and improves the welfare of local people."
"Ekowisata adalah perjalanan yang bertanggung jawab ketempat-tempat yang alami dengan menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahtraan penduduk setempat”.
Definisi ini sebenarnya hampir sama dengan yang diberikan oleh Hector Ceballos-Lascurain yaitu sama-sama menggambarkan kegiatan wisata di alam terbuka, hanya saja menurut TIES dalam kegiatan ekowisata terkandung unsur-unsur kepedulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan kesejahtraan penduduk setempat. Ekowisata merupakan upaya untuk memaksimalkan dan sekaligus melestarikan pontensi sumber-sumber alam dan budaya untuk dijadikan sebagai sumber pendapatan yang berkesinambungan. Dengan kata lain ekowisata adalah kegiatan wisata alam plus plus. Definisi di atas telah telah diterima luas oleh para pelaku ekowisata.
Adanya unsur plus plus di atas yaitu kepudulian, tanggung jawab dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan peningkatan kesejahtraan masyarakat setempat ditimbulkan oleh:
1. Kekuatiran akan makin rusaknya lingkungan oleh pembangunan yang bersifat eksploatatif terhadap sumber daya alam.
2. Asumsi bahwa pariwisata membutuhkan lingkungan yang baik dan sehat.
3. Kelestarian lingkungan tidak mungkin dijaga tanpa partisipasi aktif masyarakat setempat.
4. Partisipasi masyarakat lokal akan timbul jika mereka dapat memperoleh manfaat ekonomi ('economical benefit') dari lingkungan yang lestari.
5. Kehadiran wisatawan (khususnya ekowisatawan) ke tempat-tempat yang masih alami itu memberikan peluas bagi penduduk setempat untuk mendapatkan penghasilan alternatif dengan menjadi pemandu wisata, porter, membuka homestay, pondok ekowisata (ecolodge), warung dan usaha-usaha lain yang berkaitan dengan ekowisata, sehingga dapat meningkatkan kesejahtraan mereka atau meningkatkan kualitas hidpu penduduk lokal, baik secara materiil, spirituil, kulturil maupun intelektual.
Sedangkan pengertian Ekowisata Berbasis Komunitas (community-based ecotourism) merupakan usaha ekowisata yang dimiliki, dikelola dan diawasi oleh masyarakat setempat. Masyarakat berperan aktif dalam kegiatan pengembangan ekowisata dari mulai perencanaan, implementasi, monitoring dan evaluasi. Hasil kegiatan ekowisata sebanyak mungkin dinikmati oleh masyarakat setempat. Jadi dalam hal ini masyarakat memiliki wewenang yang memadai untuk mengendalikan kegiatan ekowisata.
sumber:http://www.ekowisata.info/definisi_ekowisata.html
Daftar Burung Langka Bertambah karena Hutan dirambah
Menurut pakar satwa burung LIPI tersebut, perambahan hutan, perburuan, dan juga polusi udara di sejumlah tempat di Indonesia sangat berpengaruh pada populasi jenis-jenis burung tertentu.
Tahun ini burung pelatuk kelabu besar atau Great slaty woodpecker yang dulu banyak ditemukan di Jawa, Kalimantan dan Sumatera sudah masuk dalam daftar satwa yang terancam punah. BirdLife dan IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources) baru-baru ini merilis peningkatan status ancaman bagi burung yang bernama latin Mulleripicus pulverulentus itu dari "least concern" menjadi "vulnerable" atau rentan terhadap kepunahan.
Dewi Prawiradilaga mengatakan, jenis pelatuk ini masih dapat ditemukan antara lain di kepulauan Riau dengan jumlah terbatas. Namun jika perburuan dan perambahan hutan tetap marak, dikhawatirkan satwa ini bakal punah. "Padahal keberadaan satwa burung tersebut, termasuk salah satu indikator hutan primer yang baik kondisinya," katanya.
Penyebaran jenis pelatuk kelabu besar ini cukup luas, meliputi Asia Selatan, Asia Tenggara dan sebagian China. Di perkirakan saat jumlah burung ini ada sekitar 26 ribu hingga 500 ribu ekor, namun jumlah tersebut cenderung menurun.
Dr Dewi juga mengingatkan bahwa selain pelatuk kelabu besar, terdapat sejumlah jenis burung lainnya di Indonesia yang bisa masuk dalam "daftar merah" IUCN, karena marak diperjual-belikan.
"Saya melihat saat ini orang makin pintar menangkap burung di hutan-hutan untuk dijual. Misalnya burung madu (collibry) dan burung penghuni tajuk pohon (kanopi) yang banyak dijual di daerah Jawa Timur," katanya.
Burung kanopi, atau sering disebut burung sepah, sebenarnya tergolong burung yang sulit ditangkap karena lebih sering berada di pucuk pohon-pohon tinggi.
Namun ternyata burung ini pun banyak yang ditangkap.Ini cukup memprihatinkan," kata Dewi yang menekuni penelitan terhadap satwa burung dan meraih doktor dari Australian National University tahun 1997 itu. (ANT/A038)
sumber: http://antaranews.com/berita/1275373547/hutan-dirambah-daftar-burung-langka-bertambah
Penemuan Burung Langka di Kalimantan Barat

KETAPANG, KOMPAS.com - Komunitas Burung Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat kembali menemukan burung langka di kabupaten itu yang dikenal sebagai Gajahan Timur atau dengan nama latin Numenius madagascariensis atau Far Eastern curlew.
Menurut Abdurahman Al Qadri dari Komunitas Burung Ketapang, Minggu (11/7/2010), mengatakan, burung Gajahan Timur tersebut ditemukan di tepi pantai Dusun Segak, Desa Sei Jawi, Kecamatan Matan Hilir arah selatan Ketapang.
“Saya bersama peneliti burung Indonesia dari Belanda berhasil mengabadikan burung air tersebut yang suka mencari makan di tepi pantai yang berlumpur,” katanya.
Sementara itu, pengamat burung dari Belanda Dr Bas Van Balen menjelaskan, belum ada catatan mengenai penemuan burung Gajahan Timur atau Numenius madagascariensis di Kalimantan Barat.
Penemuan itu, kata dia, menghapus teori tentang burung Berkik di Kalimantan Barat. Ia menambahkan, temuan burung langka itu menjadi perhatian para pengamat burung se-Indonesia. “Menarik diteliti hasil temuan dari Komunitas Burung Ketapang itu,” katanya menambahkan.
Sedangkan Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Ketapang Yudo Sudarto mengatakan, temuan komunitas itu sangat mengejutkan para pengamat burung nasional maupun internasional.
“Kami berharap kekayaan dan keanekaragaman flora dan fauna Kabupaten Ketapang menjadi magnet tersendiri bagi turis lokal dan mancanegara dalam mempromosikan pariwisata daerah Ketapang,” katanya.
Ditambahkannya, hobi mengamati burung di Ketapang memang baru, dan diharapkan dapat menambah ilmu dan wawasan dan ilmu pengetahuan dalam pelestarian lingkungan hidup.
sumber: http://regional.kompas.com/read/2010/07/11/07140876/Burung.Langka.Ditemukan.di.Ketapang-5
Friday, October 15, 2010
Seribu Burung Langka Menghuni Ujungkulon
Populasi burung langka di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) mencapai seribu ekor dari 17 spesies. Kelestarian mereka membutuhkan pengamanan meski pelaku pemburuan ditangkap pada beberapa hari lalu.
"Saat ini kami mengintensifkan pengamanan karena khawatir burung yang dilindungi itu terancam punah," kata Humas Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Kabupaten Pandeglang, Banten, Enjat Sudrajat, Sabtu.
Menurut dia, hingga saat ini pemburuan burung langka masih berlanjut dan dilakukan dengan cara menjebak atau memberikan getah di atas pohon.
"Saya setiap hari terus melakukan pengawasan di titik-titik rawan pemburuan seperti di blok perbatasan dengan pemukiman warga," katanya.
Hasil pemburuan dijual ke Jakarta. Burung Merak dijual dengan harga antara Rp1,5 sampai Rp3 juta, burung Rangkong bisa mencapai Rp3 juta.
"Kelebihan burung itu selain memiliki warna-warni bulu juga bunyi kicauannya sangat merdu," kata Enjang.
Pengamanan juga diberlakukan untuk satwa langka lainnya seperti banteng, macan tutul, badak jawa bercula satu maupun penyu.
Sementara itu, Kelompok Pencinta Alam dan Pelestarian Sumber Daya Alam, Kabupaten Pandeglang, Ade Supriyadi (45), mengatakan, pihaknya meminta petugas TNUK bertindak tegas terhadap pemburuan binatang-binatang langka di dunia termasuk burung.
"Saya berharap petugas TNUK lebih mengoptimalkan pengamanan, karena belum lama ini dua pelaku pemburuan macan tutul ditangkap polisi. Pelaku itu kini sedang menjalani proses hukuman penjara," ujar Ade Supriyadi.
sumber:http://www.ekowisata.co.cc/2009/08/seribu-burung-langka-menghuni.html
Mengelola Taman Nasional dengan Ekowisata
Potensi berupa kekayaan flora dan fauna di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) pada dasarnya tidak haram untuk dimanfaatkan. Namun, langkah-langkah eksploitasi itu harus selaras dengan misi di atas, yakni konservasi alam dan lingkungan. Satu model eksploitasi yang kini tengah dirancang Balai TNUK adalah ekowisata.
Sebuah model pemanfaatan alam untuk kegiatan wisata berbasis lingkungan. Hasilnya, jika pengembangan ekowisata berjalan, seperti bunyi pepatah, “sekali mendayung, dua-tiga pulau terlampaui”. Di satu sisi misi konservasi terpenuhi, di sisi lain manfaat ekonomis bisa diperoleh.
Dalam hal ini, kawasan TNUK sangat potensial untuk pengembangan ekowisata. Ada sekitar 33 tempat potensial yang bisa dimanfaatkan untuk obyek ekowisata. Sebanyak 10-15 tempat di antaranya kini sudah menjadi obyek wisata.
Sebutlah, misalnya, Pulau Peucang, padang penggembalaan (grazing ground) di Cidaun, Cibom, Tanjung Layar, Pulau Panaitan, Sungai Cigenter, jalur selatan Karang Ranjang-Cibandawoh-Cibunar-Cidaun untuk trekking, wisata ziarah di Sanghiang Sirah, Pulau Handeuleum, dan air panas Cibiuk.
Potensi alam tersebut menawarkan berbagai alternatif jenis wisata. Seperti yang selama ini ditawarkan Balai TNUK, bentuk wisata di darat meliputi penjelajahan (trekking), fotografi (photo hunting), menikmati burung (bird watching), dan pengamatan kehidupan satwa liar.
Untuk wisata bahari, bentuk yang difasilitasi seperti menyelam (diving), snorkeling, berselancar (surfing), mendayung (canoing), memancing, dan rekreasi pantai. Dalam hal potensi selancar, perairan Pulau Panaitan disebut-sebut sebagai salah satu dari tiga tempat terbaik di dunia untuk hobi itu.
Semua potensi tersebut jika dikembangkan dengan tepat akan menghasilkan pundi-pundi uang tanpa merusak alam.
Kepala Balai TNUK M Awriya Ibrahim memaparkan, pengembangan ekowisata di Ujung Kulon tidak terlepas dari cita-cita untuk mendapatkan dana yang berkesinambungan (sustainable funding).
Selama ini pengelolaan kawasan TNUK masih mengandalkan dana dari pemerintah dan bantuan dari luar negeri. Pengelolaan yang selama ini dilakukan Balai TNUK adalah pengelolaan badak jawa, pengelolaan primata, pengelolaan perairan laut, pengelolaan daerah penyangga, dan pengelolaan wisata.
“Dengan sustainable funding dari ekowisata, kita bisa melakukan pengelolaan taman nasional,” paparnya. Berbagai program pengelolaan tersebut hingga kini belurn berjalan optimal akibat keterbatasan dana. Pengelolaan badak jawa melalui sensus, misalnya, hanya bisa digelar setahun sekali. Idealnya, sensus badak itu dilakukan tiga kali dalam setahun.
Menurut peneliti di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Moh Ali Fadillah, pemanfaatan alam di kawasan TNUK hanya tepat jika dilakukan melalui ekowisata. “Hanya dengan ekowisata itu pemanfaatan alam tidak meninggalkan dampak lingkungan dan bisa diperbaharui terus-menerus,” ujarnya.
PENGELOLAAN wisata pun belum maksimal. Awriya mengakui, banyak dari tempat-tempat potensial itu belum tergarap karena keterbatasan dana. Ia mencontohkan Pulau Panaitan yang sampai sekarang belum dilengkapi dermaga.
Kurang maksimalnya pengelolaan juga membuat banyaknya potensi wisatawan yang hilang. Diperkirakan, hilangnya potensi wisatawan itu mencapai empat kali lipat dari angka kunjungan riil. Awriya menyebutkan, kunjungan wisatawan ke TNUK setahun terakhir mencapai 4.500 orang.
Hilangnya potensi wisatawan itu terjadi akibat banyaknya pintu masuk ke TNUK sehingga banyak pula pengunjung yang lolos tanpa bisa dikontrol. Akses perjalanan ke kawasan TNUK nyaris tersebar di sepanjang pantai barat wilayah Banten. “Bahkan, dari Ancol (Jakarta—Red) pun bisa masuk ke Panaitan,” kata Awriya
Krisis ekonomi tahun 1998 menjadi penyebab lain dari rendahnya kunjungan wisatawan. Kepala Resor Wisata Pulau Peucang Suhaeli mengungkapkan, sebelum krisis ekonomi, angka kunjungan wisata ke Pulau Peucang rata-rata 600 orang per bulan. “Tetapi, setelah krisis cukup berat, hanya antara 10-20 orang per bulan,” ungkapnya.
Dari sisi kepentingan konservasi, semakin sedikit kunjungan boleh jadi akan semakin baik sebab akan semakin kecil pula dampak terhadap alam yang mungkin timbul akibat kunjungan wisata. Akan tetapi, ketika pengelolaan TNUK membutuhkan dana yang terus mengucur, tidak ada jalan lain kecuali mengoptimalkan ekowisata.
Project Officer World Wide Fund for Nature (WWF) Ujung Kulon Aji Santoso optimistis, hasil pengelolaan ekowisata yang tepat akan mampu menutup biaya pengelolaan TNUK secara keseluruhan. Namun, ia menggarisbawahi bahwa keterlibatan masyarakat sekitar kawasan TNUK dalam pengembangan ekowisata merupakan hal yang tidak bisa ditawar.
Pelibatan masyarakat dalam ekowisata di Ujung Kulon merupakan bagian dari langkah konservasi badak terpadu (an integrated rhyno conservation). Strategi itu akan melengkapi pemberdayaan masyarakat yang sudah berlangsung, baik oleh Balai TNUK maupun LSM seperti WWF.
Konkretnya, masyarakat dilibatkan sebagai tenaga pemandu (tour guide), operator wisata, atau juga penyedia makanan. Menurut Aji, cukup realistis untuk mengandalkan biaya pengelolaan TNUK dari ekowisata.
“Cuma belum terlihat adanya studi tentang berapa kapasitas yang bisa ditampung, kemampuan daya dukung, cashflow-nya, serta break event-nya,” ujarnya.
Pengembangan ekowisata sebaiknya mempertimbangkan fleksibilitas dalam akses. Alih-alih membatasi akses masuk ke kawasan TNUK dengan melalui satu pintu di kantor Balai TNUK Labuan, wisatawan mungkin lebih pas jika diberi keleluasaan memilih pintu masuk.
Namun, langkah ini menuntut kesiapan administrasi di tiap-tiap pos jaga sebagai kepanjangan kantor Balai TNUK. “Terkecuali jika kunjungan itu untuk keperluan dokumentasi atau pengambilan gambar, hal itu tetap harus lewat satu pintu di Labuan,” ujarAji.
SATU hal lainnya yang penting dalam pengembangan ekowisata di TNUK adalah peran pemerintah daerah dan pihak swasta, seperti Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Himpunan Pramuwisata Indonesia (PHI), dan Asosiasi Perusahaan Biro Wisata (Asita).
Menurut pemerhati wisata Banten, M Iwan Nitnet, peran birokrasi dan swasta dalam urusan pariwisata beberapa tahun terakhir nyaris tak terdengar. Kalaupun ada, peran itu sering tumpang tindih atau tidak ada koordinasi. Ia mencontohkan, buruknya sarana jalan ke Taman Jaya, Ujung Kulon, hingga kini belum ada upaya perbaikan.
“Dana-dana untuk promosi yang menjadi wewenang pemerintah provinsi akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk memperbaiki sarana jalan dulu. Hasilnya akan membuat pengunjung kecewa jika setelah promosi ternyata prasarana fisik itu tidak memadai,” ungkap Iwan.
Pelibatan masyarakat sekitar kawasan TNUK sebagai bagian dari pengelolaan ekowisata seharusnya difasilitasi HPI atau Asita dengan memberikan pelatihan-pelatihan di bidang pariwisata. Pendek kata, upaya pengelolaan ekowisata sebagai alternatif pemanfaatan potensi alam TNUK memerlukan keterpaduan semua pihak. (SAM)
sumber:http://www.ekowisata.co.cc/2009/08/mengelola-taman-nasional-dengan.html










